<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MOHAMMAD NATSIR DAN RELAVANSINYA DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM</article-title>
        <subtitle>MOHAMMAD NATSIR ISLAMIC EDUCATION CONCEPT AND THEIR RELAVANCE IN ISLAMIC EDUCATION CURRICULUM</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-649b198a4a6d6ca13eac0e9f4d9caab1" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Rohman</surname>
            <given-names>Mohammad Irva' Uddarojatur</given-names>
          </name>
          <email>irvarohman@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-7fdbccf2deb26fcc57ad2348aa0b6b6b" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>rohman</surname>
            <given-names>Mohammad Irva' uddarojatur rohman</given-names>
          </name>
          <email>budiharyanto@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-08-25">
          <day>25</day>
          <month>08</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-10">Jika kita menelaah pengertian pendidikan Islam sangat jelas sekali terlihat sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang menjalani pendidikan Islam keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang bisa merubahnya menjadi insan kamil dengan pola taqwa. Insan kamil mempunyai makna, manusia utuh rohani dan jasmani dan bisa hidup secara normal dan wajar karena ketaqwaan kepada Allah swt. Sehingga bisa menjalankan fungsinya sperti maksud pendidikan Islam yaitu bisa berguna bagi dirinya, dan baik hubungan dengan sesama, <italic id="_italic-132">Habluminannas, </italic>serta gemar mengamalkan ibadah karena Allah sebagai hubungan baik kepada Allah swt. <italic id="_italic-133">HabluminAllah</italic>Sehingga bisa mengambil manfaat dari kepentingan di dunia maupun di akhirat. Pendidikan Islam jika kita memahaminya tidak semudah mengurai kata Islam, dari kata pendidikan, satu subtansi yang cukup kompleks dalam predikat Islam. Untuk menelaah pendidikan Islam maka kita harus melihat aspek tujuan agama Islam yang awal mula diturunkan untuk manusia dari sisi pedagogis. Islam yang jati dirinya sebagai agama penyempurna dari agama yang sebelumnya maka dalam merefleksikan nilai-nilai pendidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan sehingga bisa memberikan sebuah petunjuk bagi manusia agar menjadikan sempurna dalam ajaran Islam.[1]</p>
      <p id="_paragraph-11">Pendidikan sangatlah penting begitupun Islam mengajarkan terhadap kita bahwasannya menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. Karna pendidikan bagi manusia ialah kekuatan mutlak harus dipenuhi sepanjang hayat. Hampir semua manusia menggantungkan harapan kepada pendidikan untuk melahirkan generasi-generasi muda yang menguasai beragam ilmu dan pengetahuan.[2]</p>
      <p id="_paragraph-12">Pendidikan yang diterapkan oleh Mohammad Natsir ialah pola yang sangat umum di kalangan pembaharu Islam. Natsir juga mantan pelajar disekolah belanda Natsir juga belajar mendalmi ilmu agama kepada tokoh pembaruan Islam dikalangan masyarakat dulu hingga sekarang ilmu terdiri menjadi dua sisi Ilmu umu dan ilmu agama sedangkan umat Islam juga dituntut untuk menguasai ilmu umum. Ilmu ini dikembangkan di peradaban barat yaitu Ilmu Sains dan Humaniora melalui saluran sekolah-sekolah formal. Ilmu-ilmu ini pada masa itu dipandang sebagai sesuatu yang bebas nilai.[3]</p>
      <p id="_paragraph-13">Begitu melihat luasnya cakupan Mohammad Natsir yang juga seorang tokoh pemikir pendidikan Islam yang merupakan seorang yang tidak memilah-milah dalam fanatic pendidikan Islam dan pendidikan umum. Beliau beranggapan bahwasannya semua ilmu itu penting karna sejatinya ilmu itu datangnya dari Allah. Maka perlu dipahami pada konsep pendidikan Mohammad Natsir diatas. Penulis berkeinginan untuk mengkaji konsep Mohammad Natsir dalam pendidikan Islam dan relavansinya dalam kurukulum pendidikan Islam.[4]</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-14">Jenis penelitian ini yang berjudul “Konsep pendidikan Islam Mohammad Natsir dan relevansinya dalam kurikulum pendidikan” penelitian ini bersifat (<italic id="_italic-134">library research) </italic>atau penelitian kepustakaan<italic id="_italic-135">. </italic>Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang sumber data yang didapat dan ranah penelitiannya berada pada perpustakaan. Untuk pengambilan sempel bisa menggunkan litelatur dan docmunet yang bisa dijadikan landasan dalam penelitian tersebut Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis teks atau data.[4]</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-15">Mohammad Natsir mempunyai konsep pendidikan yang sejak dulu ia cita-citakan yaitu pendidikan yang integral, harmonis dan universal. Prinsip dasar pemikiran pendidikan Mohammad Natsir dapat di telusuri jauh sebelumnya dalam pidatonya pada tahun 1934 saat rapat Persatuan Islam di bogor M. Natsir mengatakan “<italic id="_italic-136">Sering kali pula</italic><italic id="_italic-137">kenyataan, ada yang menganggab bahwa didikan Islam itu ialah didikan Timur, dan didikan Barat adalah lawan</italic><italic id="_italic-138">didikan</italic><italic id="_italic-139">Islam.</italic><italic id="_italic-140">Boleh</italic><italic id="_italic-141">jadi,</italic><italic id="_italic-142">ini</italic><italic id="_italic-143">reaksi</italic><italic id="_italic-144">terhadap</italic><italic id="_italic-145">didikan</italic><italic id="_italic-146">kebaratan</italic><italic id="_italic-147">yang</italic><italic id="_italic-148">ada</italic><italic id="_italic-149">di</italic><italic id="_italic-150">negeri</italic><italic id="_italic-151">kita</italic><italic id="_italic-152">yang</italic><italic id="_italic-153">memang</italic><italic id="_italic-154">sebagian</italic><italic id="_italic-155">dari</italic><italic id="_italic-156">akibat-akibatnya</italic><italic id="_italic-157">tidak</italic><italic id="_italic-158">mungkin</italic><italic id="_italic-159">kita</italic><italic id="_italic-160">menyetujuinya</italic><italic id="_italic-161">sebagai</italic><italic id="_italic-162">umat</italic><italic id="_italic-163">Islam.</italic><italic id="_italic-164">Akan</italic><italic id="_italic-165">tetapi,</italic><italic id="_italic-166">coba</italic><italic id="_italic-167">kita</italic><italic id="_italic-168">berhenti</italic><italic id="_italic-169">sebentar</italic><italic id="_italic-170">dan</italic><italic id="_italic-171">bertanya apakah sudah boleh kita katakan bahwa Islam itu anti barat dan pro-Timur, khususnya dalam pendidikan?</italic><italic id="_italic-172">Pertanyaan</italic><italic id="_italic-173">itu</italic><italic id="_italic-174">hanya</italic><italic id="_italic-175">bisa</italic><italic id="_italic-176">kita</italic><italic id="_italic-177">jawab</italic><italic id="_italic-178">apabila</italic><italic id="_italic-179">sudah</italic><italic id="_italic-180">terjawab</italic><italic id="_italic-181">lebih</italic><italic id="_italic-182">dahulu</italic><italic id="_italic-183">apakah</italic><italic id="_italic-184">kiranya</italic><italic id="_italic-185">yang</italic><italic id="_italic-186">menjadi</italic><italic id="_italic-187">tujuan</italic><italic id="_italic-188">dari</italic><italic id="_italic-189">didikan</italic><italic id="_italic-190">Islam</italic><italic id="_italic-191">itu?</italic><italic id="_italic-192">Yang</italic><italic id="_italic-193">dinamakan</italic><italic id="_italic-194">didikan</italic><italic id="_italic-195">ialah</italic><italic id="_italic-196">suatu</italic><italic id="_italic-197">pimpinan</italic><italic id="_italic-198">jasmani</italic><italic id="_italic-199">dan</italic><italic id="_italic-200">ruhani</italic><italic id="_italic-201">yang</italic><italic id="_italic-202">menuju</italic><italic id="_italic-203">pada</italic><italic id="_italic-204">kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusian dalam arti yang sesungguhnya</italic>.” Konsep pendidikan yang integral dari konsep itu jika melihat dari sosio maupun historis. Ternyata konsep ini belum ditemukan dalam masyarakat Islam dimanapun bahkan Mohammad Natsir menilai bahwa pendidikan pada masyarakat Islam tidak sesuai dengan konsep pendidikan yang dicita-citakan Mohammad Natsir. Yaitu konsep pendidika integral, universal dan harmonis akan tetapi Konsep pendidikan yang ada ialah bersifat parokhial, diferensial, dikotomis, dan disharmonis. Kondisi tersebut menurut Mohammad natsir dampak dari dunia Islam yang sekian lama berada dalam kegelapan dan juga didominasi oleh pemikiran tasawuf dan berada dalam penjajahan barat yang cukup lama. [5]</p>
      <sec id="heading-61fdbccb4dd3ef008c4f3907dd18b864">
        <title>Konsep pendidikan Mohammad Natsir</title>
        <p id="_paragraph-16">Konsep pendidikan yang diungkapkan Natsir tidak dapat dilepaskan darimisinya untuk menyebarkan agama Islam, sebagai agama yang universal. Islam bukan sekadar ajaran tentang tata hubungan antara manusia dengan tuhan, melainkan lebih dari itu untuk memfikirkan pandangan hidup dan juga pegangan hidup. Yakni dikatan Universal bahwa dipahami Islam tidak mengenal batasan-batasan dalam suatu negeri maupun benua yang</p>
        <p id="_paragraph-17">dimahsud batasan bukan berarti Islam bebas dalam segi apapun, melainkan tidak ada pertentangan dalam ilmu baik ilmu itu yang bersumber dari barat maupun ilmu yang bersumber dari timur.</p>
        <p id="_paragraph-18">Sejatinya ilmu pengetahuan itu hanya dua instrumen yang dapat digunakan, menurut Mohammad Natsir yakni inderawi dan akal. Dengan indrawi diketahui ilmu yang bersifat konkrit, dan juga melalui akal agar terlihat ilmu itu bersifat metafisik. Dalam dua instrument pemikiran Mohammad Natsir mengenai sejatinya ilmu pengetahuan itu ia dapatakan melalui proses olah pikir mengkaji ayat-ayat Tuhan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.[6]</p>
        <p id="_paragraph-19">Untuk mengembangkan llmu pengetahuan menurut Mohammad Natsir ada beberapa kriteria yaitu secara sistematis dan komprehensifp diperlukan corak lembaga pendidikan yang lebih variatif, bisa berbentuk lembaga pendidikan keagamaan dan dapat pula berbentuk lembaga pendidikan umum. Maka dalam uraian Natsir perlunya proses tahapan agar seseuai dengan kemampuan dari peserta didik dengan proses tranformasi.[7] Maka dalam artian ini semua pendidikan itu penting tidak mengenal fanatik pendidikan yang dimahsud yaitu semua pendidikan itu sama jangan membedakan bahwasannya pendidikan mempunyai kaudrat yang harus di pelajari sehingga untuk ilmu yang lain tidak perlu untuk di ketahui. Karna sejatinya semua ilmu itu penting baik ilmu agama dan juga ilmu umum dan baik ilmu itu datangnya dari manapun. Maka dengan adanya penelitian konsep pendidikan Islam Mohammad Natsir untuk merelevansikan kurikulum pendidikan Islam pada saat ini.</p>
        <p id="paragraph-514741f7d29a5ad6f57dae275fd74f0e"><italic id="italic-5137dba96bb1e6e0d4d1cd1afe04267a">Dasar </italic><italic id="italic-0df1b165ac076669f9181f29c6aaa4ca">pendidikan Islam menurut Mohammad Natsir</italic>, memanglah eorang pendidik Islam harusnya di tanamkan sifat antagonisme (pertentangan) antara haq dan bathil karna sebagai suatu batsan mana yang baik atau bermanfaat bagi dirinya begitupun sebaliknya yang tidak manfaat atau banyak mudhorotnya. Dan seorang pendidik juga tidak baik jika terlalu besar antagonisme (pertentangan) antara Barat dan Timur , karna sejatinya semua imu itu datangnya dari Allah. Artinya semua yang haq akan kita terima, biarpun datangnya dari Barat, dan semua yang bathil akan kita singkirkan walaupun datangnya dari timur .</p>
        <p id="paragraph-e108b554a353692925d4e4ac0351da09"><italic id="_italic-291"><italic id="italic-83b823d3648a41f78474928f6be30e40">Peran dan fungsi pendidikan Islam menurut Mohammad Natsir, </italic></italic>peran sangatlah penting dalam pendidikan karna peran sebagai fungsi tatanan atau penguat. Tanpa adanya peran pasti suatu pendidikan tersebut tidak berjalan dengan baik, sedangkan pendidikan yang baik semestinya perlu peran yang kuat untuk mencapai tujuan yang menjadikan pendidikan tersebut berjalan seperti semestinya, begitupun dengan peran dan fungsi Pendidikan Islam Menurut Mohammad Natsir:</p>
        <p id="_paragraph-20">Misi dari pendidikan islam yang sesungguhnya ialah unutk mengenalkan kepada sasaran. Agar mereka bisa mencapai pertumbuhan dan perkembangan baik jasmani maupun rohani maka seorang pendidik harus mempunyai sifat memimpin dan mendidik sasaran dengan baik agar sesuai dengan kodrat seorang pendidik.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-950c2976d254f7a291472454030ab311">
          <list-item>
            <p>Pendidikan harus diajarkan sifat akhlak al-karimah diarahkan untuk menjadikan anak didik memiliki sifat kemanusiaan, budi pekerti luhur</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Pendidikan harus menjadi suatu sarana untuk mencetak manusia yang jujur dan benar bukan sebagai pribadi yang hipokrit.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Pendidikan sebagai suatu landasan untuk manusia kembali mengingat Allah. Agar bisa mencapai tujuan hidupnya</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Pendidikan juga harus menjadikan manusia dalam segala hal baik perilakunya maupun perbuatan yang bersifat interaksi, vertical, maupun herizontalnya menjadi manfaat atau rahmat seluruh alam.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Pendidikan harus benar-benar menjadikan uswatun khasanah mendorong sifat-sifat kemanusiaan dan bukan menghilangkan sifat-sifat kenabusuaan .[8]</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="paragraph-d49fd1c945a25dbf693b462bcd914738"><italic id="_italic-292"><italic id="italic-1d7f94283e0bb40bcf2dbd5854616580"><italic id="italic-19871bb1445287ea2e6ebdf5d6c78445"><italic id="italic-0bd2e23eb12d080d2bc616db6d87a6c3">Tujuan pendidikan Islam menurut Mohammad Natsir, </italic></italic></italic></italic>tujuan pendidikan Islam pada hakekatnya.ialah untuk membentuk insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, maju dan mandiri sehingga memiliki kekuatan ruhani yang tinggi agar tidak mudah dirusak oleh perangai apapun serta mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan masyarakat. Natsir mengatakan <italic id="_italic-205">“bahwa</italic><italic id="_italic-206">apabila</italic><italic id="_italic-207">manusia</italic><italic id="_italic-208">telah</italic><italic id="_italic-209">menghambakan</italic><italic id="_italic-210">diri</italic><italic id="_italic-211">sepenuhnya kepada Allah, berarti ia telah berada dalam dimensi kehidupan yang menyejahterakan di dunia</italic><italic id="_italic-212">dan membahagiakan di akhirat</italic>.” Artinya dalam menetapkan tujuan pendidikan Islam harusnya ingat posisi manusia sebagai ciptaan Allah yang terbaik dan sebagai khalifah di bumi. Dengan mengacu pada ayat Al Qur’an tentang sejatinya manusia diciptakan didunia, bahkan seluruh mahluk hidup yang ada di alam semesta memiliki hakikat bahwa tujuan hidupnya tidak lain hanya untuk mengabdi kepada penciptanya yaitu Allah swt, dengan ini tujuan kehidupan jelas sepeti dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an.</p>
        <p id="_paragraph-22">
          <bold id="_bold-7">وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ و</bold>
          <bold id="_bold-8">َٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ </bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-23">
          <italic id="_italic-213">Artinya:</italic>
          <italic id="_italic-214">Dan</italic>
          <italic id="_italic-215">Aku</italic>
          <italic id="_italic-216">tidak</italic>
          <italic id="_italic-217">menciptakan</italic>
          <italic id="_italic-218">jin</italic>
          <italic id="_italic-219">dan</italic>
          <italic id="_italic-220">manusia</italic>
          <italic id="_italic-221">melainkan</italic>
          <italic id="_italic-222">supaya</italic>
          <italic id="_italic-223">mereka</italic>
          <italic id="_italic-224">mengabdi</italic>
          <italic id="_italic-225">kepada-Ku.</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-24">Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidaklah menjadikan jin dan manusia melainkan untuk mengenal-Nya dan supaya menyembah-Nya. Dalam kaitan ini Allah swt berfirman:</p>
        <p id="paragraph-711f3c247e50bf19ff9a7b20ab3e717f">اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ</p>
        <p id="_paragraph-25">
          <italic id="_italic-226">Artinya:</italic>
          <italic id="_italic-227">Padahal</italic>
          <italic id="_italic-228">mereka</italic>
          <italic id="_italic-229">hanya</italic>
          <italic id="_italic-230">disuruh</italic>
          <italic id="_italic-231">menyembah</italic>
          <italic id="_italic-232">Tuhan</italic>
          <italic id="_italic-233">Yang</italic>
          <italic id="_italic-234">MahaEsa;</italic>
          <italic id="_italic-235">tidak</italic>
          <italic id="_italic-236">ada</italic>
          <italic id="_italic-237">tuhan</italic>
          <italic id="_italic-238">selain</italic>
          <italic id="_italic-239">Dia.</italic>
          <italic id="_italic-240">Mahasuci</italic>
          <italic id="_italic-241">Dia</italic>
          <italic id="_italic-242">dari</italic>
          <italic id="_italic-243">apa</italic>
          <italic id="_italic-244">yang</italic>
          <italic id="_italic-245">mereka</italic>
          <italic id="_italic-246">persekutukan.</italic>
          <italic id="_italic-247">(at-Taubah/9:</italic>
          <italic id="_italic-248">31).</italic>
        </p>
        <p id="paragraph-6ab7a786c07d229794ecee17424d0270" />
        <p id="paragraph-d5f27936d2b7a63e8d9c1af62c9b54e7"><italic id="_italic-293">Kurikulum pendidikan Islam menurut Mohammad</italic><italic id="_italic-294">Natsir,</italic>Natsir berpandangan “<italic id="_italic-295">bahwa</italic><italic id="_italic-296">untuk</italic><italic id="_italic-297">mencapai</italic><italic id="_italic-298">tujuan</italic><italic id="_italic-299">pendidikan tersebut</italic><italic id="_italic-300">semestinya kurikulum pendidikan</italic><italic id="_italic-301">disusun</italic><italic id="_italic-302">dan dikembangkan secara integral</italic><italic id="_italic-303">dengan mempertimbangkan</italic><italic id="_italic-304">kebutuhan</italic><italic id="_italic-305">umum</italic><italic id="_italic-306">dan kebutuhan</italic><italic id="_italic-307">khusus</italic><italic id="_italic-308">sesuai</italic><italic id="_italic-309">dengan</italic><italic id="_italic-310">potensi yang dimiliki</italic><italic id="_italic-311">oleh</italic><italic id="_italic-312"> peserta didik,</italic><italic id="_italic-313">sehingga</italic><italic id="_italic-314">akan tertanam</italic><italic id="_italic-315">sikap kemandirian</italic><italic id="_italic-316">bagi setiap peserta didik dalam menyikapi</italic><italic id="_italic-317">realitas</italic><italic id="_italic-318">kehidupannya. Dalam penyusunan kurikulum pendidikan</italic><italic id="_italic-319">yang integral harus memasukkan</italic><italic id="_italic-320">tauhid</italic><italic id="_italic-321">sebagai dasar</italic><italic id="_italic-322">pendidikan.</italic><italic id="_italic-323">Melalui</italic><italic id="_italic-324">dasar</italic><italic id="_italic-325">tauhid</italic><italic id="_italic-326">tersebut.</italic><italic id="_italic-327">Maka</italic><italic id="_italic-328">akan tercipta</italic><italic id="_italic-329">integrasi pendidikan</italic><italic id="_italic-330">agama</italic><italic id="_italic-331">dan</italic><italic id="_italic-332">umum.</italic><italic id="_italic-333">Natsir</italic><italic id="_italic-334">selalu</italic><italic id="_italic-335">menekankan</italic><italic id="_italic-336">bahwa</italic><italic id="_italic-337">sesungguhnya</italic><italic id="_italic-338">tidak</italic><italic id="_italic-339">ada</italic><italic id="_italic-340">dikotomi antara</italic><italic id="_italic-341">pendidikan</italic><italic id="_italic-342">agama</italic><italic id="_italic-343">dengan</italic><italic id="_italic-344">pendidikan</italic><italic id="_italic-345">umum.</italic><italic id="_italic-346">Melainkan</italic><italic id="_italic-347">keduanya</italic><italic id="_italic-348">memiliki</italic><italic id="_italic-349">keterpaduan</italic><italic id="_italic-350">dan</italic><italic id="_italic-351">keseimbangan. Dalam salah satu tulisannya, Natsir</italic><italic id="_italic-352">.</italic><italic id="_italic-353">membagi keseimbangan antara pendidikan Islam yang</italic><italic id="_italic-354">meliputi tiga hal, keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, keseimbangan antara badan dan</italic><italic id="_italic-355">roh, keseimbangan antara individu dan masyarakat.</italic><italic id="_italic-356">Konsep pendidikan yang integral,</italic><italic id="_italic-357">harmonis,</italic><italic id="_italic-358">dan</italic><italic id="_italic-359">universal tersebut</italic><italic id="_italic-360">oleh Nastir dihubungkan dengan</italic><italic id="_italic-361">misi</italic><italic id="_italic-362">ajaran</italic><italic id="_italic-363">Islam</italic><italic id="_italic-364">sebagai agama yang bersifat</italic><italic id="_italic-365">universal. Menurutnya”</italic>, artinya Islam bukan hanya membangun hubungan dengan tuhan saja, melainkan <italic id="_italic-366">Habluminannas</italic><italic id="_italic-367">. </italic>mengatur hubungan manusia dengan manusia. Yang di mahsud oleh Natsir ialah. Ia tidak mempertentangkan antara barat dan timur, tetapi ia mempertegas antara yang haq dan yang baṭil. Penolakannya terhadap sekularisme telah jelas, ia menyebutnya dengan istilah “netral agama”, dan ini adalah baṭil karena,mengenyampingkan nilai agama.[9]</p>
      </sec>
      <sec id="heading-4180c3c994c43608c2f2f5c174301c9b">
        <title>
          <italic id="_italic-368">Landasan Pendidikan</italic>
          <italic id="_italic-369">Islam Mohammad</italic>
          <italic id="_italic-370">Natsir</italic>
        </title>
        <p id="_paragraph-26">Pemikiran Muhammad Nasir banyak berkenaan dengan pemikiran politik Islam. Akan tetapi Muhammad Nasir dalam kiprahnya sebagai seorang pemikir juga banyak memberikan ide-ide dan pemikiran dalam bidang pendidikan. Sebagai seorang muslim yang taat. Tokoh Muhammadiyah, Said Tuhuleley, pernah mencatat statement-nya pak Natsir yang terus menggoda fikirannya untuk jurnal UMY, yakni menyatukan masjid dan pesantren. <italic id="_italic-249">“Menurut</italic><italic id="_italic-250">Natsir</italic><italic id="_italic-251">menjadi</italic><italic id="_italic-252">hamba</italic><italic id="_italic-253">Allah</italic><italic id="_italic-254">adalah</italic><italic id="_italic-255">tujuan</italic><italic id="_italic-256">hidup</italic><italic id="_italic-257">manusia</italic><italic id="_italic-258">di</italic><italic id="_italic-259">atas</italic><italic id="_italic-260">dunia</italic><italic id="_italic-261">ini.</italic><italic id="_italic-262">Oleh</italic><italic id="_italic-263">karena</italic><italic id="_italic-264">itu,</italic><italic id="_italic-265">tujuan</italic><italic id="_italic-266">pendidikan</italic><italic id="_italic-267">pun</italic><italic id="_italic-268">tiada</italic><italic id="_italic-269">lain</italic><italic id="_italic-270">adalah</italic><italic id="_italic-271">pencapaian</italic><italic id="_italic-272">kualitas</italic><italic id="_italic-273">hamba</italic><italic id="_italic-274">Allah.</italic><italic id="_italic-275">Untuk</italic><italic id="_italic-276">itu,</italic><italic id="_italic-277">tauhid</italic><italic id="_italic-278">harus</italic><italic id="_italic-279">menjadi</italic><italic id="_italic-280">dasar</italic><italic id="_italic-281">pendidikan Islam dan menjadi hamba Allah</italic><italic id="_italic-282">adalah cita-cita yang harus dicapai dalam proses pendidikan.”</italic>Mohammad Natsir memiliki pandangan bahwa Islam adalah agama tauhid, yang mana salah satu tujuan dari tauhid tesebut adalah menjauhkan manusia dari segala macam bentuk penghambaan kepada selain Allah. Sehingga jiwa manusia tersebut merdeka dari segala macam tuntutan-tuntutan yang berasal dari selain Allah. Selain itu tauhid merupakan sebuah landasan yang paling utama dan identitas bagi seorang muslim. Natsir berpendapat bahwa mentauhidkan Allah merupakan modal dasar bagi pendidikan. Yang mana mengajarkan tauhid dalam pendidikan</p>
        <p id="_paragraph-27">merupakan bentuk cinta seorang pendidik terhadap anak didiknya apabila dikaitkan dengan pendidikan, pemikiran Mohammad Natsir ini bertujuan untuk menanamkan ketauhidan pada peserta didik. Yang mana penanaman ketauhidan adalah menjadi tugas dari para Rasul dan juga Nabi-Nabi Allah swt. Tidak berlebihan jika konsep ketauhidan ini diletakkan oleh Muhammad Nastir pada konsep pendidikannnya. Apabila dikaji apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika pertamakali berdakwah, Rasul tidak mendakwahkan perintah sholat, puasa dan ibadah- ibadah lainnya. Akan tetapi pertamakali RasuluAllah berdakwah tentang masalah tauhid.</p>
        <p id="_paragraph-28">Ajaran tauhid menduduki tingkatan yang tinggi karena tauhid mengarahkan manusia pada kehidupan yang pasti yang dengan tauhid itu manusia dapat membangun hubungan yang baik antara manusia itu sendiri dengan Rabnya.</p>
        <p id="_paragraph-29">Pemikiran Natsir masalah yang tidak bisa ditolerir apabila menghilangkan tauhid dalam pendidikan. Meninggalkan tauhid merupakan salah satu pengkhianatan terhadap amanah Allah dan juga merupakan penghianatan terhadap peserta didik walaupun kita telah memberikan dan memenuhi kebutuhannya begitu pentingnya tauhid dalam dunia pendidikan bagi Natsir sehingga ajaran tauhid tidak bisa ditebus dengan pelajaran- pelajaran lain. Tauhid akan membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menjadi penyembahan hanya kepada Khaliq. Hilangnya tauhid dalam dunia pendidikan sama dengan penjerumusan peserta didik kepada sesuatu yang sangat menakutkan.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-3a3d9a52c982228010c9b39bbeacf16a">
          <list-item>
            <p>Tauhid Sebagai dasar didikan<italic id="_italic-371">, </italic>jadi tauhid yang dijadikan landasan oleh Natsir sebagai landasan pendidikan tidak hanya sebagai landasan pembentukan keimanan dan ketaqwaan. Lebih dari itu tauhid ini dijadikan sebagai pemenuhan dari tuntutan ruhani yang ada pada diri manusia itu sendiri. Karena salah satu sifat ruhani manusia tersebut adalah butuhnya kepada kekuatan ghaib yang dengan kekuatan tersebut manusia akan merasa nyaman dengannya. Ketika ruhani membutuhkan tempat berlindung dan bergantung, maka hal tersebut tidak akan didapati kecuali kembali kepada kebesaran Allah SWT. Ketenangan ruhiyah tersebut tidak akan didapati dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi ketenangan tersebut akan digapai dengan kembali kepada Allah melalui jalan mentauhidkannya. Mohammad Natsir tidak menginginkan pendidikan yang bersentralkan hanya kepada ilmu pengetahuan semata. Akan tetapi pendidikan juga harus memperhatikan masalah ruhani peserta didik. Yang mana permasalahan ruhani tersebut haruslah didahului dengan penanaman dan pemantapan tauhid. Pemikiran Natsir tentang tujuan pendidikan ini didasari dari keyakinan Natsir dalam mengamalkan firman Allah Qs. Adz Dzariat ayat 56 yang artinya :”<italic id="_italic-283">Dan tidaklah aku jadikan golongan jin dan manusia melainkan untuk</italic><italic id="_italic-284">menyembahku</italic>”. menurut Natsir penyembahan kepada Allah adalah bentuk pengabdian yang tertinggi serta bentuk ketaatan dan ketundukan terhadap apa yang diinginkan oleh Allah. Dan apa yang dilakukan tersebut akan membawa kepada kebahagiaan baik didunia maupun diakhirat serta menjaukan dari apa-apa yang menghalangi untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi tersebut.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><italic id="_italic-372">Pendidikan yang integral, </italic>pendidikan yang integral yang harus diusahakan oleh manusia harus lah memiliki ciri yang khusus yaitu berlandaskan ketauhidan. Pendidikan yang integral ini akan menghilangkan dikotomi ilmu dan faham- faham sekular yang masuk melalui dunia pendidikan. Yang mana faham sekular ini hanya mengakui hal-hal yang bersifat kebendaan dan menafikan hal-hal yang berbau metafisik. Selain itu dikotomi ilmu juga membuat adanya jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu sain. Bahkan kadang terkesan adanya pengingkaran terhadap ilmu-ilmu agama dan juga perlakuan rendah terhadap ilmu agama itu sendiri untuk itulah pendidikan yang integral selain membawa manusia pada satu penghambaan kepada Allah, pendidikan yang integral juga harus dapat memerangi faham-faham sekular yang dapat mengahancurkan sendi-sendi agama dan juga menghilangkan marwah dari agama itu sendiri. Integral apabila dilihat dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti <italic id="_italic-373">mengenai </italic><italic id="_italic-374">keseluruhan </italic><italic id="_italic-375">meliputi </italic><italic id="_italic-376">seluruh </italic><italic id="_italic-377">bagian </italic><italic id="_italic-378">yang </italic><italic id="_italic-379">perlu </italic><italic id="_italic-380">untuk </italic><italic id="_italic-381">menjadikan </italic><italic id="_italic-382">lengkap ;</italic><italic id="_italic-383">utuh </italic><italic id="_italic-384">bulat </italic><italic id="_italic-385">tidak </italic><italic id="_italic-386">terpisahkan </italic><italic id="_italic-387">terpadu. </italic>Maka pendidikan yang integral menurut Mohammad Natsir adalah Pendidikan yang tidak dipisahkan lengkap dan menyeluruh. Artinya pendidikan tersebut tidak hanya berorientasi kepada dunia sematara atau hanya berorientasi kepada akhirat semata akan tetapi pendidikan tersebut sesuatu yang utuh yang berorientasi kepada dunia ataupun akhirat.[10]</p>
          </list-item>
        </list>
      </sec>
      <sec id="heading-49b3ba5ca44603f09dc1af97fd73d4ad">
        <title>Relevansi Konsep Pendidikan Mohammad,Natsir dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam.</title>
        <p id="_paragraph-32">Kuirikulum tidak pernah berhenti.dalam dinamika pendidikan yang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Kurikulum sebagai suatu perangkat membantu praktisi pendidikan untuk.memenuhi kebutuhan peserta didik yang nantinya diharapkan mampu sebagai agen perubahan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dinamika perkembangan kurikulum pendidikan Islam ini pada khususnya juga merupakan media bantu pendidik untuk melakukan tugas m,, engajarnya dalam memahamkan materi ajar peserta didik lebih cepat dan akurat.</p>
        <p id="_paragraph-33">Keberadaan kurikulum pendidikan Islam harus selalu dikembangkan sehingga akan menjadikan Institusi pendidikan Islam senantiasa diharapkan oleh semua pihak. Maka itu dapat ditilik adanya kurikulum yang mendasar dan yang menyentuh kebutuhan dasar, yaitu melihat kebutuhan vital masyarakat. Kurikulum pendidikan Islam menghindari adanya kurikulum yang tumpang tindih dari satu materi pelajaran ke materi pelajaran yang lainnya yang diberlakukan secara transparan atau umum akan menjadikan proses pembelajaran menjadi monoton dan dampakya peserta didik menjadi jenuh. Maka kurikulum pendidikan Islam harus dikembangkan lebih baik sebagai parameter kualitas dan tidaknya suatu pendidikan harus memiliki visi, misi, konsep dan tujuan yang jelas dan seimbang antara muatan teoritis dan praktis</p>
        <p id="_paragraph-34">Kurikulum pendidikan Islam mestinya untuk mencapai keberhasilan peserta didik tidak dalam ranah kognitif semata, karena hal ini akan melahirkan demoralisasi peserta didik, yakni kurangnya peserta didik dalam kompetensi kepribadian dan minimnya keterampilan yang membawa peserta didik selalu dalam ketergantungan hidupnya. kognitif berarti kemampuan rasional, afektif kemampuan dalam berperasaan, dan psikomotorik sebagai refleksi dan keterampilan fisik harus diseimbangkan sedemikian rupa, sehingga cipta, rasa, dan karsa benar-benar dapat dinikmati oleh peserta didik pada khususnya dan masyarakat umumnya.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-0a06aab24960870d55173229e98d39ae">
          <list-item>
            <p><italic id="_italic-388">Relevansi</italic><italic id="_italic-389">.</italic><italic id="_italic-390">konsep pendidikan </italic><italic id="_italic-391">integral </italic><italic id="_italic-392">Mohammad</italic><italic id="_italic-393">.</italic><italic id="_italic-394">Natsir </italic><italic id="_italic-395">dengan </italic><italic id="_italic-396">dasar </italic><italic id="_italic-398">agama</italic>. Semua sistem yang ada.dalam masyarakat Islam, termasuk sistem pendidikannya harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran Islam yang meliputi aqidah, ibadah, muamalat. Hal ini bermakna bahwa semuanya harus mengacu pada sumber utamalsyari’at Islam yaitu Al-Qur’an dan sunnah. Adapun Konsep pendidikan Integral menurut Mohammad Natsir yang relevan dengan dasar agama pengembangan kurikulum pendidikan Islam adalah konseppendidikan yang meliputi integral, universal, dan harmonis.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><italic id="_italic-399">Relevansi konsep pendidikan integral Mohammad</italic><italic id="_italic-400">.</italic><italic id="_italic-401">Natsir dengan dasar falsafa. </italic>Filsafat memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empatl fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum. Pertama, filsafat dapatmenentukan arah dan tujuan pendidikan. Dengan filsafat.pandangan hidup atau value system, maka dapat ditentukan hendak dibawa kemana peserta didik itu. Kedua, filsafat dapat menentukan.isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Filsafat sebagai sistem nilai dapat dijadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran. Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. Kurikulum pada hakikatnya berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembangkan dan dapat hidup dalam sistem nilai masyarakatnya sendiri, oleh sebab itu dalam proses pengembangan kurikulum harus mencerminkan sistem nilai masyarakat. Adapun konsep pendidikan integral menurut Mohammad Natsir yang relevan dengan dasar falsafah pengembangan kurikulum pendidikan Islam adalah konsep pendidikan yang berlandaskan tauhid. Dimana dalam falsafah ini memberikan arah serta kompas untuk tujuan pendidikan Islam, sehingga susunan kurikulum mengandung suatu kebenaran, terutama dari sisi nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang memang diyakini kebenarannya.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><italic id="_italic-402">Relevansi konsep</italic><italic id="_italic-403">Pendidikan integral</italic><italic id="_italic-404">.</italic><italic id="_italic-405">Mohammad</italic><italic id="_italic-406">.</italic><italic id="_italic-407">Natsir</italic><italic id="_italic-408">dengan</italic><italic id="_italic-409">dasar psikologi.</italic>Syafruddin Nurdin mengatakan, bahwa pada dasarnya pendidikan tidak terlepas dengan unsur-unsur psikologi, sebab pendidikan adalah menyangkut tingkah laku anak menuju kedewasaan. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar selalu diikutkan dengan teori-teori perubahan tingkah laku antara lain adalah behaviorisme, psikologi daya, perkembangan kognitif, teori lapangan dan teori kepribadian. Sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentinga anak yakni menciptakan situasi- situasi yang memungkinkan anak dapat belajar mengembangkan bakatnya. Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam mengantarkan anak didik sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan. Pemahaman tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Dengan demikian, kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologi perkembangan anak dan perkembangan belajar anak. Adapun konsep pendidikan integral menurut Mohammad Natsir yang relevan dengan dasar psikologi pengembangan kurikulum pendidikan Islam adalah konsep pendidikan yang harmonis. Pendidikan harmonis akan menciptakan peserta didik yang berkarakter sehingga terhindar dari berbagai macam perbuatan tercela seperti tawuran. Hal ini sesuai dengan kepribadian anak bahwa peserta didik sangat memperhatikan perkembangan psikologi</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p><italic id="_italic-410">Relevansi Konsep Pendidikan Integral</italic><italic id="_italic-411">.</italic><italic id="_italic-412">Mohammad</italic><italic id="_italic-413">.</italic><italic id="_italic-414">Natsir</italic><italic id="_italic-415">dengan Dasar</italic><italic id="_italic-416">Sosial.</italic>Pendidikan merupakan usaha untuk mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberi bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Ini dapat dimaklumi bahwa pendidikan merupakan usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didikuntuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, namun lebih penting lagi untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Kita tidak mengharapkan munculnya manusia yang terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan lahirnya manusia yang dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyarakat. Dalam sistem sosial salah satu aspek terpenting adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara kehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai yang bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan suatu zaman. Adapun Konsep pendidikan Integral menurut Mohammad Natsir yang relevan dengan dasar sosial pengembangan kurikulum pendidikan Islam adalah konsep pendidikan yang harmonis, pendidikan harmonis akan menciptakan peserta didik yang berkarakter sehingga terhindar dari berbagai macam perbuatan tercela seperti tawuran. Hal ini sangat penting terhadap peserta didik.[11]</p>
          </list-item>
        </list>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-be9f5733a9bc4f2811424e12c5ebbfe3">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-41">Konsep pemikiran Mohammad Natsir tentang pendidikan Islam, sejatinya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan perlunya dua instrumen, yakni inderawi dan akal. Melalui inderawi, akan dapat diketahui ilmu yang bersifat konkrit, sedangkan melalui akal, akan dapat diketahui ilmu yang bersifat metafisik.</p>
      <p id="_paragraph-42">Landasan Mohammad Natsir tentang pendidikan Islam yang integral dan harmonis adalah hasil dari ijtihad dan renungan yang digali Mohammad Natsir dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pendidikan integralistik yang dikemukakan oleh Mohammad Natsir adalah berdasarkan tauhid, agar manusia tetap segi sikap dan perbuatan. Konsep yang dipegang oleh Mohammad Natsir, bahwa kemajuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Islam tidaklah diukur dengan segala kepentingan duniawi saja, karna sejatinya manusia diciptakan tidak lain untuk menghambakan diri kepada Allah swt. Maka dalam pemikiran Mohammad Natsir sampai dimana kehidupan duniawi memberikan asset untuk kehidupan di akhirat kelak. Semua sistem pendidikan harus berdsarkan dengan Islam termasuk sistem pendidikannya harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran Islam yang meliputi aqidah, ibadah, muamalat. Hal ini bermakna bahwa semuanya harus mengacu pada sumber utama syari’at Islam yaitu Al-Qur’an dan sunnah.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>