<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Individual Morality, Internal Control Of Fraud With Organization Ethical Culture As Moderation</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-182d943e09e019cf17e40fefe3d0cc5a" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Izza</surname>
            <given-names>Fityan</given-names>
          </name>
          <email>fityanizzaumsida@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-09-06">
          <day>06</day>
          <month>09</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <p id="paragraph-7e5bbe7386abedf4d235adb67472b841" />
    <sec id="heading-b2d85df3ac53e3935ceccd58895095cf">
      <title>
        <bold id="_bold-22">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-12">Kasus kecurangan yang banyak terjadi di Indonesia yaitu korupsi. Negara Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang terkena kasus korupsi karena kondisi ekonominya yang belum stabil. Berdasarkan skor Indeks Persepsi Korupsi atau IPK (2018) Indonesia berada pada skor 38 dengan peringkat 89 dari 180 negara yang disurvei. Angka atau skor pada tahun 2018 ini meningkat 1 poin dari tahun 2017 yang berada pada posisi 37 dengan peringkat 96 dari 180 negara yang di ukur oleh Transparansi Internasional. Kenaikan ini di picu karena munculnya berbagai paket kemudahan berusaha dan sektor perizinan yang ramah investasi [1].</p>
      <p id="_paragraph-13">Menurut [2] korupsi merupakan bentuk kecurangan yang dapat menimbulkan kerugian sangat besar bagi organisasi maupun juga masyarakat. Pada tahun 2018, pasien BPJS di Rumah Sakit Umum Sidoarjo mengaku kecewa perihal pemberian obat yang seharusnya mendapatkan obat jantung untuk 30 hari, tetapi oleh bagian farmasi RSUD Sidoarjo hanya diberikan obat jantung untuk 7 hari, dan sisanya harus dipenuhi oleh pasien dengan membeli obat sendiri. Menurut pendapat Kanit Manajemen Layanan Kesehatan Kantor Cabang Sidoarjo menyatakan bahwa pasien peserta BPJS Kesehatan tidak boleh lagi melakukan iur bayar terkait dengan indikasi medis. Maka, hal ini bisa terjadi karena masih banyaknya rumah sakit yang tidak menggunakan obat secara optimal dalam pengobatan pasien, namun tetap ditagihkan dalam klaim rumah sakit. Menurut [3] moralitas adalah kualitas perilaku seseorang yang baik dan buruk. Apabila seseorang tidak memiliki moral yang baik maka akan cenderung melakukan suatu perbuatan yang dapat membahayakan serta merugikan orang lain. Sedangkan, seseorang yang memiliki moral yang baik cenderung tidak melakukan kecurangan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi [4]. Pengendalian internal merupakan suatu prosedur yang sudah dirancang dan dijalankan untuk terwujudnya tujuan suatu organisasi baik dilakukan oleh manajemen atau karyawan agar dapat memberikan <italic id="_italic-50">asurans</italic>terhadap efektivitas dan efisiensi suatu operasi, keandalan laporan keuangan serta kepatuhan terhadap hukum dan perundang-undangan. <italic id="_italic-51">F</italic><italic id="_italic-52">raud triangle theory</italic> yang mengatakan “bahwa ruang <italic id="_italic-53">fraud </italic>dapat diperkecil dengan adanya sistem pengendalian internal”. Menurut Artini (2014) budaya etis organisasi merupakan suatu kepercayaan, sistem nilai, dan norma yang dimiliki oleh setiap individu pada sebuah perusahaan. [5] menyatakan bahwa apabila dalam suatu organisasi perangkat daerah terdapat <italic id="_italic-54">culture organization </italic>yang baik, maka hal tersebut tidak akan berdampak pada <italic id="_italic-55">fraud.</italic></p>
      <p id="_paragraph-14">Kecurangan adalah suatu perbuatan dan peyimpangan yang melanggar hukum serta dilakukan oleh orang-orang atau sekelompok orang secara sengaja untuk sebuah tujuan tertentu misalnya memberikan gambaran keliru atau menipu kepada pihak-pihak lain [6]. Penelitian terkait pencegahan <italic id="_italic-56">fraud </italic>sebelumnya [7], [8], [9], [10].</p>
      <p id="_paragraph-15">Teori <italic id="_italic-57">fraud triangle </italic>dijadikan sebagai teori dasar dalam melakukan penelitian ini. Teori ini di kemukakan [11] yang menyatakan bahwa <italic id="_italic-58">fraud triangle theory </italic>terdapat tiga kondisi pada saat terjadinya kecurangan yaitu: kesempatan (<italic id="_italic-59">opportunity</italic>) pihak manajemen dalam suatu organisasi memiliki kesempatan yang besar dalam melakukan tindakan kecurangan apabila dibandingkan dengan kecurangan yang dilakukan oleh karyawannya. Penerapan pengendalian internal dalam sebuah organisasi itu sangat berhubungan dengan kesempatan dalam melakukan tindakan <italic id="_italic-60">fraud</italic>. Hal ini dapat terjadi karena kesempatan adalah salah satu elemen yang paling utama bagi pelaku dalam melakukan kecurangan. Tekanan (<italic id="_italic-61">pressure</italic>) faktor pendorong seseorang dalam melakukan kecurangan adalah tekanan. Kemungkinan besar yang mengakibatkan terjadinya kecurangan bisa berasal dari tekanan <italic id="_italic-62">shareholders </italic>maupun top eksekutif karena pihak-pihak tersebut memiliki perolehan laba yang paling tinggi dalam sebuah organisasi. Rasionalisasi (<italic id="_italic-63">razionalization</italic>) tindakan <italic id="_italic-64">fraud </italic>dianggap oleh para pelaku kecurangan sebagai tindakan kecurangan yang wajar karena pelaku hanya mengambil sedikit dari laba perusahaan. Para pelaku kecurangan juga beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan tidak akan berpengaruh besar terhadap laba perusahaan.</p>
      <p id="_paragraph-16">Penelitian ini bertujuan menguji moralitas individu terhadap resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksaan jaminan kesehatan BPJS, pengendalian internal tehadap resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksaan jaminan kesehatan BPJS, budaya etis organisasi terhadap hubungan moralitas individu dan pengendalian internal dengan resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS. Kebaharuan penelitian ini yakni penggunaan budaya etis organisasi sebagai variabel pemoderasi untuk menguji moralitas individu dan pengendalian internal terhadap resiko terjadinya <italic id="_italic-65">fraud</italic> dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-669ef3d908dd4984b96591a123432f6d">
      <title>
        <bold id="_bold-23">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian ini menggunakan beberapa variabel dalam pengujian. Variabel independen dalam penelitian ini ditunjukkan oleh moralitas individu dan pengendalian internal. Variabel dependen ditunjukkan dengan resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS. Sedangkan, variabel moderasi ditunjukkan oleh budaya etis organisasi. Penggunaan variabel pemoderasi ini untuk menguji budaya etis organisasi dapat memperlemah atau memperkuat hubungan moralitas individu dan pengendalian internal terhadap resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS.</p>
      <p id="_paragraph-19">Moralitas individu adalah keseluruhan asas dan nilai atau sifat moral yang berkaitan dengan baik dan buruk. Level penalaran moral seseorang dipengaruhi oleh perilaku etis dirinya sendiri [13]. Pengendalian internal merupakan suatu proses yang dilaksanakan untuk memberikan jaminan atas tujuan-tujuan pengendalian yang telah terwujud [12]. Resiko terjadinya <italic id="_italic-66">f</italic><italic id="_italic-67">raud </italic>dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang guna memperoleh keuntungan dan merugikan pihak [12]. Budaya etis organisasi merupakan acuan yang berdasarkan pada moral anggota organisasi dan peraturan yang berlaku dalam lingkungan yang etis [22].</p>
      <p id="_paragraph-20">Indikator yang digunakan untuk mengukur moralitas individu oleh Nurul (2015) yaitu <italic id="_italic-68">justice </italic>atau <italic id="_italic-69">moral equity</italic>, <italic id="_italic-70">relativism, egoism, utilitarianism, deontology </italic>atau<italic id="_italic-71"> contractual.</italic> Pengendalian internal diukur menurut COSO (2013) yaitu lingkungan pengendalian, penilaian resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, aktivitas pengawasan. Resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS oleh Widjaja (2009) yaitu ciptakan kejujuran, keterbukaan dan saling membantu, proses rekrutmen yang jujur, <italic id="_italic-72">fraud awareness, </italic>lingkungan kerja yang positif, kode etik yang jelas, mudah dimengerti dan ditaati, program bantuan kepada pegawai yang mendapatkan kesulitan, adanya sanksi terhadap segala bentuk kecurangan. Budaya etis organisasi diukur oleh Robbins (2010) yaitu inovasi dan pengambilan resiko, perhatian terhadap detail, perhatian terhadap hasil, perhatian terhadap orang, perhatian terhadap tim, keagresifan, dan stabilitas. Penilaian indikator menggunakan skala <italic id="_italic-73">Likert</italic> dengan pilihan jawaban sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju.</p>
      <p id="_paragraph-21">Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan RSU Al-Islam H.M. Mawardi Krian yang berjumlah 301 pegawai. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik <italic id="_italic-74">random sampling.</italic> Sedangkan, rumus penarikan sampel dalam penelitian ini adalah rumus <italic id="_italic-75">Slovin</italic>. Maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 172 orang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengujian data dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan <italic id="_italic-76">Partial</italic><italic id="_italic-77">Least</italic><italic id="_italic-78">Square</italic>(PLS).</p>
      <p id="_paragraph-22">Model PLS yang digunakan meliputi beberapa teknik analisis yaitu uji validitas, uji reliabilitas, dan uji <italic id="_italic-79">inner model</italic>. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu variabel. Ghozali (2014) <italic id="_italic-80">convergent validity </italic>ditentukan dari besarnya nilai <italic id="_italic-81">loading </italic>yang memperlihatkan korelasi antara <italic id="_italic-82">item score </italic>dengan <italic id="_italic-83">construct score</italic>. Untuk dapat memberikan hasil yang lebih baik, maka dalam penelitian ini ditentukan nilai <italic id="_italic-84">outer loading </italic>&gt; 0,70. Selain itu, <italic id="_italic-85">convergent validity </italic>juga dapat dilihat dengan menilai AVE (<italic id="_italic-86">Average Variance Extracted</italic>). Menurut Henseler (2009) jika nilai AVE &gt; 0,50 maka model dapat dikatakan mempunyai nilai <italic id="_italic-87">convergent validity </italic>yang baik.</p>
      <p id="_paragraph-23">Pengambilan keputusan dalam uji reliabilitas ini yaitu apabila variabel dikatakan positif signifikan jika nilai <italic id="_italic-88">Composite </italic><italic id="_italic-89">Realibility</italic><italic id="_italic-90"> Measure </italic>&gt; 0,70 dan <italic id="_italic-91">Crounbach’s</italic><italic id="_italic-92"> Alpha </italic>&gt; 0,70. Pengujian dan pengukuran yang telah dijelaskan merupakan bentuk pengukuran <italic id="_italic-93">outer model. </italic>Setelah pengukuran <italic id="_italic-94">outer model</italic> selesai, dilakukan pengukuran <italic id="_italic-95">inner model.</italic> Uji <italic id="_italic-96">inner model</italic> dapat digunakan untuk menguji hubungan yang telah dihipotesiskan sebelumnya antara konstruk eksogen dengan konstruk endogen. Berikut ini adalah uji dalam <italic id="_italic-97">inner model: </italic>Koefisien determinan (<italic id="_italic-98">R</italic><sup id="_superscript-8"><italic id="_italic-99">2</italic></sup>), terdapat tiga ktiteria nilai <italic id="_italic-100">R</italic><sup id="_superscript-9"><italic id="_italic-101">2 </italic></sup>yaitu: 0,67 (baik), 0,33 (moderat), dan 0,19 (lemah). Estimasi Koefisien Jalur, nilai yang dihasilkan adalah perbandingan antara nilai t-hitung &gt; t-tabel (1,96) dan pada taraf signifikan (<italic id="_italic-102">alpha </italic>5%) maka nilai tersebut dapat dikatakan signifikan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-22d6ef877bb0f5611cb414d11a4324bb">
      <title>
        <bold id="_bold-24">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-58f1dd7e11b195de1002c8cfbd3e4e74" />
            <bold id="_bold-27">Pengukuran</bold>
            <bold id="_bold-28">dengan</bold>
            <italic id="_italic-103">
              <bold id="_bold-29">Composite Reliability</bold>
            </italic>
            <bold id="_bold-29" />
          </title>
          <p id="_paragraph-26" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-deb1f873438276bc03542744c49109f2">
              <td id="table-cell-380303f94fa492bd74a69e8e610b6433">Variabel</td>
              <td id="table-cell-7c9696321df887341ed55798e419a1cb">Composite Reliability</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5e6b1d1c55daa83049fc947fbbc3cc04">
              <td id="table-cell-1baf2a7f895857869ef59f0f80075713">Moralitas Individu</td>
              <td id="table-cell-b79eeccb56501b90413bdb20134e9c74">1.000</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-9c3797b9e2c120dfe48101fe57222768">
              <td id="table-cell-c97d97d6eb2a4499f1c82ed5525df50c">Pengendalian Internal</td>
              <td id="table-cell-3b40bf604b42c1ca7312a9b5d4ae7157">0.910</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-406f6d84926de411de1dcb7b1b63f8fd">
              <td id="table-cell-0888062ec7cd96ed9ba58a6428c949a2">Resiko Terjadinya Fraud dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS</td>
              <td id="table-cell-73185c8526caae5f80a8884dc5a0c897">0.917</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3af0c65276abd1fd25f23a3b83eeee16">
              <td id="table-cell-747cef479335314f3535ae593b2a6b5d">Budaya Etis Organisasi</td>
              <td id="table-cell-7753aadd1f367e904d48ded80cc2d67f">0.854</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-27">Dari hasil pengukuran tabel 1, seluruh variabel laten memiliki nilai <italic id="_italic-106">composite reliability </italic>&gt; 0.80, artinya seluruh variabel laten independen sesuai dan layak untuk dijadikan variabel yang diuji untuk mengetahui pengaruhnya pada variabel laten dependen.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-2">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-9df9bc3430f3d40e2c1c701623d9b739" />
            <bold id="_bold-32">Pengukuran</bold>
            <bold id="_bold-33">dengan</bold>
            <italic id="_italic-107">
              <bold id="_bold-34">Cronbach Alpha</bold>
            </italic>
            <bold id="_bold-34" />
          </title>
          <p id="_paragraph-29" />
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-a5214478eb9901ac1f915f2a1b49f8ef">
              <td id="table-cell-f66c565996542407c15abbe72980b67e">Variabel</td>
              <td id="table-cell-b16cea3721d7635af3ebb03f5235ddb6">Cronbach Alpha</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-f0f2799016e88813574532543ccc1b15">
              <td id="table-cell-b69f080c0e2eb8d196ea3d25aa9c72ba">Moralitas Individu</td>
              <td id="table-cell-aa639b7233920f4c4bd8390ddf08022a">1.000</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a289d1cd56bb6e71008d3b555083a78c">
              <td id="table-cell-44d0fb7c12f79c7593037a294161549c">Pengendalian Internal</td>
              <td id="table-cell-afb51f4344a3c7a3063574be24b2a757">0.885</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-77aed0bea7a18e22f81af8a861a7a7fb">
              <td id="table-cell-38862f565fbf56e0c8e26288fd82b696">Resiko Terjadinya Fraud dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS</td>
              <td id="table-cell-dd75399d7642d6108d98b9d13569e4c5">0.889</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-99d4edad8cff96bb7b6e59d78fbf4926">
              <td id="table-cell-2cda69eae0c459224511708aa6f34d50">Budaya Etis Organisasi</td>
              <td id="table-cell-006ff608c7349c797c793dc0b38db6bc">0.796</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-30"><italic id="_italic-110">Cronbach alpha </italic>dikatakan baik apabila menunjukkan nilai lebih dari 0.60 dan dikatakan cukup apabila nilainya lebih dari 0.30. Dari hasil perhitungan <italic id="_italic-111">calculate PLS </italic><italic id="_italic-112">algoritm</italic>untuk <italic id="_italic-113">outer model </italic>menunjukkan bahwa nilai <italic id="_italic-114">cronbach</italic><italic id="_italic-115"> alpha </italic>pada tabel 2 masing-masing konstruk sudah menunjukkan nilai &gt; 0.60.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-3">
        <label>Table 3</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-2d3e480c8d9423c5b6cd6243ce8ead32" />
            <italic id="_italic-116">
              <bold id="_bold-37">Average Variance </bold>
            </italic>
            <italic id="_italic-117">
              <bold id="_bold-38">Extraxted</bold>
            </italic>
            <bold id="_bold-38" />
            <bold id="_bold-39">(AVE)</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-32" />
        </caption>
        <table id="_table-3">
          <tbody>
            <tr id="table-row-6214ca222b73a9232df61a199d67abc7">
              <td id="table-cell-c53805c0cbafe404bf1a2a589528d0e8">Variabel</td>
              <td id="table-cell-0c7fa84adb0b6ffd066be6cea26b72dc">Average Variance Extracted</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3242dd32609ef5a7aacfb3876641cf12">
              <td id="table-cell-606ac6e0a643432f6a99fc77642589e0">Moralitas Individu</td>
              <td id="table-cell-d28a76f858e15fc2263b6e77f1101601">1.000</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-7f728c0414ba94885eba73f4754e7b2a">
              <td id="table-cell-0b971bd8282a9d0195b8e8aea7aeac5f">Pengendalian Internal</td>
              <td id="table-cell-fe4bc930e6f05e30c772226f0c18987a">0.671</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a7ba2d2bdf181434c18862e61c6ad691">
              <td id="table-cell-435c1c9c600df9c4b39f7d62ba36f252">Resiko Terjadinya Fraud dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS</td>
              <td id="table-cell-e62f25d74c2f7d4d2a143b51561f2527">0.689</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-48d621224649fd5e0c5518001b462cbd">
              <td id="table-cell-319f31f7e99e43e7ca3ba28a0e82b32b">Budaya Etis Organisasi</td>
              <td id="table-cell-3e516d7d46e0e3f2705d87c461890947">0.542</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-33">Berdasarkan tabel 3, dapat disimpulkan semua konstruk memenuhi kriteria reliabel, hal ini ditunjukkan dengan nilai AVE &gt; 0.50 sebagaimana kriteria yang direkomendasikan.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-4">
        <label>Table 4</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-fe3c34fe28bb9e82119547835985d4a0" />
            <italic id="_italic-120">
              <bold id="_bold-42">R-Square</bold>
            </italic>
            <bold id="_bold-42" />
          </title>
          <p id="_paragraph-35" />
        </caption>
        <table id="_table-4">
          <tbody>
            <tr id="table-row-03f97a04f5cd3a2b289d8d72fafc211f">
              <td id="table-cell-c6b443acf19f3c973e9bff29c50ed514" />
              <td id="table-cell-e4af9e36e1767f96a8dbc3a212de2f90">R Square</td>
              <td id="table-cell-489720d2ce53c50ba06310d8e9c2dbc9">Adjusted R Square </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c62803bce63109c6f1aa062abcb48e91">
              <td id="table-cell-821acbfcce5e7a362f7e7e5a34cbff1f">Y</td>
              <td id="table-cell-bfac5024a0558739837e23cbd28ece9a">0.216</td>
              <td id="table-cell-b8896cf5970b02d9152661f2787b6e85">0.189</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-36">Dari tabel R-<italic id="_italic-124">Square </italic>diatas, nilai R-<italic id="_italic-125">Square </italic>menunjukkan sebesar 0.216. Hasil R-<italic id="_italic-126">Square </italic>ini dapat dijelaskan bahwa pengaruh variabel Moralitas Individu (X1), Pengendalian Internal (X2), dan Budaya Etis Organisasi (Z) memberi nilai sebesar 0.216 yang dapat diintepretasikan bahwa variabel laten dependen dapat dijelaskan oleh variabel laten independen sebesar 21.6%, sedangkan 78.4% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian. Dari angka tersebut, dikategorikan bahwa variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen dengan skala moderat.</p>
      <p id="_paragraph-37">Pada penelitian ini, nilai <italic id="_italic-127">Adjusted </italic>R <italic id="_italic-128">Square </italic>sebesar 0.189 atau 18.9%. Maka dapat disimpulkan bahwa 18.9% variasi yang terjadi pada variabel Y dapat dijelaskan oleh variabel laten independen, dan sisanya dapat dijelaskan oleh variabel lain.</p>
      <p id="_paragraph-38">
        <bold id="_bold-43">Pengaruh</bold>
        <bold id="_bold-44">Moralitas</bold>
        <bold id="_bold-45">Individu</bold>
        <bold id="_bold-46">terhadap</bold>
        <bold id="_bold-47">Resiko</bold>
        <bold id="_bold-48">Terjadinya</bold>
        <italic id="_italic-129">
          <bold id="_bold-49">Fraud</bold>
        </italic>
        <bold id="_bold-49" />
        <bold id="_bold-50">da</bold>
        <bold id="_bold-51">lam</bold>
        <bold id="_bold-52">Pelaksaan</bold>
        <bold id="_bold-53">Jaminan</bold>
        <bold id="_bold-54">Kesehatan </bold>
        <bold id="_bold-55">BPJS </bold>
      </p>
      <table-wrap id="_table-figure-5">
        <label>Table 5</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="_bold-57" />
            <bold id="_bold-58">Hasil Uji </bold>
            <bold id="_bold-59">Hipo</bold>
            <bold id="_bold-60">tesis</bold>
            <bold id="_bold-61">1</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-40" />
        </caption>
        <table id="_table-5">
          <tbody>
            <tr id="table-row-4e2f8793dd10451b7009af1b892b75c2">
              <td id="table-cell-120c5e4ea9a7616f5ce60ccaecf05e0f" />
              <td id="table-cell-8e5356e9e0c465aba557475deb816a29">Sampel Asli (O)</td>
              <td id="table-cell-c866f2d7e643a876c6e3249997ee08d9">TStatistik(STDEV)</td>
              <td id="table-cell-2e58c2b1dcf649ee48c21a895e7d130c"> P Values </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-bb449230ce7619037ea6a24c30c0b384">
              <td id="table-cell-e785978ea0fbb4912c97b54d2e8d5abb">X1-&gt; Y</td>
              <td id="table-cell-54b41ecbfe83ce472c273e6c1478659d">0.074</td>
              <td id="table-cell-64e21c986cff631cb3daa63a59ead2b9">0.929</td>
              <td id="table-cell-2f751b82b5e1b03d39d1147508f8345e">0.353</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-41">Berdasarkan perhitungan statistik tabel 5, dapat dikatakan bahwa variabel konstruk Moralitas Individu <bold id="_bold-70">tidak</bold> <bold id="_bold-71">berpengaruh</bold>terhadap Resiko Terjadinya <italic id="_italic-132">Fraud</italic> dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS pada RSU Al-Islam H.M. Mawardi Krian. Dapat dilihat bahwa <italic id="_italic-133">t-statistic </italic>sebesar 0.929 yakni kurang dari <italic id="_italic-134">t-table </italic>1.96. Dengan demikian hipotesis 1 dalam penelitian ini ditolak. Hal ini sesuai dengan penelitian [14] yang menyatakan bahwa Moralitas Individu tidak bepengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Alasan hipotesis 1 tidak diterima karena moralitas individu terdapat level penalaran moral yang dimana akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang tersebut. Semakin rendah level penalaran moral individu, maka seseorang akan cenderung untuk melakukan tindakan kecurangan akuntansi. Sebaliknya, jika level penalaran moral individu tersebut tinggi maka seseorang cenderung untuk tidak melakukan kecurangan akuntansi [13]. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian [14], [15], dan [16] yang menyatakan bahwa moralitas individu tidak berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi. Namun, hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian [17] yang menyimpulkan bahwa moralitas individu berpengaruh dalam pencegahan kecurangan.</p>
      <p id="_paragraph-42">
        <bold id="_bold-72">Pengaruh</bold>
        <bold id="_bold-73">Pengen</bold>
        <bold id="_bold-74">dalian</bold>
        <bold id="_bold-75">Internal </bold>
        <bold id="_bold-76">terhadap</bold>
        <bold id="_bold-77">Resiko</bold>
        <bold id="_bold-78">Terjadinya</bold>
        <italic id="_italic-135">
          <bold id="_bold-79">Fraud</bold>
        </italic>
        <bold id="_bold-79" />
        <bold id="_bold-80">dala</bold>
        <bold id="_bold-81">m</bold>
        <bold id="_bold-82">Pelaksanaan</bold>
        <bold id="_bold-83">Jaminan</bold>
        <bold id="_bold-84">Kesehatan</bold>
        <bold id="_bold-85">BPJS </bold>
      </p>
      <table-wrap id="_table-figure-6">
        <label>Table 6</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="_bold-87" />
            <bold id="_bold-88">Hasil Uji </bold>
            <bold id="_bold-89">Hipo</bold>
            <bold id="_bold-90">tesis</bold>
            <bold id="_bold-91">2</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-44" />
        </caption>
        <table id="_table-6">
          <tbody>
            <tr id="table-row-18f23a7d37c99695756dfcf9ea68611c">
              <td id="table-cell-1f7ba8cb36ece8d75a38625a0cbec90e" />
              <td id="table-cell-233817d82b76135239d93835a2669353">Sampel Asli (O)</td>
              <td id="table-cell-fc41f543e3baa65185946eeb6146ee47">TStatistik(STDEV)</td>
              <td id="table-cell-a16cb5815cd98b850b8d2ad477c7865c"> P Values </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-923fb37b55281f973fefe7f758172771">
              <td id="table-cell-e878b963dd6cf0dddf07b28046f44fd1">X2-&gt; Y</td>
              <td id="table-cell-b80d4133b84f1488579ca0b3ccbe5beb">0.183</td>
              <td id="table-cell-08c0bda785cf1368577d4e07658289b6">2.398</td>
              <td id="table-cell-bd8acb6af6adae3cffa42fe16792564e">0.017</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-45">Berdasarkan hasil dari perhitungan statistik tabel 6, dapat disimpulkan bahwa variabel Pengendalian Internal <bold id="_bold-100">berpengaruh</bold>terhadap Resiko Terjadinya Kecurangan dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS. Hal ini dapat dilihat bahwa <italic id="_italic-138">t-statistic</italic> sebesar 2.398 yakni lebih dari <italic id="_italic-139">t-table </italic>1.96. Sehingga, hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima. Hal ini sejalan dengan penelitian [18] yang menujukkan bahwa Pengendalian Internal berpengaruh terhadap Resiko Kecurangan dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan. Alasan hipotesis kedua diterima karena rumah sakit telah menunjukkan pengendalian internal yang baik seperti lingkungan pengendalian, penilaian resiko, informasi dan komunikasi, aktivitas pengendalian, serta pemantauan di rumah sakit telah diterapkan dan berjalan dengan baik. Sehingga dengan adanya kelima aktivitas pengendalian internal tersebut dapat mencegah resiko kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan [22]</p>
      <p id="_paragraph-46">Hasil temuan ini juga sejalan dengan teori <italic id="_italic-140">fraud triangle </italic>yaitu dengan adanya suatu sistem pengendalian internal pada sebuah instansi, maka akan mampu mengatasi masalah kecurangan dalam proses pelaksanaan pengadaan. Semakin optimal penerapan pengendalian internal dalam sebuah instansi, maka akan cenderung rendah tingkat terjadinya kecurangan. Sebaliknya, jika kualitas sistem pengendalian internal pada sebuah instansi buruk, maka hal itu dapat menyebabkan munculnya kesempatan bagi karyawan untuk melakukan tindakan kecurangan (<italic id="_italic-141">fraud</italic>). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian [17], [7] yang menyatakan bahwa pengendalian internal berpengaruh signifikan terhadap pencegahan kecurangan. Namun, penelitian tidak mendukung penelitian yang dilakukan [8] dimana penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat interaksi antara sistem pengendalian internal terhadap pencegahan kecurangan. Kondisi ini dapat terjadi ketika lemahnya pengawasan dan proses dokumentasi yang tidak tepat. Hal ini menunjukkan sistem pengendalian internal yang kurang optimal akan menyebabkan kerugian secara materil serta menghambat upaya pencegahan kecurangan.</p>
      <p id="_paragraph-47">
        <bold id="_bold-101">Pengaruh</bold>
        <bold id="_bold-102">Moralitas</bold>
        <bold id="_bold-103">Individu</bold>
        <bold id="_bold-104">terhadap</bold>
        <bold id="_bold-105">Resiko</bold>
        <bold id="_bold-106">Terjadinya</bold>
        <italic id="_italic-142">
          <bold id="_bold-107">Fraud </bold>
        </italic>
        <bold id="_bold-108">dalam</bold>
        <bold id="_bold-109">Pelaksanaan</bold>
        <bold id="_bold-110">Jaminan</bold>
        <bold id="_bold-111">Kesehatan BPJ</bold>
        <bold id="_bold-112">S </bold>
        <bold id="_bold-113">dengan</bold>
        <bold id="_bold-114">Budaya</bold>
        <bold id="_bold-115">Etis</bold>
        <bold id="_bold-116">Organisasi</bold>
        <bold id="_bold-117">sebagai</bold>
        <bold id="_bold-118">Variabel</bold>
        <bold id="_bold-119">Pemoderasi</bold>
      </p>
      <table-wrap id="_table-figure-7">
        <label>Table 7</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-ca7cf0533c3392a372f5835bd3f9e674">Hasil Uji </bold>
            <bold id="_bold-122">Hipotesis</bold>
            <bold id="_bold-123">3</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-49" />
        </caption>
        <table id="_table-7">
          <tbody>
            <tr id="table-row-82e54eea0e851ff8dbc858e624f01070">
              <td id="table-cell-9bf07b33892545a3fbc34648082dc34e" />
              <td id="table-cell-b0825b0ef44bbc5c8a66a4b25333bc64">Sampel Asli (O)</td>
              <td id="table-cell-2abf8322c108a07f21e256f44b9357a7">TStatistik(STDEV)</td>
              <td id="table-cell-536ddd099736fe29e00fbd08679721a1"> P Values </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-d9131c5729e60799d23fb71762664be2">
              <td id="table-cell-04ff36768509774adeb2cf0b8768076f">EfekModerasi 1 X1*Z</td>
              <td id="table-cell-10f372270b84d9df3cad9c85418b3b55">-0.234</td>
              <td id="table-cell-4c86e823dd184df895e6fcb328b5f82b">3.083</td>
              <td id="table-cell-e66b75fcc991410c8a3312ff566bfaed">0.002</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-50">Berdasarkan data perhitungan statistik pada tabel 7, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini Budaya Etis Organisasi memoderasi Moralitas Individu (X1*Z) <bold id="_bold-132">tidak</bold> <bold id="_bold-133">berpengaruh</bold>terhadap Resiko Terjadinya Kecurangan dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS di RSU Al-Islam H.M. Mawardi Krian. Berdasarkan data perhitungan statistik dalam penelitian ini, dapat dilihat bahwa <italic id="_italic-145">t-statistic </italic>sebesar 3.083 yakni lebih dari <italic id="_italic-146">t-table </italic>1.96. Sedangkan nilai <italic id="_italic-147">original sample </italic>sebesar -0.234. Dari hasil penelitian ini dapat diinterpretasikan bahwa Budaya Etis Organisasi tidak mampu memperkuat pengaruh Moralitas Individu terhadap Resiko Terjadinya Kecurangan (<italic id="_italic-148">Fraud</italic>) dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS. Menurut penelitian [6] jika budaya etis organisasi cenderung membuat standar etika anggotanya tinggi, maka akan berpengaruh positif terhadap perilaku pegawainya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian [8], [10], [16], [18] yang menyatakan bahwa budaya etis organisasi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian [19] yang menyatakan bahwa Budaya Etis Organisasi mampu memoderasi hubungan sistem pengendalian internal pemerintah terhadap pencegahan kecurangan pengadaan barang dan jasa.</p>
      <p id="_paragraph-51">
        <bold id="_bold-134">Pengaruh</bold>
        <bold id="_bold-135">Pengendalian</bold>
        <bold id="_bold-136">Internal </bold>
        <bold id="_bold-137">terhadap</bold>
        <bold id="_bold-138">Resiko</bold>
        <bold id="_bold-139">Terjadinya</bold>
        <italic id="_italic-149">
          <bold id="_bold-140">Fraud </bold>
        </italic>
        <bold id="_bold-141">dala</bold>
        <bold id="_bold-142">m</bold>
        <bold id="_bold-143">Pelaksanaan</bold>
        <bold id="_bold-144">Jaminan</bold>
        <bold id="_bold-145">Kesehatan</bold>
        <bold id="_bold-146">BPJS </bold>
        <bold id="_bold-147">dengan</bold>
        <bold id="_bold-148">Budaya</bold>
        <bold id="_bold-149">Etis</bold>
        <bold id="_bold-150">Organisasi</bold>
        <bold id="_bold-151">sebagai</bold>
        <bold id="_bold-152">Variabel</bold>
        <bold id="_bold-153">Pemoderasi</bold>
      </p>
      <table-wrap id="_table-figure-8">
        <label>Table 8</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-1db3680f08ccc7485342625fd2b99e3c">Hasil Uji </bold>
            <bold id="_bold-156">Hipotesis</bold>
            <bold id="_bold-157">4</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-53" />
        </caption>
        <table id="_table-8">
          <tbody>
            <tr id="table-row-6c0b699de0fc090f47e912704dd26c94">
              <td id="table-cell-e94ca9f3163a11561de8d2842d6b3469" />
              <td id="table-cell-404750d128dc01a227bacf76e988a09d">Sampel Asli (O)</td>
              <td id="table-cell-641aa42e773931dee56498e9f4be9402">TStatistik(STDEV)</td>
              <td id="table-cell-8f748971ecaa15877897df2704498848"> P Values </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-d7a2404ccaafb7ce45f9981170c3ca7a">
              <td id="table-cell-7372065fe15c0f160a96244108446a38">EfekModerasi 2 X2*Z</td>
              <td id="table-cell-caddee1a4c2eebd964336e63ca7a6457">-0.011</td>
              <td id="table-cell-62a3f9390460c22beb01f484fb443f0c">0.112</td>
              <td id="table-cell-b59f4798900e846ebeca16e1b7d4f0c6">0.911</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-54">Berdasarkan perhitungan statistik pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Budaya Etis Organisasi memoderasi Pengendalian Internal (X2*Z) <bold id="_bold-166">tidak</bold> <bold id="_bold-167">berpengaruh</bold>terhadap Resiko Terjadinya <italic id="_italic-152">Fraud</italic> dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS. Dapat dilihat bahwa <italic id="_italic-153">t-statistic </italic>sebesar 0.112 kurang dari <italic id="_italic-154">t-table </italic>1.96. Dengan demikian hipotesis 4 dalam penelitian ini di tolak. Dari hasil penelitian ini, dapat diinterpretasikan bahwa Budaya Etis Organisasi memperlemah pengaruh Pengendalian Internal terhadap Resiko Terjadinya Kecurangan dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan BPJS pada RSU Al-Islam H.M. Mawardi Krian. Menurut penelitian [20] apabila sebuah perusahaan menerapkan standar etika yang tinggi terhadap karyawannya, hal ini akan berdampak positif pada perilaku seseorang. Oleh karena itu, budaya etis organisasi sangat cenderung pada pembentukan standar etika yang tinggi terhadap anggotanya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan [21] dan [22] yang menunjukkan bahwa budaya etis organisasi tidak berpengaruh terhadap <italic id="_italic-155">fraud. </italic>Semakin baik budaya etis organisasi, maka akan mengurangi kecenderungan terjadinya kecurangan. Namun, tidak sejalan dengan penelitian [19] yang menunjukkan bahwa budaya etis organisasi terbukti mampu memperkuat sistem pengendalian internal dalam upaya pencegahan <italic id="_italic-156">fraud </italic>pada pengadaan barang dan jasa.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-04d2b75ca092b592780cd331df94250c">
      <title>
        <bold id="_bold-168">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-56">Hasil penelitian ini menujukkan bahwa moralitas individu tidak berpengaruh terhadap resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS. Moralitas individu terdapat level penalaran moral yang dimana akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang tersebut. Pengendalian internal berpengaruh terhadap resiko terjadinya <italic id="_italic-157">fraud </italic>dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS. Adanya kelima aktivitas pengendalian internal dapat mencegah resiko kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan. Hal ini merepresentasikan teori <italic id="_italic-158">fraud triangle</italic> dalam mencegah kecurangan. Budaya etis organisasi memperlemah hubungan moralitas individu dan pengendalian internal terhadap resiko terjadinya <italic id="_italic-159">fraud </italic>dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS. Jika budaya etis organisasi cenderung membuat standar etika anggotanya tinggi, maka akan berpengaruh positif terhadap perilaku pegawainya.</p>
      <p id="_paragraph-57">Secara keseluruhan, penelitian ini berimplikasi kepada rumah sakit agar kedepannya pihak manajemen rumah sakit lebih memperhatikan dan memperbaiki pengendalian internal dalam meningkatkan moralitas pegawai sehingga tujuan rumah sakit dalam mencegah terjadinya kecurangan dapat tercapai.</p>
      <p id="_paragraph-58">Penelitian selanjutnya dapat mengganti subjek penelitian dengan perusahaan manufaktur. Sehingga, hasil penelitian tidak hanya terbatas pada rumah sakit namun dapat mencerminkan secara luas mengenai faktor-faktor apa saja yang dapat mencegah resiko terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan BPJS. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahakan objek penelitian menjadi lebih dari satu rumah sakit agar hasil penelitian secara keseluruhan dapat digeneralisasikan.</p>
      <p id="paragraph-d3b11e572349f3afb844243a29645394" />
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>