<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>GAMBARAN SCHOOL WELL-BEING PADA SISWA SMK 10 NOPEMBER SIDOARJO</article-title>
        <subtitle>DESCRIPTION OF SCHOOL WELL-BEING ON STUDENTS OF VOCATIONAL SCHOOL 10 NOVEMBER SIDOARJO</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-913cecf326ce6cf25b0d40157a259b38" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Oktaviyanto</surname>
            <given-names>Edwin</given-names>
          </name>
          <email>edwinoktaviyanto10@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-a89ec75aa71194b43f9a98a57d26fbe0" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Paryontri</surname>
            <given-names>Ramon Ananda</given-names>
          </name>
          <email>ramon.ananda@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-09-22">
          <day>22</day>
          <month>09</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-86e32a076d781106a245a47af6744a55">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-11">Sekolah adalah salah satu elemen yang penting dalam proses perkembangan pendidikan individu. Aspek yang penting bagi remaja untuk perkembangan karirnya di masa depan adalah pendidikan [1]. Remaja pada umumnya berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah lanjutan dari pendidikan wajib 9 tahun yang memberikan pendidikan sekunder bagi siswanya [2].</p>
      <p id="_paragraph-12">Undang undang tentang pendidikan PP No.29 tahun 1990 pasal 1 ayat 1 tentang pendidikan menengah menyatakan SMA merupakan adalah bentuk pendidikan menengah, yaitu pendidikan untuk lulusan dasar. Tujuan SMA, tertera dalam PP No 29 tahun 1990 pasal 2 ayat 1 adalah 1) untuk meningkatkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan juga kesenian 2) meningkatkan kemampuan siswa dalam membangun hubungan yang baik di masyarakat dan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitarnya. Sedangkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah pendidikan yang mengutamakan perkembangan kemampuan siswanya untuk melakukan pekerjaan yang di inginkan. Tujuan SMK, tertera dalam PP No 29 tahun 1990 pasal 3 ayat 2, yakni mengembangkan sikap profesional dalam bekerja serta agar siswa tersebut siap untuk memasuki dunia pekerjaan.</p>
      <p id="_paragraph-13">Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan telah dilakukan ditermukan permasalahan yang di alami oleh siswa diantaranya adalah masalah pemenuhan diri (<italic id="_italic-22">Being</italic>) hal ini bisa dilihat dari hasil wawancara dengan siswa yang mengatakan seharusnya siswa SMK lebih banyak melakukan praktek dari pada tugas di kelas, hubungan sosial (<italic id="_italic-23">loving</italic>) bisa di lihat dari siswa lain yang mengatakan bahwa mereka lebih suka mengerjakan tugas individu dari pada kelompok, karena dengan alesan tugas kelompok membuat mereka kesulitan membagi tugas, dan kesehatan (<italic id="_italic-24">health</italic>) bisa di lihat dari siswa M yang sering bosan ketika guru menerangkan teori pelajaran. Masalah – masalah yang di alami siswa di atas, merupakan aspek-aspek dari <italic id="_italic-25">school well-being</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-14">Penelitian yang telah dilakukan dengan judul “Pengaruh <italic id="_italic-26">School Well-Being</italic> Terhadap Motivasi Belajar Siswa” juga menjelaskan bahwa <italic id="_italic-27">school well-being</italic> memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar siswa (r = 0,297) [3]. Tingginya aspek <italic id="_italic-28">school well-being</italic> dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ketika sedang dalam proses pembelajaran di kelas. Siswa merasa nyaman dengan penyampaian yang diberikan oleh guru sehingga tugas berat pun menjadi terasa ringan ketika diberikan secara bertahap [4].</p>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian yang telah dilakukan dengan judul “<italic id="_italic-29">School Well-Being</italic> Siswa Ditinjau dari Jenis Sekolah” menunjukkan ada perbedaan yang signifikan. Siswa yang sedang melakukan proses pembelajaran di jenjang SMA negeri memiliki <italic id="_italic-30">school well-being</italic> lebih tinggi dibandingkan dengan siswa MA Pondok pesantren [5]. Hal ini juga sesuai dengan penelitian lain yang menyebutkan bahwa siswa SMP yang melakukan <italic id="_italic-31">full day school</italic> memiliki <italic id="_italic-32">school well-being</italic> lebih rendah dibandingkan dengan siswa SMP yang <italic id="_italic-33">non full day sch</italic><italic id="_italic-34">o</italic><italic id="_italic-35">o</italic><italic id="_italic-36">l </italic>[6]. Pemberian pembelajaran terlalu lama membuat siswa atau murid merasa bosan ketika sedang melakukan proses pembelajaran [7].</p>
      <p id="_paragraph-16"><italic id="_italic-37">S</italic><italic id="_italic-38">chool well-being </italic>(kesejahteraan siswa di sekolah)adalah sebuah keadaan sekolah yang memuaskan kebutuhan dasar siswanya, meliputi <italic id="_italic-39">having </italic>(kondisi sekolah<italic id="_italic-40">), loving </italic>(hubungan sosial),<italic id="_italic-41"> being </italic>(pemenuhan diri), dan <italic id="_italic-42">health </italic>(kesehatan) [8]. Keempat aspek tersebut merupakan syarat terwujudnya kesejahteraan bagi siswa di sekolah. <italic id="_italic-43">School well-being</italic> merupakan kehidupan emosional yang positif yang di hasilkan antara faktor lingkungan, kebutuhan pribadi, dan harapan siswa di sekolah yang sejalan.</p>
      <p id="_paragraph-17">Program <italic id="_italic-44">school well-being </italic>menjadi penting diterapkan di sekolah karena siswa yang sehat merasa bahagia dan sejahtera dalam mengikuti pelajaran di kelas, dapat secara efektif dan memberi kontribusi positif pada sekolah dan lebih luas lagi pada komunitas [9]. <italic id="_italic-45">School </italic><italic id="_italic-46">Well-being </italic>harus menjadi fungsi pendidikan utama, dan semua sekolah harus digerakkan untuk memaksimalkan pertumbuhan siswa dan pendidik. Kesejahteraan pada siswa biasanya ditandai dengan adanya perilaku positif yang berhubungan dengan baiknya performa akademik siswa, hubungan interpersonal yang baik, serta tidak adanya masalah perilaku pada siswa seperti penurunan prestasi, ketidakhadiran di kelas, kurangnya perilaku prososial serta masalah kesehatan mental siswa [5].</p>
      <p id="_paragraph-18">Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk mgnadakan penelitian tentang gambaran <italic id="_italic-47">school well-being</italic> pada siswa SMK 10 Nopember.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-ef517757bb97c3798523bf5732aa0f32">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-19">Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif, bertujuan untuk mengetahui tingkat <italic id="_italic-48">school well-being</italic> pada siswa SMK 10 Nopember Sidoarjo. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa SMK 10 Nopember dengan jumlah 1.316 siswa. Sampel penelitian berjumlah 279 siswa.</p>
      <p id="_paragraph-20">Teknik sampling yang digunakan adalah <italic id="_italic-49">proportionate stratified random sampling</italic><italic id="_italic-50">. </italic><italic id="_italic-51">proportionate stratified random sampling</italic> adalah teknik pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proporsional [10]. Teknik pengumpulan data yang digunakan iadalah skala psikologi berupa skala <italic id="_italic-52">school well-being</italic> dengan model skala <italic id="_italic-53">L</italic><italic id="_italic-54">ikert</italic> yang dibuat oleh peneliti berdasarkan aspek yang ada dalam <italic id="_italic-55">school well-being</italic> yaitu aspek <italic id="_italic-56">having, loving, being</italic> dan<italic id="_italic-57"> health</italic>. Analisis datai yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan menggunakan <italic id="_italic-58">microsoft excel</italic>.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-7bcb0617d0f81d09c5753f6c32ec4fe8">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-d60f1a020201c977339f2398f3739b70">
        <title>Hasil</title>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-11"/>Distribusi Subjek</title>
            <p id="_paragraph-22" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-52b8024fc15e5f2da28be1edf701dbba">
                <td id="table-cell-d4413875b9d2ca26c22272691b83bb95">Kelas</td>
                <td id="table-cell-ccc8b9e0c8c80701f764ca982f11c57c">Jumlah</td>
                <td id="table-cell-90523fdbc357ff119a317c0aa23d70eb">Persentase</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a76f1ca047bb244305653ceef3c7dcf6">
                <td id="table-cell-dab049b2649ce9da3ef488c3cb69e8e8">X</td>
                <td id="table-cell-f68da1fd8b62b8306d7d9a3b0d1f2423">80</td>
                <td id="table-cell-707eb86707e16630952492936d94dada">29%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c869dbefb48a90c3d202fca47c2b824d">
                <td id="table-cell-7d5dc8e2a2472b22d3aa3a260db6d93a">XI</td>
                <td id="table-cell-f58b0842b1e0655a520a08c595c9e17c">89</td>
                <td id="table-cell-05df8d70c000253c4ff8ffb566f4c68c">32%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-2f1532eb4a48e911c71fdc33e7cebf75">
                <td id="table-cell-676e3196ecd05d6d25c5f69db52f97da">XII</td>
                <td id="table-cell-66a5d6d578dc101204d968bb069349b2">110</td>
                <td id="table-cell-faaf47948759bf44364fee537d84db5b">39%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b4e74f9b36b37076fc3b16b6c28d7195">
                <td id="table-cell-b39d1494515bd65762179abbd894de18">Total</td>
                <td id="table-cell-9fdd819230bee46be111293efbc28951">279</td>
                <td id="table-cell-dc81944eee5a02575af13b2d06f59148">100%</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-23">Berdasarkan tabel 1 tersebut, distribusi subjek penelitian yang dikelompokkan berdasarkan masing-masing kelas.</p>
        <fig id="figure-panel-4cd73065b34e280a731fd09cc0473242">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-20"/>Tingkatan Kategori <italic id="_italic-59">School Well-Being</italic></title>
            <p id="paragraph-39b0b3d6e4e6c20199948ea98d66f8e8" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-4089fc25fa1fa8afd94116841cd89742" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47134-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-25">Berdasarkan Gambar 1. di atas diketahui bahwa 38 siswa dengan presentase 14% memiliki <italic id="_italic-60">school well-being</italic> tinggi, sedangkan siswa yang memiliki <italic id="_italic-61">school well-being</italic> sedang sebesar 200 siswa dengan presentase 72% dan yang memiliki <italic id="_italic-62">school well-being</italic> rendah sebesar 41 siswa dengan presentase 16%. Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar <italic id="_italic-63">school well-being</italic> yang dimiliki siswa SMK 10 Nopember dalam kategori sedang.</p>
        <fig id="figure-panel-2abe79dd1fa94814a48e81a08e0305a8">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-22"/>Tingkatan Kategori <italic id="_italic-64">School Well-Being</italic> Berdasarkan Rata-Rata Aspek</title>
            <p id="paragraph-8f0d139c1d3aa09f232f34938cee94d9" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-44d223e7c4c78a075a2879a929d7883f" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47135-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-27">Berdasarkan Gambar 2. diketahui bahwa aspek yang mempunyai nilai paling besar adalah <italic id="_italic-65">loving</italic> dengan nilai rata-rata sebesar 15,23, aspek kedua yaitu <italic id="_italic-66">being</italic> dengan nilai rata-rata sebesar 12,20, aspek ketiga yaitu <italic id="_italic-67">healt</italic> dengan nilai rata-rata sebesar 11,59 dan aspek yang terakhir yaitu <italic id="_italic-68">having</italic> dengan nilai rata-rata 6,11.</p>
        <fig id="figure-panel-a9c8ae11d4b460faeafa0fc85cf7f588">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-24"/>Tingkatan Kategori Rata-Rata <italic id="_italic-69">School Well-Being</italic> Berdasarkan Kelas</title>
            <p id="paragraph-4fcb60b4f4d63e1d4693c69634941949" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-63c18e61c592ca7e50278eb00cfc15fa" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47136-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-29">Berdasarkan Gambar 3. diketahui bahwa kelas yang mempunyai nilai paling besar adalah kelas XII dengan nilai rata-rata 45,44. Kelas X memiliki nilai rata-rata 45,03. Sedangkan kelas dengan nilai terendah didapatkan oleh kelas XI dengan nilai rata-rata 44,85. Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa <italic id="_italic-70">school well-being</italic> yang dimiliki siswa SMK 10 Nopember memiliki nilai rata-rata tinggi.</p>
        <p id="_paragraph-30">Setelah menjelaskan mengenai hasil dari <italic id="_italic-71">school well-being</italic> SMK 10 Nopember secara umum (keseluruhan), maka lebih dalam peneliti akan menjelaskan mengenai <italic id="_italic-72">school well-being</italic> berdasarkan aspek-aspek yang ada dalam <italic id="_italic-73">school well-being</italic>. Hasilnya dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini.</p>
        <fig id="figure-panel-55e4e4e5f02bfb44560e5f53206f9df5">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-26"/>Tingkatan Kategori <italic id="_italic-74">School Well-Being</italic> Berdasarkan Aspek <italic id="_italic-75">Having</italic></title>
            <p id="paragraph-4e185fd9b5c37b935f4cc0c65409207e" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-102f012677e12a7f32f6b215f4fea811" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47137-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-32">Berdasarkan Gambar 4. diketahui bahwa <italic id="_italic-76">school well-being</italic> berdasarkan aspek <italic id="_italic-77">having</italic> pada siswa SMK 10 Nopember, dari 279 siswa dengan ketegori “tinggi” sebanyak 40 orang dan skor persentase 14%, kategori “sedang” terdapat 146 orang dengan persentase 52%, dan kategori “rendah” sebanyak 93 orang dengan persentase 34%. Hal ini bisa disimpulkan bahwa pada aspek <italic id="_italic-78">having, </italic>sebagian besar siswa (52%) memiliki rasa nyaman pada kondisi sekolah yang meliputi lingkungan fisik, fasilitas di sekolah, jadwal pelajaran, dan hukuman.</p>
        <fig id="figure-panel-c8843cea3c17d9180f31b7448abcacf4">
          <label>Figure 5</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-28"/>Tingkatan Kategori <italic id="_italic-79">School Well-Being</italic> Berdasarkan Aspek <italic id="_italic-80">Loving</italic></title>
            <p id="paragraph-2a4d2426c73ef3bc0af60d2345092060" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-06490b4e4ca5ee65dfded7c331c788b5" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47138-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-34">Berdasarkan Gambar 5. diketahui bahwa bahwa <italic id="_italic-81">school well-being</italic> berdasarkan aspek <italic id="_italic-82">loving</italic> pada siswa SMK 10 Nopember, dari 279 siswa dengan ketegori “tinggi” sebanyak 31 siswa dan skor persentase 11%, kategori “sedang” terdapat 204 siswa dengan persentase 73%, dan kategori “rendah” sebanyak 44 siswa dengan persentase 16%. Hal ini bisa disimpulkan bahwa pada aspek<italic id="_italic-83"> loving, </italic>sebagian besar siswa (73%) siswa dapat merasakan kasih sayang dari lingkungan sekolah.</p>
        <fig id="figure-panel-260ba20d62495cd48820025ca21212ac">
          <label>Figure 6</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-30"/>Tingkatan Kategori <italic id="_italic-84">School Well-Being</italic> Berdasarkan Aspek <italic id="_italic-85">Being</italic></title>
            <p id="paragraph-701ea6853a5d63a02d128205894dd0b6" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-46ef2a934513e5b8320303e5c395f97f" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47139-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-36">Berdasarkan Gambar 6. diketahui bahwa <italic id="_italic-86">school well being</italic> berdasarkan aspek<italic id="_italic-87"> being</italic> pada siswa SMK 10 Nopember, dari 297 siswa dengan ketegori “tinggi” sebanyak 53 siswa dan skor persentase 19%, kategori “sedang” terdapat 154 siswa dengan persentase 55%, dan kategori “rendah” sebanyak 72 siswa dengan persentase 26%. Hal ini bisa disimpulkan bahwa pada aspek <italic id="_italic-88">being</italic>, sebagian besar siswa (55%) siswa mendapatkan pemenuhan diri di sekolah.</p>
        <fig id="figure-panel-c0ee23ea3e8808edf56e87f7443b5ccf">
          <label>Figure 7</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-32"/>Tingkatan Kategori <italic id="_italic-89">School Well-Being</italic> Berdasarkan Aspek <italic id="_italic-90">Health</italic></title>
            <p id="paragraph-3a14290a3aca3ebc1b21cbce5134a424" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-5f76a45ec5e17981500a693fb57b785e" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5409-Other-47140-1-2-20220922.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-38">Berdasarkan Gambar 7. diketahui bahwa <italic id="_italic-91">school well being</italic> berdasarkan aspek<italic id="_italic-92"> health</italic> pada siswa SMK 10 Nopember, dari 297 siswa dengan ketegori “tinggi” sebanyak 13 siswa dan skor persentase 5%, kategori “sedang” terdapat 195 siswa dengan persentase 70%, dan kategori “rendah” sebanyak 71 siswa dengan persentase 25%. Hal ini bisa disimpulkan bahwa pada aspek <italic id="_italic-93">health</italic>, sebagian besar siswa (70%) siswa memiliki kondisi fisik dan mental baik.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-609ffc0e7206d288809be3ca6a45ecb2">
        <title>Pembahasan</title>
        <p id="_paragraph-39">Secara keseluruhan, hasil penelitian ini diperoleh bahwa kategori<italic id="_italic-94"> school well-being </italic>siswa SMK 10 Nopember berada pada kategori sedang dengan jumlah siswa 200 siswa yang memiliki persentase 70%. Hal ini menunjukkan siswa cukup penilaian terhadap kondisi lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta menyenangkan, sehingga siswa dapat memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup <italic id="_italic-95">having</italic>, <italic id="_italic-96">loving</italic>, <italic id="_italic-97">being</italic>, dan <italic id="_italic-98">health</italic><italic id="_italic-99">status</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-40"><italic id="_italic-100">School well-being</italic> yang baik dapat menurunkan agresivitas siswa. [11] dalam penelitiannya mengatakan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara <italic id="_italic-101">school well-being</italic> dengan agresivitas. Siswa yang mampu menciptakan memahami kondisi sekolah dan dirinya dapat menurunkan tingkat agresifitas pada saat pembelajaran disekolah, hal tersebut berdampak kepada hasil belajar yang didapat oleh siswa.</p>
        <p id="_paragraph-41">Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh [12] menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara <italic id="_italic-102">school well-being </italic>dengan motivasi belajar. Penelitiannya menemukan bahwa semakin tinggi <italic id="_italic-103">school well-being </italic>yang dirasakan oleh siswa maka akan semakin memberikan motivasi belajar tinggi terhadap siswa. [13] menyatakan <italic id="_italic-104">school well-being</italic> sangat bermanfaat dan berguna untuk siswa dalam setiap kegiatan akademiknya, karena dengan adanya <italic id="_italic-105">school well-being</italic> dapat membuat siswa lebih nyaman terhadapt dirinya, berkonsentrasi, fokus, kreatif dan memudahkan dalam proses penyerapan informasi saat pembelajaran berlangsung yang akhirnya bisa berdampak pada hasil capaian tugas yang maksimal [14].</p>
        <p id="_paragraph-42">Aspek <italic id="_italic-106">having</italic> merupakan keadaan siswa yang merasa nyaman pada kondisi sekolah yang meliputi lingkungan fisik, fasilitas di sekolah, jadwal pelajaran, dan hukuman [6]. [9] dalam <italic id="_italic-107">school well-being</italic> siswa, aspek <italic id="_italic-108">having</italic> merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan adanya <italic id="_italic-109">having </italic>yang dimiliki siswa, maka seseorang akan merasa nyaman pada kondisi sekolah yang meliputi lingkungan fisik, fasilitas di sekolah, jadwal pelajaran, dan hukuman. Pada aspek <italic id="_italic-110">having</italic>, siswa SMK 10 Nopember 52% memiliki aspek <italic id="_italic-111">having </italic>dalam kategori sedang. Namun terdapat 34% yang memiliki aspek <italic id="_italic-112">having </italic>dalam kategori renah, meskipun juga ada yang memiliki aspek <italic id="_italic-113">having </italic>dalam kategori tinggi dengan nilai sebesar 14%. Aspek <italic id="_italic-114">having</italic> dapat memunculkan pengaruh kepada aspek <italic id="_italic-115">health</italic>. Keadaan siswa yang merasa nyaman pada kondisi lingkungan fisik, fasilits, jadwal pelajaran dan hukuman yang baik dapat meningkatkan <italic id="_italic-116">health </italic>status yang dimiliki oleh siswa [4].</p>
        <p id="_paragraph-43">Aspek <italic id="_italic-117">loving</italic> merupakan perasaan siswa dalam berhubungan sosial, sehingga siswa dapat merasakan kasih sayang dari lingkungan sekolah [6]. [8] dalam <italic id="_italic-118">school well-being</italic> siswa, aspek <italic id="_italic-119">loving</italic> merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan adanya aspek <italic id="_italic-120">loving</italic>, maka individu akan menjalin hubungan baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan guru, hubungan dengan teman sebaya dan dinamika kelompok. Dengan terjalinnya hubungan sosial yang baik, maka dapat berguna dalam meningkatkan prestasi siswa di sekolah serta mengembangkan sumber daya siswa pada lingkungan Pada aspek <italic id="_italic-121">loving</italic>, siswa SMK 10 Nopember 73% memiliki aspek <italic id="_italic-122">loving </italic>dalam kategori sedang. Namun terdapat 16% yang memiliki aspek <italic id="_italic-123">loving </italic>dalam kategori rendah, meskipun juga ada yang memiliki aspek <italic id="_italic-124">loving </italic>dalam kategori tinggi dengan nilai sebesar 11%.</p>
        <p id="_paragraph-44">Aspek <italic id="_italic-125">being</italic> dapat ditinjau sebagai suatu model sekolah menciptakan keadaan yang memungkinan siswa untuk mendapatkan pemenuhan diri di sekolah [6]. [8] dalam <italic id="_italic-126">school well-being</italic> siswa, aspek <italic id="_italic-127">being</italic> merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan adanya aspek <italic id="_italic-128">being</italic>, maka siswa diberikan kesempatan untuk belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Setiap siswa sebaiknya dianggap sebagai anggota kelompok yang memiliki kebutuhan yang sama di sekolah. Dengan demikian membolehkan siswa untuk ikut berperan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan sekolah, serta peluang untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan minat siswa. Pada aspek <italic id="_italic-129">being</italic>, siswa SMK 10 Nopember 55% memiliki aspek <italic id="_italic-130">being</italic> sedang. Namun terdapat 26% yang memiliki aspek <italic id="_italic-131">being</italic> rendah, meskipun juga ada yang memiliki aspek <italic id="_italic-132">being</italic> dalam kategori tinggi dengan nilai presentase sebesar 19%.</p>
        <p id="_paragraph-45">Aspek <italic id="_italic-133">health</italic> merupakan status kesehatan pada siswa yang jika ditinjau dalam bentuk sederhana merupakan ketidakadaannya sumber penyakit dan siswa yang sakit. Kesehatan siswa meliputi aspek fisik dan mental [6]. [8] dalam <italic id="_italic-134">school well-being</italic> siswa, aspek <italic id="_italic-135">health</italic> merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan adanya aspek <italic id="_italic-136">health</italic>, maka individu akan berpenampilan rapi, bersih, seluruh fungsi fisiologi normal, tidak emosional, dan spiritualnya berjalan dengan baik. Pada aspek <italic id="_italic-137">loving</italic>, siswa SMK 10 Nopember 70% memiliki aspek <italic id="_italic-138">health </italic>dalam kategori sedang. Namun terdapat 25% yang memiliki aspek <italic id="_italic-139">health </italic>dalam kategori rendah, meskipun juga ada yang memiliki aspek <italic id="_italic-140">health </italic>dalam kategori tinggi dengan nilai sebesar 5%.</p>
        <p id="_paragraph-46">Berdasarkan penjelasan diatas, diketahui bahwa dari keempat aspek yang disebutkan oleh [6] terdapat aspek dengan rata-rata nilai yang paling tinggi dari keseluruhan responden, yaitu aspek <italic id="_italic-141">loving</italic> dengan nilai rata-rata sebesar 15,23. Hasil tersebut memiliki arti bahwa hampir seluruh responden memiliki <italic id="_italic-142">school well-being</italic> dengan baik pada aspek <italic id="_italic-143">loving</italic>. Hal itu menjelaskan bahwa siswa SMK 10 Nopember memiliki perasaan dalam berhubungan sosial, sehingga siswa dapat merasakan kasih sayang dari lingkungan sekolah.</p>
        <p id="_paragraph-47">Seperti penjelasan diatas, terdapat pula aspek dengan nilai paling rata-rata rendah dari keseluruhan responden, yaitu aspek <italic id="_italic-144">having</italic> dengan nilai rata-rata sebesar 6,11. [9] menjelaskan bahwa aspek <italic id="_italic-145">having</italic> dalam <italic id="_italic-146">school well-being</italic> adalah keadaan siswa yang merasa nyaman pada kondisi sekolah yang meliputi lingkungan fisik, fasilitas di sekolah, jadwal pelajaran, dan hukuman.</p>
        <p id="_paragraph-48">Aspek <italic id="_italic-147">loving</italic> memiliki nilai lebih tinggi daripada aspek <italic id="_italic-148">having</italic> dikarenakan pada saat melakukan proses pembelajaran, siswa memiliki hubungan sosial yang baik sehingga siswa dapat merasakan kasih sayang dari lingkungan sekolah yang diberikan oleh guru secara langsung dan bisa dirasakan. Aspek <italic id="_italic-149">having</italic> juga memiliki pengaruh namun paling rendah karena fasilitas yang nampak pada sekolah merupakan hal yang wajar yang dimiliki sekolah karena semakin bagus sekolah tidak heran jika fasilitas yang dimiliki sekolah tersebut bagus [7]</p>
        <p id="_paragraph-49"><italic id="_italic-150">School well-being</italic> memiliki peran besar dalam kesuksesan siswa menjalankan pembelajaran. Ketika siswa memahami kondisi lingkungan sekolah yang aman, nyaman serta menyenangkan, bermakna siswa tersebut memiliki <italic id="_italic-151">school well-being</italic> yang bagus, diantaranya adalah mengkontrol kemampuan yang ia miliki dalam mengambil tugas atau peran, kepercayaan dalam diri siswa dan keyakinan akan dapat menajalankan tugas yang diberikan. hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh [9] menyebutkan bahwa adanya <italic id="_italic-152">school well-being</italic> dalam diri siswa akan memudahkan dalam melakukan pembelajaran yang dijalani.</p>
        <p id="_paragraph-50">Limitasi dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data yang menggunakan <italic id="_italic-153">google form</italic>, hal ini menyebabkan peneliti tidak bisa memantau secara langsung ketika pengisian skala penelitian sehingga memungkinkan subjek tidak bersungguh-sungguh dalam memberikan jawaban. Penggunaan satu variabel juga termasuk dalam limitasi dalam penelitian ini karena dari hasil temuan penelitian terdahulu, banyak faktor yang mempengaruhi efikasi diri akademik misalnya stress akademik, motivasi berprestasi.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-afc14fdc0c914174c60f9fe3c62cb0f3">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-51">Berdasarkan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMK 10 Nopember memiliki <italic id="_italic-154">school well-being</italic> dengan kategori sedang (70%), sebagian kecil <italic id="_italic-155">school well-being</italic> (16%) dalam kategori rendah, tetapi sebagian kecil memiliki <italic id="_italic-156">school well-being</italic> (14%) dalam kategori tinggi, yang berarti siswa SMK 10 Nopember cukup mampu memunculkan kondisi <italic id="_italic-157">school well-being</italic> didalam dirinya saat proses pembelajaran di sekolah sehingga dapat merasa nyaman pada saat proses pembelajaran.</p>
      <p id="_paragraph-52">Aspek <italic id="_italic-158">school well-being</italic> siswa SMK 10 Nopember yang mempunyai nilai paling besar adalah aspek <italic id="_italic-159">loving</italic> dengan nilai rata-rata 15,23 sedangkan aspek kedua adalah aspek <italic id="_italic-160">being</italic> dengan nilai rata-rata 12,20, aspek ketiga adalah aspek <italic id="_italic-161">health</italic> dengan nilai rata-rata 11,47 dan aspek terakhir yaitu aspek <italic id="_italic-162">having</italic> dengan nilai rata-rata 6,11.</p>
      <p id="_paragraph-53"><italic id="_italic-163">School well-being</italic> dalam jenjang kelas diketahui bahwa kelas XII memiliki nilai rata-rata <italic id="_italic-164">school well-being</italic> paling tinggi yaitu sebesar 45,55. Sedangkan kelas X memiliki nilai rata-rata <italic id="_italic-165">school well-being</italic> dengan nilai 45,03. Kelas XI menjadi kelas terakhir yang memiliki nilai rata-rata paling rendah yaitu sebesar 44,85.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>