<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>HUBUNGAN ANTARA KECENDERUNGAN NARSISTIK DENGAN ADIKSI MEDIA SOSIAL PADA MAHASISWA PENGGUNA INSTAGRAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-e4e707254882d353eb2feb89cc3e618c" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Widiyanti</surname>
            <given-names>Wenny</given-names>
          </name>
          <email>wennywidiyanti20@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-08-31">
          <day>31</day>
          <month>08</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-426205382a9c2887c53c33e7ad17a045">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-11">Mahasiswa masuk dalam tahap perkembangan remaja akhir. Menurut Santrock remaja merupakan individu dengan rentang usia 12-23 tahun [1]. William Kay menyebutkan bahwa salah satu tugas remaja yaitu melakukan penggembangan kecakapan dalam interaksi interpersonal dan juga mencoba berinteraksi dengan teman seumuran atau orang sekitarnya [2]. Mulawarman mengungkapkan sekarang ini, banyak remaja yang menggunakan media sosial sebagai perantara untuk wadah dalam memperluas hubungan sosialnya [3]. Crystal mengungkapkan, adanya perbedaan bahasa diantara bahasa sehari-hari dengan bahasa yang digunakan di media sosial, membuat remaja lebih sering berkomunikasi melaui media sosial [4]. Menurut Nugroho media sosial <italic id="_italic-22">instagram</italic> saat ini tengah terkenal dikalangan remaja [5]. <italic id="_italic-23">We Are Social</italic> melaporkan bahwapada tahun 2020, media sosial <italic id="_italic-24">Instagram</italic> dengan perolehan angka 79% paling sering diakses para remaja (Aldilink.com, 2020).</p>
      <p id="_paragraph-12">Kehadiran <italic id="_italic-25">instagram</italic> sebagai media sosial baru tanpa disadari, menciptakan pola interaksi baru dan dapat dikatakan bahwa <italic id="_italic-26">instagram</italic> adalah media sosial yang menyajikan sebuah foto sebagai alat berkomunikasi. Diungkapkan oleh Lugman bahwa “angka” dijadikan salah satu faktor menjamurnya para remaja aktif di media sosial. Banyaknya “angka” yang didapatkan pengguna membuktikan bahwa pengguna tersebut telah eksis di media sosial. Besaran angka yang didapatkan menjadi indikator kepuasan bagi para remaja saat berinteraksi di media sosial. Selain angka, para remaja berlomba juga untuk mendapatkan banyak <italic id="_italic-27">follower</italic>, karena <italic id="_italic-28">followers</italic> juga sangat penting untuk menunjukkan eksistensi remaja. Semakin banyak<italic id="_italic-29"> followers</italic>, maka semakin eksis remaja tersebut [6].</p>
      <p id="_paragraph-13">Menurut sebuah penelitian apabila remaja sering menggunakan <italic id="_italic-30">instagram</italic> dapat menyebabkan terganggunya waktu tidur malam karena asyik bermain <italic id="_italic-31">instagram</italic> sehingga menganggu aktivitas kesehariannya seperti lupa mengerjakan tugas dari sekolah, sering melupakan waktu saat sedang bermain <italic id="_italic-32">instagram</italic>, dan tidak dapat mengontrol, mengurangi juga menghentikan penggunaan <italic id="_italic-33">instagram</italic>, serta malas belajar karena lebih tertarik mengakses <italic id="_italic-34">instagram</italic>untuk mencari informasi dan berita terkini [7]. Hal tersebut mengartikan bahwa adanya keinginan yang kuat untuk terus mengakses <italic id="_italic-35">instagram</italic> pada remaja menyebabkan remaja adiksi media sosial.</p>
      <p id="_paragraph-14">Berdasarkan fenomena adiksi media sosial yang telah dipaparkan diatas, peneliti melakukan survey untuk studi pendahuluan dengan 10 orang Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang berbeda fakultas. Peneliti mendapatkan bahwa 10 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tersebut memiliki akun<italic id="_italic-36">instagram</italic> dan akun media sosial lainnya. 10 mahasiswa menyebutkan bahwa mereka bisa bermain media sosial lebih dari 6 jam lamanya per hari. Alasan mereka sering mengakses media sosial hampir setiap hari adalah untuk hiburan ketika bosan dan untuk mencari informasi terbaru. Bahkan mahasiswa perempuan menyebutkan, dapat mengaktifkan <italic id="_italic-37">instagram</italic>selama 24 jam untuk memantau jumlah <italic id="_italic-38">likes</italic> dan komentar pujian yang didapatkan setelah mereka mengunggah aktivitas pada akun media sosial mereka. Serta mereka menambahkan bahwa ketika mengakses <italic id="_italic-39">instagram</italic>, malas melakukan kegiatan lainnya dan malas untuk mengerjakan tugas karena sedang asyik melihat gambar-gambar di <italic id="_italic-40">instagram</italic>, serta lebih memilih menunda mengerjakan tugas.</p>
      <p id="_paragraph-15">Adiksi media sosial pada individu dipengaruhi beberapa faktor- faktor seperti, adanya budaya individualis, konstruksi egosentris, pemikiran pragmatis, model komunikasi dan identitas narsistik. Pembentukan identitas narsistik yang dimaksudkan adalah, karena media sosial yang dijadikan sebagai wadah untuk mengekspresikan diri sesuai dengan kemauan individu, sehingga banyak individu yang rajin bermain media sosial untuk menunjukkan citra dirinya melalui sebuah unggahan aktivitas keseharian, tanggapan, <italic id="_italic-41">notes</italic>, dan bermacam fitur dalam media sosial yang dapat digunakan penggunanya untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Seseorang yang berkecenderungan narsistik akan lebih rajin bermain media sosial untuk menjaga eksistensi supaya menjadi pusat perhatian, karena media sosial mampu menjadikan seseorang berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkannya [4].</p>
      <p id="_paragraph-16">Narssistik merupakan suatu fase perasaan cinta yang berlebihan kepada diri sendiri atau <italic id="_italic-42">self-love</italic>. Selain itu, individu dengan kecenderungan narsistik juga cenderung senang membicarakan dan memuji diri sendiri. Yanti mengungkapkan individu dengan kecenderungan narsistik senang apabila menjadi pusat perhatian orang lain, terlebih lagi seseorang berkecenderungan narsistik senang memotret [4]. Penelitian lainnya juga dilakukan oleh Sorokowski, dalam penelitiannya tersebut menemukan bahwa seorang yang berkecenderungan narsistik diatas rata-rata, rajin memperbarui potret dirinya di media sosial [8]. Buffardi &amp; Campbell, juga menemukan adanya keterkaitan diantara narsisme dengan penggunaan media sosial. Media sosial seperti <italic id="_italic-43">Facebook,Instagram</italic>,<italic id="_italic-44">Snapchat</italic> dan situ lainnya sangat tepat dijadikan sebagai lingkungan sosial yang ideal bagi seseorang menghargai dan tertarik dalam aktivitas peningkatan ego. Sehingga seseorang dengan persentase kecenderungan narsistik diatas rata-rata, akan mengakses media sosial secara berulang-ulang dan terus-menerus, hingga kebutuhan akan pengakuan dari orang dan arti diri yang ideal diakui terpenuhi [9].</p>
      <p id="_paragraph-17">Adanya perilaku di kalangan mahasiswa yang mengakses media sosial dimanapun dan kapanpun secara terus menerus, tanpa mereka sadari, aktivitas tersebut didasari adanya kecenderungan narsistik yang sekarang banyak menjangkit remaja. Selain itu, Kuss &amp; Griffiths mengungkapkan, pemakaian media sosial secara berlebih mengakibatkan adiksi bahkan menimbulkan penyakit psikis bagi individu [10]. Secsio et al, juga menambahkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan memberikan dampak negatif bagi penggunanya seperti pelaku ujaran kebencian hingga perdagangan remaja [9]. Kemunculan media sosial memudahkan bagi remaja dalam menyembunyikan jati diri serta rentan melakukan tindak kriminal [9]. Sama halnya dengan adiksi, perilaku narsistik apabila tidak cepat ditangani akan berakibat fatal terhadap mental individu, karena menurut penelitian di Swiss dalam BBC, individu yang narsistik mengalami lebih banyak stress dalam hidup mereka, hingga dapat menyebabkan kecelakaan juga dapat menyebabkan rusaknya hubungan dengan teman disekelilingnya [11].</p>
      <p id="_paragraph-18">Adanya penjabaran latar belakang diatas, menyimpulkan bahwasannya tujuan dari penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hubungan diantara kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial pada mahasiswa pengguna <italic id="_italic-45">instagram</italic> Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dalam penelitian ini, hipotesis yang diajukan yaitu terdapat hubungan positif diantara kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial pada mahasiswa pengguna <italic id="_italic-46">instagram</italic> Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dimana, semakin tinggi tingkat kecenderungan mahasiswa, maka semakin tinggi pula tingkat adiksi media sosial mahasiswa pengguna <italic id="_italic-47">instagram</italic>, dan sebaliknya semakin rendah tingkat kecenderungan mahasiswa, maka semakin rendah pula tingkat adiksi media sosial mahasiswa pengguna <italic id="_italic-48">instagram</italic>.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-43cfd99f321f5b07a1b5de056d8bb567">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-19">Ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional, dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel [12]. Adapun untuk populasi, peneliti menggunakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan jumlah 9.943 mahasiswa. Peneliti menggunakan 300 mahasiswa sebagai subjek dengan kuota sampling sebagai teknik sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan skala psikologi <italic id="_italic-49">Narcissistic Personal Inventory </italic>(NPI) (α= 0,836) [13] dan skala <italic id="_italic-50">likert</italic><italic id="_italic-51"> Berge Social Media Addiction Scale</italic> (BSMAS) milik Maheswari dan Dwiutami (α= 0,899) [14]. Analisis data dalam penelitian ini, menggunakan teknik korelasi <italic id="_italic-52">product moment</italic> dengan bantuan <italic id="_italic-53">SPSS for windows</italic>. Untuk mengetahui hubungan antara variabel kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-e81261de81ee65c4fbde1a5ffa4e2162">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-8b272fe80ffaa00f27a3c11e4879bf58">
        <title>Hasil</title>
        <p id="_paragraph-20">Untuk menguji apakah hipotesis diterima atau ditolak, peneliti menggunakan analisis data dengan bantuan <italic id="_italic-54">SPSS for </italic><italic id="_italic-55">windows</italic>. Peneliti lebih dahulu melakukan uji asumsi sebelum melakukan uji hipotesis. Uji asumsi dalam penelitian ini yaitu uji normalitas dan uji linieritas. Dari hasil uji <italic id="_italic-56">Kolmogrov</italic><italic id="_italic-57">-S</italic><italic id="_italic-58">mirnov</italic> untuk uji normalitas, menunjukkan pada variabel kecenderungan narsistik memperoleh nilai signifikansi 0,382 &gt; 0,05 dan variabel adiksi media sosial memperoleh nilai signifikansi 0,261 &gt; 0,05, dan dapat disimpulkan kedua variabel memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 yang mengartikan keduanya berdistribusi normal. Sedangkan, hasil uji linieritas mendapatkan nilai signifikansi yang terdapat di kolom <italic id="_italic-59">Deviation from </italic><italic id="_italic-60">Linierity</italic> diperoleh nilai F 0,839 dengan signifikani 0,699, yang menandakan bahwa variabel kecenderungan narsistik dan adiksi media sosial memiliki hubungan yang linier. Adapun pada uji hipotesis pada penelitian ini, didapatkan nilai korelasi (r<sub id="_subscript-1">xy</sub>) 0,031, dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini diterima yang mengartikan bahwa, terdapat hubungan yang positif signifikan antara variabel kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial. Jika kecenderungan narsistik tinggi, maka adiksi media sosial juga tinggi, dan apabila kecenderungan narsistik rendah, maka adiksi media sosial juga rendah.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Tabel Kategorisasi Skor Subjek</title>
            <p id="_paragraph-22" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-17b0daa5f360e08acc2919da3a6b86a5">
                <td id="table-cell-55e808463a4d03b96effdd39f74bf51a" rowspan="3">Kategori</td>
                <td id="table-cell-47adc688b59d92fdb65cecc67e91cf40" colspan="4">Skor Subjek</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e8fadc20a4a079a55c0e216ce59fc1bf">
                <td id="table-cell-6f3043c3dca19ac8038168a0b8fad410" colspan="2">Kecenderungan Narsistik</td>
                <td id="table-cell-7a4105aaf6e5e98cc5d81fc2e5d8b26e" colspan="2">Adiksi Media Sosial</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-43a56849891f9b6e30d492d9469612a0">
                <td id="table-cell-319ec87684f5a77c20f67782c1742a53">∑ Siswi</td>
                <td id="table-cell-6399a6cba7a3bd42fbe699c1fc753b92">%</td>
                <td id="table-cell-4b64d39781cd009be2983c53df4c4d5f">∑ Siswi</td>
                <td id="table-cell-14f8a79824bb2212d44883a8d4441efb">%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-1e3e6e1bb1e710dd1d44235b3c56296c">
                <td id="table-cell-1256160dce04a0a029a2701798019611">Sangat Rendah</td>
                <td id="table-cell-5498393cf436d7c20b5639f44670c395">31</td>
                <td id="table-cell-322819f0b9faf855f5e7d3d2e610c584">10,3%</td>
                <td id="table-cell-bdcc052f38b570ac6de2272e769aa854">18</td>
                <td id="table-cell-fa0f97b6f3457f06f04bc9d79c078edf">6%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-37688081c59997d66f8051fed923407f">
                <td id="table-cell-f9eec88a209f562efdaa242c6fbb64f2">Rendah</td>
                <td id="table-cell-ff68617e4ad004dbaee2a78d7445a9c8">76</td>
                <td id="table-cell-99ced826528a57f4778107c1705adfb4">25,3%</td>
                <td id="table-cell-168e2e8b3ad8df5499c0778e58e3ab8e">76</td>
                <td id="table-cell-2477e146905a0bd7939ffa673a055281">25.3%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f10d3b12b9b44381d483d50fd48f9149">
                <td id="table-cell-4f70a22925267f740779b9d07f113164">Cukup</td>
                <td id="table-cell-6794bc5ad5d7a3e28da8fc490d2886a9">98</td>
                <td id="table-cell-03e739f81e56bf0d54a708ea460a47bd">32,7%</td>
                <td id="table-cell-e19402aaf6c40014c273493a7fb50f41">106</td>
                <td id="table-cell-6cb090c761cf022b16e11b3de636ee9e">35.3%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8c3d5cd772c40f6c9277c3aa8db7a563">
                <td id="table-cell-54b5161c1bbff7c49adc3cab0edd4ce2">Tinggi</td>
                <td id="table-cell-01d4122a1b71ceefa25e6e152dccdb40">79</td>
                <td id="table-cell-4bd1ba40a39d6feafd581ac0955bba7d">26,3%</td>
                <td id="table-cell-54e49615b6b1adffddd6f1ae3a398ad0">80</td>
                <td id="table-cell-ab08dc4363f4a4f00f5e480aed32fd78">26.7%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a809abc03cdb6be687d672d5d92040ff">
                <td id="table-cell-767d3de0746ab23177346653cbae26d1">Sangat Tinggi</td>
                <td id="table-cell-97d629e05d52f126267afafdc4e63a01">16</td>
                <td id="table-cell-4924619e6192c42a07e97a846636c056">5,3%</td>
                <td id="table-cell-2a4491d4686de83ca6f3c218111850bb">20</td>
                <td id="table-cell-31c1fa5037783de0920fd13b6db6c152">6.7%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-d268ff03616d923019be22f0262a3508">
                <td id="table-cell-057c3e80801f019d57dfc4820ece2eee">Jumlah</td>
                <td id="table-cell-db1dfe69afa29cdb316e100f1c48558a">300</td>
                <td id="table-cell-a3ae5913255c70ab2adac37c0d4d1027">100%</td>
                <td id="table-cell-ab4f534f3985da6adf58dc9469a7c20e">300</td>
                <td id="table-cell-0ebb705a40bb6ab00262e4d832789ea5">100%</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-23">Untuk kategorisasi skor subjek, data dilihat pada tabel diatas, menujukkan bahwa hasil kategorisasi subjek dengan 300 subjek pada variabel kecenderungan narsistik, sebanyak 31 mahasiswa memiliki kecenderungan narsistik sangat rendah, 76 mahasiswa memiliki kecenderungan narsistik rendah, 98 mahasiswa memiliki kecenderungan narsistik cukup atau sedang, 79 mahasiswa memiliki kecenderungan narsistik tinggi dan 16 mahasiswa memiliki kecenderungan narsistik sangat tinggi. Adapun untuk variabel adiksi media sosial berdasarkan hasil kategorisasi 300 subjek, sebanyak 18 mahasiswa memiliki tingkat adiksi sangat rendah, 76 mahasiswa memiliki tingkat adiksi rendah, 106 mahasiswa memiliki tingkat adiksi sedang atau cukup, 80 mahasiswa memiliki tingkat adiksi tinggi dan 20 mahasiswa memiliki tingkat adiksi sangat tinggi. Hal tersebut mengartikan bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki tingkat kecenderungan narsistik sedang dan adiksi media sosial sedang. Hal tersebut berdasarkan presentase serta data jumlah subjek diatas.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-bdcf7af28634beae02fb68e3e267fcd6">
        <title>Pembahasan</title>
        <p id="_paragraph-24">Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial pada mahasiswa pengguna <italic id="_italic-61">instagram</italic> Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil nilai koefisien korelasi (r<sub id="_subscript-2">xy</sub>)sebesar 0,125 dengan nilai signifikansi sebesar 0,031. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif diantara kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan narsistik mahasiswa, maka semakin tinggi pula tingkat adiksi media sosial mahasiswa pengguna <italic id="_italic-62">instagram</italic>, begitu juga sebaliknya semakin rendah kecenderungan narsistik mahasiswa, maka semakin rendah pula tingkat adiksi media sosial mahasiswa pengguna <italic id="_italic-63">instagram</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-25">Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sakti mendapatkan hasil yang sama seperti penelitian ini, dimana dalam penelitian tersebut dinyatakan, diantara kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial pada mahasiswa pengguna <italic id="_italic-64">Path</italic> di Universitas Negeri Makassar terdapat hubungan positif. Sakti menyebutkan bahwa seseorang dengan kecenderungan narsistik memiliki sifat ingin menjadi pusat perhatiandan ingin dipuji, oleh karena banyaknya pujian dan menjadi pusat perhatian didapatkan dari jejaring sosial membuat individu dengan kecenderungan narsistik sangat aktif mengunggah potret dirinya di jejaring sosial sehingga mengalami adiksi media sosial. Karena hanya media sosial yang dapat memberikan kepuasan dirinya [4].</p>
        <p id="_paragraph-26">Penelitian terdahulu yang lainnya juga dilakukan oleh Rahmaridha &amp; Aviani, “Hubungan Antara Kecanduan Jejaring Media Sosial Dengan Kecenderungan Narsistik pada Mahasiswa Negeri Padang”. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa antara kecanduan jejaring media sosial dengan kecenderungan narsistik pada mahasiswa Universitas Negeri Padang memiliki hubungan positif. Rahmaridha &amp; Aviani menyebutkan Seringnya individu menunjukkan potret dirinya mengenai kesempurnaan dirinya membuat individu terserang adiksi media sosial. Individu dengan kecenderungan narsistik memiliki ciri-ciri ingin menonjol sendiri, selalu memperhatikan penampilan untuk mendaptkan pujian, dan selalu berperilaku baik agar disukai banyak orang menbuat individu dengan kecenderungan narsistik aktif mengunggah potret diri di jejaring media sosial dengan menampilkan kesempurnaan dan segala kehebatannya hanya untuk mendapatkan pujian dan diakui kehebatannya. Sehingga terdapat hubungan diantara Kecanduan Jejaring Media Sosial Dengan Kecenderungan Narsistik [15].</p>
        <p id="_paragraph-27">Berdasarkan hasil analisa dari variabel kecenderungan narsistik 31 mahasiswa kecenderungan narsistik sangat rendah, 76 mahasiswa kecenderungan narsistik rendah, 98 mahasiswa kecenderungan narsistik tinggi dan 16 mahasiswa kecenderungan narsistik sangat tinggi. Diketahui dari data tersebut, sebagian mahasiswa pengguna <italic id="_italic-65">instagram</italic> Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki kecenderungan narsistik dalam kategori cukup atau sedang. Koresponden dalam penelitian ini secara keseluruhan berkencenderungan narsistik dalam batasan rata-rata yang menandakan bahwa kemunculan perilaku kecenderungan narsistik sebagai luapan mengekspresikan diri dalam proses membentuk identitas seseorang. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti sebagaian besar koresponden berperilaku seperti memamerkan kecantikan, kehebatannya, dan kekuasaan di media sosial untuk menjadi pusat perhatian dari orang lain sebagai langkah memenuhi kebutuhan aktualisasi dan eksistensi dirinya. Menurut Sabekti menyatakan penggunaan media sosial dengan intensitas yang tinggi akan berhubungan dengan aktualisasi remaja, karena media sosial yang dapat memfasilitasi remaja untuk mencapai tujuannya. Salah satu perilaku kecenderungan narsistik adanya perilaku seseorang yang membagikan potret mengenai sesuatu yang membuat dirinya bangga ataupun sekedar berbagi mengenai keadaan dirinya kepada orang lain. Perilaku kecenderungan narsistik akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari [9], seperti mengunggah foto ataupun vidio ke dalam media sosial sebagai contoh mahasiswa yang mengunggah aktivitas kesehariannya di <italic id="_italic-66">instagram</italic> seperti tempat wisata yang indah, gaya busana yang sedang di sukai remaja, hingga makan makanan dengan merek terkenal, unggahan tersebut dapat membantu seseorang membentuk citra diri positif terhadap dirinya [4]. Kata narsistik biasanya ditunjukkan kepada seseorang yang terobsesi dengan delusi fantastis keagungan dan keungulan hingga terjadilah persaingan sebagai yang teratas [9].</p>
        <p id="_paragraph-28">Adapun hasil analisis variabel adiksi media sosial <italic id="_italic-67">instagram</italic> menunjukkan 18 mahasiswa adiksi media sosial <italic id="_italic-68">instagram</italic> sangat rendah, 76 mahasiswa adiksi media sosial <italic id="_italic-69">instagram</italic> rendah, 106 mahasiswa adiksi media sosial <italic id="_italic-70">instagram</italic> tinggi, dan 16 mahasiswa adiksi media sosial <italic id="_italic-71">instagram</italic> sangat tinggi. Koresponden dalam penelitian ini secara keseluruhan dalam kategori sedang atau cukup dan masih dalam taraf rata-rata. Adiksi media sosial pada mahasiswa pengguna <italic id="_italic-72">instagram</italic> Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, belum sampai menganggu kehidupan sehari-hati, namun tetap mahasiswa perlu mengontrol agar tidak bertambah parah adiksi media sosialnya. Ditemukan selama penelitian, sebagian besar koresponden merasakan bahwa adiksi media sosial meupakan adanya perilaku yang mendorong keinginan untuk terus mengecek media sosial dan sulit dikontrol. Mahasiswa selalu ingin mengakses media sosial <italic id="_italic-73">instagram</italic> dengan intensitas durasi yang lama. Cabral menyebutkan bahwa ketidakmampuan mengatur waktu menyebabkan peningkatan durasi mengakses media sosial dengan tujuan mendapatkan kepuasan yang diinginkan dari pemilik media sosial [4].</p>
        <p id="_paragraph-29">Limitasi pada penelitian ini adalah pengaruh yang diberikan variabel kecenderungan narsistik terhadap variabel adiksi media sosial masih sangat rendah yaitu hanya sebesar 2,3%. Adapun semestinya variabel lainnya yang sangat berpengaruh terhadap adiksi media sosial adalah seperti aktualisasi diri seperti penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Nidya Zahra Hayumi (2014), Sakinah, Zatrahadi,dan Darmawati (2019), dan Sabekti (2019). Selain itu terdapat variabel lainnya yang juga mempengaruhi adiksi media sosial adalah harga diri seperti yang telah diteliti oleh Gobel (2021), Rizky (2017), dan Ratri (2018). Limitasi lainnya pada penelitian ini yaitu, dalam metode untuk pengumpulan datanya yang melalui <italic id="_italic-74">google form</italic>, dikarena pada saat penelitian berlangsung mahasiswa sedang libur serta karena adanya wabah virus Covid-19, sehingga peneliti tidak mampu secara langsung melakukan pengawasan sehingga mahasiswa tidak mengisi dengan sungguh-sungguh dan tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya pada saat memberikan jawaban, selain itu, untuk menemukan subjek sesuai dengan kriteria terkait bagi peneliti, masih menemukan kesulitan karena harus memilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan peneliti.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-9f7226aed24fb898a1012e280c884b4c">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-30">Dapat disimpulkan dalam penelitian ini, diantara kecenderungan narsistik dengan adiksi media sosial pada mahasiswa pengguna <italic id="_italic-75">instagram</italic>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki hubungan yang positif. Hal tersebut terlihat dari nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,125 dengan nilai signifikansi sebesar 0,031 &lt; 0,05 dan dalam penelitian ini diterima hipotesisnya. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi kecenderungan narsistik mahasiswa pengguna <italic id="_italic-76">instagram</italic>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, maka semakin tinggi pula tingkat adiksi media sosial mahasiswa, begitu juga sebaliknya semakin rendah kecenderungan narsistik mahasiswa pengguna <italic id="_italic-77">instagram</italic>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, maka semakin rendah pula tingkat adiksi media sosial mahasiswa. Kekuatan pengaruh variabel kecenderungan narsistik terhadap variabel adiksi media sosial dalam penelitian ini sebesar 2,3%. Hal tersebut menyatakan bahwa terdapat pengaruh diantara kecenderungan narsistik terhadap adiksi media sosial sebesar 2,3% dan sisanya, sebesar 97,7% dipengaruhi faktor lainnya yang bukan merupakan fokus peneliti dalam penelitian ini.</p>
      <p id="_paragraph-31">Diharapkan agar mahasiswa dapat menghindarkan diri dari perilaku kecenderungan narsistik yang terlihat melalui pembagian aktivitas menunjukkan citra diri yang positif pada media sosial sehingga dapat menghindarkan diri dari <italic id="_italic-78">cyber bullying</italic> dan kecemburuan sosial yang dapat merusak kesehatan mental mahasiswa. Atau mulai membatasi interaksi dengan media sosial dan internet serta <italic id="_italic-79">smartphone</italic> agar tidak menimbulkan gejala narsistik<bold id="_bold-29">. </bold>Selain menghindari kecenderungan narsistik, mahasiswa yang mengalami adiksi media sosial, agar dapat mencari dan mendaptakan cara untuk dapat lepas dari adiksinya tersebut, misalnya memulai dengan melakukan kegiatan sesuai dengan hobi, menambah kegiatan <italic id="_italic-80">offline</italic> lainnya yang tidak berhubungan dengan internet atau <italic id="_italic-81">smartphone</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-32">Intitusi perguruan tinggi dapat membantu menciptakan usaha pencegahan untuk mengantisipasi adiksi media sosial pada mahasiswa, misalnya dengan memberikan seminar yang berhubungan dengan adiksi media sosial untuk menurangi dampak adiksi yang terjadi pada mahasiswa, agar terhindar dari perilaku-perilaku negatif yang akan timbul setelahnya, atau mungkin menerapkan peraturan satu hari tanpa <italic id="_italic-82">smartphone</italic> guna menggurangi adiksi <italic id="_italic-83">smartphone</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-33">Semoga yang akan meneliti judul yang sama dengan penelitian ini dapat mengaitkan variabel lainnya yang dapat berhubungan dengan narsistik misalnya, dengan variabel harga diri atau aktualisasi diri maupun presentasi diri. Juga semoga peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian yang serupa lebih lanjut dengan wilayah penelitian yang jauh lebih luas seperti, penelitian dengan subjek semua mahasiswa di daerah Jawa Timur, tidak hanya sebatas wilayah di Universitasnya nya saja.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>