<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>School Quality Culture as a Means of Shaping Students' Morals</article-title>
        <subtitle>Budaya Mutu Sekolah sebagai Sarana Pembentukan Akhlak Peserta Didik</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-d1dfd00a2c464f49944a0b7a4f6c9d23" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-cf7097788857c03daf7a9a413203a52b" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-13700f02eae1b7243a6535ef4de29c34">
      <title>
        <bold id="bold-c53121f1b35304718fb4bb5c8b00ac19">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi sebuah negara sehingga pendidikan menjadi hak seluruh warga negara agar mendapatkan pendidikan yang baik. Seperti yang tertera pada UU No. 20 Tahun 2003 yang berisikan tentang bagaimana Sistem Pendidikan Nasional: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (Di et al., 2023)</p>
      <p id="_paragraph-5">Budaya mutu sekolah adalah segala sesuatu yang sifatnya ditekankan dengan sebuah konsep dan diterapkan keseluruh aspek kegiatan suatu kelompok. Dasar dari mutu itu sendiri adalah pengembangan layanan dan juga pengembangan program, budaya mutu sekolah ini jika kegiatannya berkembang dengan baik maka hal ini juga dapat mempengaruhi kualitas mutu dalam kegiatan akademik, non akademik, menghasilkan lulusan pelajr yang kreatif, inovatif, bertanggung jawab dan memiliki sopan santun serta tata krama yang mumpuni. Budaya mutu yang berada disekolah biasanya berbentu sebuah tata tertib, norma, aturan yang digunakan untuk mengatur dan mendisiplinkan seluruh warga sekolah(Dwi &amp; Sholeh, n.d.).</p>
      <p id="_paragraph-6">Akhlak yang sering juga dikenal sebagai watak, budi pekerti atau juga etika yang digunakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ulama mengemukakan penjelasan tentang akhlak. Al Ghazali mengemukakan bahwa akhlak merupakan kualitas kehidupan yang berakar pada jiwa seseorang yang nanytinya memunculkan respon terhadap sesuatu yang sedang dihadapi, respon tersebut juga terjadi secara spontan dimana tidak memerlukan pertimbangan atau pemikiran. Adapun penjelasan yang dikemukakan oleh Al-Faidh Al-Kasyani, akhlak adalah sebuah gambaran jiwa yang akan menghasilkan sebuah tindakan atau perilaku tanpa memerlukan pemikiran dan juga perenungan(Nurdiana, 2022)</p>
      <p id="_paragraph-7">Selain kurikulum dan metode pendidikan pembentukan akhlak juga harus didukung oleh lingkungan sekolah yang baik yaitu bagaimana kondisi peserta didik, kematangan peserta didik, juga seluruh tenaga pendidik dan staff. Karena peserta didik merupakan objek yang masih perlu bimbingan dan contoh teladan dari orang lain menjadi gambaran yang akan dianut peserta didik nantinya.(Lubis, 2022)</p>
      <p id="_paragraph-8">Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan pada tahun 2023 yang berjudul upaya lembaga pendidikan dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter untuk membentuk akhlak peserta didik di MA Al-Muhajirin Tugumulyo. Hasil dari penelitiannya terdapat karakter yang yang mendukung pembentukan akhlak peserta didik antara lain: religius, disiplin, dan bertanggung jawab. Karakter religius merupakan sikap religius kepada Allah SWT dengan cara taat dan patuh, religius terhadap orang tua yakni dengan berbakti kepada orang tua, dan religius terhadap guru dengan cara menghormatinya. Karakter disiplin kepada Allah SWT dengan cara beribadah tepat waktu, displin kepada orang tua yakni mematuhi segala perintah orang tua, dan disiplin terhadap guru dengan cara mengikuti pembelajaran dengan baik. Karakter tanggung jawab yaitu bertanggung jawab terhadap Allah SWT dengan cara menghindari larangan dan mematuhi perintahNya, tanggung jawab terhadap orang tua yakni berbakti dan patuh, dan tanggung jawab terhadap guru adalah dengan cara patuh dengan perintah guru.(Di et al., 2023)</p>
      <p id="_paragraph-9">Penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun 2024 dalam jurnal yang berjudul peran guru pendidikan agama islam dalam pembentukan akhlak siswa di SMA Al Irsyad kota Tegal, hasil penelitiannya adalah guru PAI memiliki peran penting selain mengajarkan ilmu agama menggunakan teori namun juga dengan memberika contoh atau keteladanan dalam membimbing peserta didik..(Jumiati, 2018). Dengan begitu menunjukkan bahwa guru PAI saja yang memiliki tanggung jawab penuh dalam upaya pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai serta akhlak peserta didik. Sedangkan penelitian ini melihat bagaimana keseluruhan warga sekolah dalam melaksanakan kebijakan budaya mutu upaya pembentukan akhlak yang menjadi kewajiban setiap warga sekolah</p>
      <p id="_paragraph-10">Hingga saat ini banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar menjadi lebih baik kedepannya. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sudah mengalami penurunan yang sangat signifikan sehingga menuntut dimulai pada tahun 2015 sampai 2018, pelajar Indonesia menduduki tingkat terendah dan berada di peringkat 10. Dari kasus diatas juga dipengaruhi oleh berbagai macam hal yang menjadi faktor terjadinya penurunan kualitas yang dimiliki oleh pelajar di Indonesia seperti pengaruh psikologi sosial yang di mana masih sering terjadi kasus perundungan yang dilakukan oleh pelajar Indonesia baik perundungan dalam bentuk verbal maupun non verbal.(Dwi &amp; Sholeh, n.d.)</p>
      <p id="_paragraph-11">Penanaman nilai-nilai melalui budaya mutu sekolah sebagai upaya untuk memperbaiki akhlak atau karakter sangat bermanfaat bagi peserta didik yakni mampu menumbuhkan potensi diri dan juga interaksi kelompok(Hafidz et al., 2022). Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan di SMP Negeri 1 Masaran mendapati kondisi lingkungan sekolah yang memiliki beberapa permasalahan juga masih menjamur seperti mendapati peserta didik membolos saat kegiatan pembelajaran berlangsung, membolos dan merokok di parkiran, sehingga menuntut kepala sekolah untuk selalu melakukan evaluasi dan perencanaan baru untuk menghadapi permasalahan tersebut yaitu dengan memaksimalkan peningkatan budaya mutu dan pengadaan ekstrakurikuler disekolah tersebut agar menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan terarah dari segi agama, akhlak, membantu dalam pembentukan karakter setiap peserta didik dan juga potensi non akademik yang dimiliki peserta didik. Hal ini menjadi alasan penelitian yaitu untuk mengetahui apa saja kegiatan dan upaya untuk pembentukan akhlak di SMP Negeri 1 Masaran.</p>
      <p id="_paragraph-12">Usaha untuk menanamkan karakter yang baik setiap sekolah memiliki budaya mutu, budaya mutu ada dua faktor yang terlibat, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal mencakup hal-hal yang sudah menjadi bagian dari setiap individu dan tercermin dalam kebiasaan, ide, prosedur, dan hasil pembelajaran nilai-nilai. Faktor eksternal yaitu karena terdapat faktor-faktor lain dari luar yang membantu mengubah beberapa hal atau nilai yang tertanam seperti dari pengaruh dari sebuah kepemimpinan, pengaruh dari lingkungan(Said, 2019a). Dalam mempertahankan kualitas sumber daya dari sekolah diperlukannya budaya mutu sekolah, budaya mutu sekolah merupakan sistem atau aturan yang diikuti seluruh warga sekolah yang memiliki karakteristik tertentu yang terbentuk dari perpaduan nila-nilai, pemahaman, dan kebiasaan(Said, 2019b). Penerapan budaya mutu tiap sekolah memiliki program yang berbeda, tujuan dari diadakannya budaya mutu disekolah adalah untuk menanamkan nilai-nilai, disiplin, etika dan menjaga agar lingkungan sekolah tetap kondusif. Dari paparan tersebut, maka fokus dari penelitian ini ialah penerapan budaya mutu dalam upaya pembentukan akhlak. Sedangkan tujuannya dari penelitian ini agar peneliti mengetahui apa saja kegiatan budaya mutu yang dilakukan di sekolah tersebut dalam upaya menangani permasalahan yang muncul, menanamkan nilai-nilai dan mendidik akhlak peserta didik.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-0b58ed8cbafbb93ca5add46bfc7afd00">
      <title>
        <bold id="bold-67509a5a4b9a765bc3edaf23aa9a5c83">METODE</bold>
      </title>
      <sec id="heading-e1a96f6112a2fc77ba3f8fbcda0a43b7">
        <title>A. Jenis Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-15">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, kualitatif merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara menganalisis lalu menjelaskan sebuah permasalahan atau fenomena yang terjadi dalam sebuah kelompok maupun dalam lingkup individu, penelitian ini juga menggunakan persepsi sehingga penelitian ini didasari oleh asumsi begitu dengan judul yang penulis ambil berkenaan dengan fenomena kelompok yang dalam asumsi penulis sudah sangat sering terjadi di tempat lain termasuk tempat narasumber yang di teliti oleh penulis, sehingga penulis mengambil salah satu tempat sebagai sample namun tidak dapat mewakili populasi namun hasilnya dapat menjadi gambaran penulis untuk kedepannya dan sebagai pembelajaran. Untuk mendapatkan informasi penulis melakukan inrterview kepada narasumber dan melakukan observasi dari data yang didapat dari narasumber untuk dianalisis.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-c12c09c5a34991d43e33d476f24b9c28">
        <title>B. Pendekatan Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-17">Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, yang merupakan jenis penelitian yang dilakukan pada "sistem tertentu," seperti program, peristiwa, kegiatan, atau kelompok individu yang memiliki hubungan dalam konteks tertentu baik itu tempat maupun waktu.Arah dari metode ini adalah untuk mengumpulkan data, menghimpun makna, dan mendapatkan pemahaman dari kasus yang diambi(Wekke, 2019). Hasil dari data salah satu studi kasus tidak dapat mewakili populasi lainnya ataupun menyamaratakan kasus dengan tempat lain yang memiliki kativitas kelompok individu yang sama sehingga hasil dari kesimpulan suaru studi kasus hanya dapat digunakan untuk studi kasus ditempat yang diteliti saja, karena meskipun berdasarkan asumsi penulis kasus yang diambil bisa saja terjadi ditempat lain namun tidak dapat diwakili hanya dengan satu sample dan disamakan karena setiap kasus akan memiliki perbedaan karakteristik, ciri khas satu sama lain.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-3faf07a24838f869691aa356f343bdf5">
        <title>C. Metode Pengumpulan Data</title>
        <p id="_paragraph-19">Dalam penelitian ini metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung di lokasi studi kasus. Pengamatan dilakukan dengan cara memperhatikan dan mencatat semua kejadian atau fenomena yang sedang diselidiki. Penulis melakukan pengamatan partisipatif namun dengan sikap yang lebih pasif.yang artinya penulis hanya mengamati gejala yang terjadi tanpa ikut serta dalam kegiatan. Lalu melakukan wawancara kepada narasumber dengan tujuan untuk mendapatkan informasi.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-e1056c62f74bcafd3b54cad0d0137c5a">
        <title>D. Waktu dan Tempat Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-21">Penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 Mei 2025 di SMP Negeri 1 Masaran yang terletak di Jl. Raya Solo-Sragen KM.11. Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah, yaitu Drs. Joko Susilo, M.Pd. Alasan pemilihan sekolah tersebut sebagai lokasi penelitian adalah karena reputasinya sebagai salah satu sekolah favorit yang terkenal di kalangan masyarakat sekitar. Sekolah ini dikenal dengan kualitas akademik yang sangat baik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Peneliti melakukan wawancara dengan cara hadir langsung ke SMP Negeri 1 Masaran dan menemui kepala sekolah untuk mengumpulkan berbagai informasi yang dibutuhkan peneliti dari narasumber, peneliti meakukan wawancara dan observasi selama satu (1) hari.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-a9c42589a1e401c3f34f2990616ca5d5">
        <title>E. Analisis Data</title>
        <p id="_paragraph-23">Penulis menggunakan pendekatan analisis data lapangan berdasarkan Model Miles dan Huberman. Analisis data dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data dan setelah pengumpulan data selesai dalam jangka waktu tertentu. Saat melakukan wawancara, penulis harus segera menganalisis jawaban yang diberikan oleh narasumber. Jika jawaban tersebut dianggap tidak memuaskan, maka pertanyaan selanjutnya akan diajukan untuk mencapai tahap yang telah ditetapkan, sehingga mencapai tingkat kepercayaan data yang tinggi.(Wekke, 2019)</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-4418bd01e0dcee5ac5da69b64a60d8cd">
      <title>
        <bold id="bold-fe8377820c75dbc1a28828d9cfa45bd0">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <sec id="heading-818f0abcc24e88fcbc68616d45a26dd2">
        <title>Penerapan Budaya Mutu Sekolah</title>
        <p id="_paragraph-26">Budaya mutu sekolah merupakan hasil dari sebuah transformasi dari lingkungan sekitar sekolah yang dirancang untuk menjadi panutan atau pedoman untuk seluruh warga sekolah, sehingga menghasiokan lingkungan sekolah yang kondusif dan mendukung untuk kegiatan pembelajaran akademis dan lainnya. Hasil dari penerapan budaya mutu tersebut juga dapat menjadi sebuah branding yang akan dilihat dan dinilai khalayak umum bagaimana dan apa saja yang ada disekolah tersebut. Sehingga penerapan budaya mutu juga dapat dikatakan penting untuk menjaga citra sekolah dan juga kualitas sekolah tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-27">Akhlak yang sering juga dikenal sebagai watak, budi pekerti atau juga etika yang digunakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ulama mengemukakan penjelasan tentang akhlak. Al Ghazali mengemukakan bahwa akhlak merupakan kualitas kehidupan yang berakar pada jiwa seseorang yang nanytinya memunculkan respon terhadap sesuatu yang sedang dihadapi, respon tersebut juga terjadi secara spontan dimana tidak memerlukan pertimbangan atau pemikiran. Adapun penjelasan yang dikemukakan oleh Al-Faidh Al-Kasyani, akhlak adalah sebuah gambaran jiwa yang akan menghasilkan sebuah tindakan atau perilaku tanpa memerlukan pemikiran dan juga perenungan(Nurdiana, 2022)</p>
        <p id="_paragraph-28">Akhlak terdiri dari beberapa indikator yang menerangkan bagaimana akhlak baik itu:</p>
        <p id="_paragraph-29">a.Muraqabah, yaitu keyakinan terhadap Allah SWT selalu mengawasi dalam lahir maupun batin.</p>
        <p id="_paragraph-30">b.Amanah, yaitu kepercayaan yang diberikan berbentuk sebuah beban syariat kepada seseorang.</p>
        <p id="_paragraph-31">c.Tawadhu, merupakan sikap rendah hati dan tidak merasa bangga terhadap dirinya sendiri.</p>
        <p id="_paragraph-32">d.Malu, yaitu rasa yang dimiliki seseorang berupa rasa tidak nyaman ketika melakukan sesuatu yang menurutnya adalah sebuah kesalahan.(Nurdiana, 2022)</p>
        <p id="_paragraph-33">Untuk menjaga kualitas sekolah maka penerapan budaya mutu dalam upaya pembentukan akhlak juga dilakukan di SMP Negeri 1 Masaran, sesuai dengan paparan kepala sekolah SMP Negeri 1 Masaran yang dimana sangat menjunjung tinggi nilai-nilai, selain itu pengadaan budaya mutu disekolah juga dapat membantu setiap peserta didik menemukan kompetensi diri serta pembentukan karakter yang kuat pada setiap peserta didik, berikut merupakan budaya mutu sekolah yang diterapkan di SMP Negeri 1 Masaran.</p>
        <p id="_paragraph-34">Memerintah dan membangun kedisiplinan di kalangan seluruh anggota komunitas sekolah. Budaya mutu yang diterapkan di SMP Negeri 1 Masaran disesuaikan dengan kurikulum yang telah disusun oleh lembaga pendidikan. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi penyesuaian program pendidikan dengan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai lembaga pendidikan. Selain itu, sekolah juga harus memperhatikan perkembangan dan tantangan yang meliputi:</p>
        <p id="_paragraph-35">a.Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan juga teknologi sehingga akan menghasilkan kolaborasi dan pembaharuan baik materi mapun metode pembelajaran dan juga menganalisis efek negatif dari hal tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-36">b.Dampak globalisasi yang mempercepat perubahan dan mobilitas lintas sektor dan wilayah, lokasi sekolah yang dan juga lingkungan sekitar sekolah menjadi salah satu alasan yang mempengaruhi peserta didik sehingga pihak sekolah sebaiknya memantau dan area wilayah sekolah sebagai bahan pengembangan dan evaluasi.</p>
        <p id="_paragraph-37">c.Pengaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral individu, mengikuti perkembangan terkini sehingga pihak sekolah mampu mengawal peserta didik agar lebih bija.k</p>
        <p id="_paragraph-38">d.Era informasi dan komunikasi, era globalisasi menjadikan informasi dan komunikasi berkembang pesat sehingga akses menjadi lebih mudah dan terbuka, hal ini juga menuntut pendidik untuk terus memberikan pengawasan dan pemahaman peserta didik agar lebih bijak dalam menggunakan media sebagai sarana mencari informasi.</p>
        <p id="_paragraph-39">e.Era perdagangan bebas, perdagangan bebas yang saat ini berkembang pesat juga akibat globalisasi sehingga sangat beresiko menjadi sarana okunum untuk merusak generasi sehingga ini menjadi tugas yang berat bagi pendidik untuk memberikan pengarahan.</p>
        <p id="_paragraph-40">f.Perubahan kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan, selain pihak sekolah kesadaran masyarakat dan orang tua juga sangat dibutuhkan sebagainkerjasama dalam mendukung visi dan misi sekolah.</p>
        <p id="_paragraph-41">Tantangan yang juga dapat dijadikan peluang untuk mendapatkan tanggapan positif dari pihak sekolah adalah ketika sekolah mengembangkan visi yang sesuai dengan arah perubahan tersebut. Visi juga mencerminkan citra moral suatu sekolah. Namun, pihak sekolah harus mempertimbangkan dengan cermat dalam merumuskan visi, yaitu dengan memperhatikan dan menimbang potensi yang dimiliki oleh sekolah serta harapan masyarakat.</p>
        <p id="_paragraph-42">Dalam perumusannya melalui musyawarah dengan beberapa pihak yang terkait yaitu seluruh pendidik, staf, peserta didik, komite sekolah, masyarakat dan pemerintah. ,visi dari SMP Negeri 1 Masaran adalah</p>
        <p id="_paragraph-43">
          <bold id="bold-e2f9ad04eee056cc15dc4816695fe393">“Berprestasi, beriman, berbasis karakter bangsa, peduli dan berbudaya lingkungan”.</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-44">Budaya mutu ini dapat muncul dan dibentuk oleh pembiasaan yang ditanamkan dikegiatan sehari-hari. Pembiasaan berupa adaptasi dari sebuah perubahan, adaptasi adalah suatu bentuk penyesuaian diri makhluk hidup dengan mengalami perubahan dari negative menjadi positif(Fitriyanti &amp; Sholeh, 2024). Untuk meningkatkan budaya mutu disekolah yang berkaitan dengan adab, perilaku serta tata krama yang penulis temukan di SMP Neger 1 Masaran yaitu adanya pembiasaan yang di rumuskan menjadi “10 Budaya Malu”. Pembiasaan ini bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik, isi dari kesepuluh budaya malu tersebut adalah sebagai berikut:</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <p id="_paragraph-45" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-ff6a1f5edbaa7dec357dfb2dd9f7ad8b">
                <td id="table-cell-f9bbf9e262ac74beee42543997b0474c">Aku malu bila datang terlambat di sekolah</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6de5125c03740ba5f883a573881efa08">
                <td id="table-cell-269822d5ae8199e3b29170d929c7819c">Aku malu bila tidak ikut melakukan aktivitas apaapun disekolah</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-97f5cb9a9177cd1b2435a618696aca24">
                <td id="table-cell-50d9ffd0eeca50c7d4f5d9d99b55a513">Aku malu bila berbuat salah, tidak menghormati guruku, dan tidak mentaati tata tertib sekolah</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-795cbd2554c88ca23ac567f7779d58e9">
                <td id="table-cell-cf1d160f27a477d50a00cf340aeb21b6">Aku malu bila tidak bisa menunjukkan prestasi dalam bekerja dan belajar</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9c1e322ff1b71c3971c7d0660dbaa27a">
                <td id="table-cell-cf1a9bf8f831fb01946a8b8987ba196c">Aku malu bila tugas sekolah yang diberikan tidak aku kerjakan tepat waktu</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8576b147253fc68f5a451f5783d04197">
                <td id="table-cell-2235e609e2737e69f48a4e656000dc37">Aku malu bila tidak berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang rindang dan asri</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3608288cb77680d1552633ac74cd738e">
                <td id="table-cell-366e8446aa8213f91405c6c683fe4997">Aku malu bila kelasku tidak rapih dan tidak bersih</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-7e4fced736cc42e6c23d3cbadaf379ee">
                <td id="table-cell-1af38b2c33414ede32c8741a9c164251">Aku malu bila merusak barang apapun milik sekolah</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e8fc0644de28826e5dcdccd0da5c185d">
                <td id="table-cell-08f8c612c44ff5acddb8df66eed0bf89">Aku malu tidak ikut aktif dalam melaksanakan “Gerbang Sekolahku” (Greget bangun SMPku Pramukaku dan Perpustakaanku)</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-50af61d7b8a3d3aa464919443c9e591e">
                <td id="table-cell-28595dd50adecd3b46c2b848a95f1082">Aku malu bila tidak menjaga nama baik orang tua dan sekolahku.</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-46">Setelah menganalisis berbagai perubahan tersebut, langkah-langkah yang diambil oleh kepala sekolah selanjutnya adalah:</p>
        <p id="_paragraph-47">1.Menetapkan peraturan atau kebijakan, setelah menganalisis dan mengevaluasi berbagai permasalah yang muncul baik dari dalam maupun luar lingkungan sekolah maka kepala sekolah dituntut untuk melakukan perubahan atau perumusan kebijakan yang telah disesuaikan dengan permasalahan yang ada.</p>
        <p id="_paragraph-48">2.Menyosialisasikan peraturan tersebut kepada seluruh anggota komunitas sekolah, setelah melakukan perumusan maka kepala sekolah beserta tenaga didik dan staff melakukan sosialisasi agar dapat disampaikan kepada peserta didik melalui tenaga didik maupun staff.</p>
        <p id="_paragraph-49">3.Melakukan implementasi dari kebijakan yang telah ditetapkan, pelaksanaan kebijakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah yang dimulai dari tenaga didik yakni wali kelas yang memiliki tanggung jawab dalam mengelola kelas.</p>
        <p id="_paragraph-50">4.Melakukan evaluasi terhadap implementasi kebijakan tersebut, setelah kebijakan baru dilaksanakan maka tahap evaluasi dilakukan untuk melihat seberapa efektif kebijakan tersebut dalam Upaya mengurangi permasalahan yang muncul di sekolah tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-51">Sehubungan dengan hal itu SMP Negeri 1 Masaran juga memiliki budaya yang berbentuk tata tertib yang juga sebagai tujuan sekolah tersebut,visi dari SMP Negeri 1 Masaran adalah</p>
        <p id="_paragraph-52">
          <bold id="bold-876c4f265aa6e5c849cb1e43b1669395">“Berprestasi, beriman, berbasis karakter bangsa, peduli dan berbudaya lingkungan”.</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-53">Menurut bapak Drs.Joko Susilo saat menjelaskan dalam sesi wawancara:</p>
        <p id="_paragraph-54">”Karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda beda maka pembelajaran pada saat ini berdeferensial, kami juga mengembangkan SDM yang kita punya, dan yang pasti kita mendasari adab terlebih dahulu baru ilmu, jadi kami manajemen semua baik sumber daya manusia maupun pembelajaran. Selain kegiatan yang berhubungan dengan akademik kami dari pihak memberikan opsi lain berupa ekstrakurikuler yang bebas diikuti oleh setiap anak. Dan untuk kebutuhan rohani di sekolah ini diadakan pembiasaan seperti bacaan kitab suci yang disesuaikan keyakinan masing-masing peserta didik”. Wawancara tanggal 21 Mei 2025 (Kepala Sekolah)</p>
        <p id="_paragraph-55">Dari hasil wawancara menunjukkan kepala sekolah sangat menekankan budaya disekolah yang berkaitan dengan adab dengan harapan agar peserta didik tidak hanya unggul dalam hal akademik saja namun juga setiap peserta didik di didik menjadi pelajar yang beradab dan berakhlak. Keberhasilan yang dicapai peserta didik di bagian non akademik yaitu ekstrakurikuler juga sangat mengesankan dan tak hanya sekali dalam menjuara sebuah ajang kompetisi dan menjadi juara umum “Aksi Pelajar Islam” di kota Semarang perwakilan dari organisasi ROHIS, lalu futsal putra dan putri menjadi juara umum saat bertanding di salah satu GOR di Kabupaten Sragen. Kegiatan ekstrakurikuler ini juga sebagai wujud dari tanggung jawab peserta didik dalam mencapai salah satu visi di SMP Negeri 1 Masaran.</p>
        <p id="_paragraph-56">Dalam informasi yang penulis dapatkan dari hasil wawancara selain menekankan pembentukan karakter, sikap tanggung jawab kepada peserta didik, kepala sekolah juga menekankan kepada seluruh warga sekolah seperti pendidik dan staff.</p>
        <p id="_paragraph-57">Bapak Kepala Sekolah juga menjelaskan dalam sesi wawancara:</p>
        <p id="_paragraph-58">“Kami juga mengharuskan sikap sopan santun dan mengedapnkan tata krama bagi seluruh warga sekolah seperti guru dan karyawan lainnya, karena mereka juga termasuk orang yang memiliki peran penting sebagai contoh dan teladan begitupun dengan saya, untuk para guru dan karyawan kami mengajarkan untuk selalu memberikan pelayanan bagi komite sekolah maupun tamu yang berkunjung. Saya menjunjung tinggi kejujuran dan menekankan hal tersebut kepada setiap individu di sekolah ini”. Wawancara tanggal 21 Mei 2025 (Kepala Sekolah)</p>
        <p id="_paragraph-59">Dari hasil pengamatan penulis seluruh warga sekolah di SMP Negeri 1 Masaran, sangat patuh dan mentaati peraturan atau tata tertib yang dibentuk di sekolah tersebut. Pengorganisasian yang dilakukan kepala sekolah dalam membimbing dan mengayomi seluruh warga sekolah sehingga terdapat chemistry antara kepala sekolah dengan seluruh warga sekolah, apalagi dengan sikap yang dibawakan kepala sekolah yang sangat terbuka terhadap setiap pendapat warga sekolah.</p>
        <p id="_paragraph-60">Kondisi peserta didik setelah penerapan budaya mutu sekolah sesuai dengan pengamatan kondisi yang dilakukan peneliti dan juga paparan dari kepala sekolah seluruh warga sekolah mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan sebelumnya meskipun belum sepenuhnya menuntaskan permasalahan yang artinya dalam penerapan budaya mutu harus selalu mendapatkan perhatian yaitu dengan mengevaluasi. Dalam penerapan budaya tersebut sudah memberikan suasana yang berbeda di sekolah, yaitu seperti lingkungan yang kondusif, berkurangnya peserta didik yang melakukan pelanggaran, setiap warga sekolah baik sudah menjadikan sikap ramah, sopan, dan santun sebagai hal yang wajib dan tidak lagi secara terpaksa melakukannya karena memang sudah mulai terbenatuk dan terbiasa.</p>
        <p id="_paragraph-61">Dalam upaya menjadikan peserta didik memiliki budi pekerti dan akhlak yang baik dan efektif diperlukan dukungan dari berbagai pihak tidak hanya dibebankan pada satu penanggung jawab saja, seperti penelitian terdahulu yang dilakukan pada tahun 2024 dalam jurnal yang berjudul peran guru pendidikan agama islam dalam pembentukan akhlak siswa di SMA Al Irsyad kota Tegal, hasil penelitiannya adalah guru PAI memiliki peran penting selain mengajarkan ilmu agama menggunakan teori namun juga dengan memberika contoh atau keteladanan dalam membimbing peserta didik yang dimana guru PAI memiliki tanggung jawab dalam pembentukkan akhlak dan karakter.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-e190d3a0d85cd11da9f59e8095c0e9e4">
      <title>
        <bold id="bold-736d6b0fe5cdb6d63f95261a090294b2">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-63">Penerapan budaya mutu di sekolah bertujuan untuk mengarahkan karakter setiap peserta, menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik dengan cara merumuskan misi yang memperhitungkan berbagai perkembangan di sekitar sekolah yang mungkin menjadi ancaman di masa depan. Setelah memiliki beberapa pertimbangan yang dipertimbangkan oleh kepala sekolah lalu melakukan analisis dari berbagai perubahan tersebut, lalu kepala sekolah menyusun langkah-langkah yang sesuai dengan tujuan, visi, dan misi.</p>
      <p id="_paragraph-64">Kegiatan budaya mutu wajib diikuti seluruh warga sekolah, keberhasilan penerapan budaya mutu juga dilihat bagaimana pendidik dan staff dalam menjalankan tugasnya karena sebagai mirroring atau panutan peserta didik sehingga mempengaruhi berhasil atau tidaknya sebuah tujuan dan bagaimana kepala sekolah memperhatikan lingkungan sekolah untuk melihat perkembangan dan tantangan yang akan dihadapi serta cara mengarahkan, mengajarkan dan memotivasi seluruh anggotanya, memberikan koordinasi serta arahan kepada seluruh warga sekolah (pendidik, peserta didik, staff dan komite sekolah). Bagaiman kepala sekolah menunjukkan keteladanan dan bagaimana cara memberdayakan seluruh anggotanya. Kepala sekolah harus terus menganalasis dan mencari tahu apa saja yang sedang terjadi dan apa saja yang perlu diperbarui di dalam kelompoknya agar terus maju dan unggul.</p>
      <p id="_paragraph-65">Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa upaya pendidikan karakter dan akhlak dibutuhkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak tidak hanya dibebankan satu penanggung jawab saja, untuk implementasinya juga membutuhkan konsistensi dari berbagai pihak baik warga sekolah, komite sekolah, maupun masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang kondusif dan sesuai dengan tujuan, visi dan misi,</p>
      <p id="_paragraph-66">UCAPAN TERIMA KASIH</p>
      <p id="_paragraph-67">Terima kasih atas kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dalam penelitian ini sehingga penulis mampu menyelasaikan penelitian ini dengan baik, Ibunda tercinta yang tak henti memberikan doa dan dukungan serta alm. Ayah yang selalu menjadi semangat penulis, yang penulis cintai kakak Rika Ari W.D.P dan kakak ipar M. Syaifuddin juga keponakan penulis Musa Abraruz Zahidin dan Maryam Zivana Syafrika yang selalu meberikan doa dan semangat, sahabat penulis Fatkur Rachmawati yang telah membantu penulis dalam menyelasaikan penelitian ini, sahabat penulis yang selalu membantu penulis saat keadaan penulis tidak baik-baik saja Rahayu Utami, Arum Khairun Nisa, dan Sena Aji Al Hafidz dan juga seluruh sahabat-sahabat penulis ‘Bakaran Membara’yang senantiasa mendukung yang tidak bisa disebutkan satu persatu, dan juga dosen pembimbing bapak Dr.hafidz M.Pd.I.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>