<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Workplace Well-Being Pada Karyawan Pt X Di Sidoarjo</article-title>
        <subtitle>Well-Being Workplace for Pt X Employees in Sidoarjo</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-29a42226793ab60bf65ad61da2575178" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Agustin</surname>
            <given-names>Intriyawati</given-names>
          </name>
          <email>iinagustin030895@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-ce41bb3add39475cb4bd989f711034bb" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Maryam</surname>
            <given-names>Effy Wardati</given-names>
          </name>
          <email>effywardati@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-08-18">
          <day>18</day>
          <month>08</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-4109801733494698d78a0cf9219f519e">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-15"><italic id="_italic-61">Workplace well-being</italic> merupakan kesehatan mental karyawan yang dipengaruhi oleh pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, hubungan positif dengan orang lain, penguasaan terhadap lingkungan, integrasi sosial, dan kontribusi sosial [1]. <italic id="_italic-62">W</italic><italic id="_italic-63">orkplace well</italic><italic id="_italic-64">-</italic><italic id="_italic-65">being </italic>sebagai kesejahteraan yang dirasakan oleh karyawan mendapatkan pengaruh dari adanya kepuasan terhadap aspek-aspek dalam pekerjaannya [2]. <italic id="_italic-66">Workplace well</italic><italic id="_italic-67">-</italic><italic id="_italic-68">being </italic>meliputi kepuasan kerja <italic id="_italic-69">(job</italic><italic id="_italic-70">satisfaction) </italic>dan perasaan karyawan secara umum <italic id="_italic-71">(core affect)</italic>, serta <italic id="_italic-72">work values</italic> atau dimensi-dimensi penting yang terdapat pada pekerjaannya.</p>
      <p id="_paragraph-16">Karyawan yang mempunyai <italic id="_italic-73">workplace</italic><italic id="_italic-74">well</italic><italic id="_italic-75">-</italic><italic id="_italic-76">being </italic>yang tinggi yaitu karyawan yang ada dalam keadaan emosi positif sehingga menyebabkan karyawan lebih berbahagia dan lebih produktif. Akan tetapi, pada karyawan yang berada pada <italic id="_italic-77">workplace well</italic><italic id="_italic-78">-</italic><italic id="_italic-79">being </italic>rendah maka karyawan dapat menjadi kurang produktif, kurang dapat memutuskan hal yang benar dan baik dan mempunyai kemungkinan untuk absesn atau tidak masuk kerja [3].</p>
      <p id="_paragraph-17"><italic id="_italic-80">W</italic><italic id="_italic-81">orkplace well</italic><italic id="_italic-82">-</italic><italic id="_italic-83">being</italic> pada karyawan yaitu untuk menjaga karyawan supaya bertahan di perusahaan dan tidak beralih ke perusahaan lain, menaikkan motivasi dan semangat kerja, dan menaikan sikap setia atau loyal karyawan terhadap perusahaan. Dalam rangka menjaga karyawan maka sebaiknya diberi lingkungan kerja yang kondusif. Dengan demikian dapat memberikan manfaat guna mencukupi kebutuhan fisik dan psikis karyawan serta keluarganya [4].</p>
      <p id="_paragraph-18">Mogok massa merupakan salah satu indikasi adanya ketidakpuasan karyawan yang bekaitan dengan <italic id="_italic-84">workplace well-being</italic>. Ketidakpuasan terhadap kondisi kenyamanan di lingkungan kerja, juga terjadi di perusahaan PT X di Sidoarjodengan indikasi yang memperlihatkan bahwa karyawan belum merasakan <italic id="_italic-85">workplace well</italic><italic id="_italic-86">-</italic><italic id="_italic-87">being</italic>, seperti merasa seper ti kurang dapat menyesuaikan diri pada lingkungan kerja, merasa gaji belum terpenuhi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kurang memperoleh penghargaan atas prestasi yang telah diberikan oleh karyawan. Karyawan juga merasa masih diberikan tindakan yang tidak pantas seperti kata-kata yang kasar. Seharusnya karyawan dengan <italic id="_italic-88">workplace well</italic><italic id="_italic-89">-</italic><italic id="_italic-90">being </italic>yang baik mampu dan memiliki pengetahuan mengenai pekerjaannya, sehingga dapat menyesuaikan diri pada lingkungan kerja. Selain itu upah dan penghargaan sebagai individu di tempat kerja juga seharusnya didapatkan oleh seorang karyawan perusahaan. Dengan demikian karyawan tersebut memiliki <italic id="_italic-91">workplace well</italic><italic id="_italic-92">-</italic><italic id="_italic-93">being </italic>yang baik sehingga karyawan tersebut puas atas pekerjaan dan apa yang telah dikerjakan untuk perusahaan [2]. Karyawan adalah aset perusahaan, setiap perusahaan akan mencapai target produktifitas jika memiliki sumber daya manusia yang potensial dan berkeahlian. Perkembangan sebuah perusahaan dipengaruhi oleh potensi dan keahlian yang dimilliki oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Berdasarkan hal tersebut di atas maka terdapat alasan mengapa employee well-being merupakan hal yang patut diperhatikan oleh perusahaan karena pengalaman di tempat kerja atau lingkungan sosial secara psikologi akan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari individu.</p>
      <p id="_paragraph-19">Urgensi dari <italic id="_italic-94">workplace well</italic><italic id="_italic-95">-</italic><italic id="_italic-96">being</italic> karyawan ini bisa ditunjukkan oleh hasil riset yang dijalankan Wanda menyatakan bahwa pada karyawan produksi, <italic id="_italic-97">workplace well</italic><italic id="_italic-98">-</italic><italic id="_italic-99">being</italic> kurang mendapatkan perhatian perusahaan. Perusahaan lebih memperhatikan masalah mesin, dan kurang peduli terhadap aspek lain. Dengan taraf <italic id="_italic-100">workplace well</italic><italic id="_italic-101">-</italic><italic id="_italic-102">being</italic> yang minimal dan tugas yang monoton maka karyawan yang bertugas di bagian operator mesin ini termasuk dalam kategori rentan menghadapi stres. <italic id="_italic-103">workplace</italic><italic id="_italic-104"> well</italic><italic id="_italic-105">-</italic><italic id="_italic-106">being</italic> mampu mempengaruhi kondisi fisik yang akan mennyebabkan penampilan seseorang. Rendahnya <italic id="_italic-107">workplace well</italic><italic id="_italic-108">-</italic><italic id="_italic-109">being</italic> biasanya disebabkan oleh beban kerja, tekanan waktu, kualitas pengawasan, dan perasaan tidak aman.</p>
      <p id="_paragraph-20">Permasalahan <italic id="_italic-110">workplace well</italic><italic id="_italic-111">-</italic><italic id="_italic-112">being</italic> yang kerap timbul ialah soal kompensasi yang kurang memadai dengan kebutuhan hidup [2]. Persoalan finansial yang membuat stres umumnya berasal dari penghasilan yang tidak memadai, besarnya tunggakan, serta banyaknya kebutuhan hidup. Permasalahan itu sering menyebabkan karyawan tidak bersemangat ketika menjalankan pekerjaan sehingga kinerjanya menurun. Dengan demikian minimnya kompensasi yang tidak memadai dibandingkan dengan beban kerja menjadikan sebab munculnya stres kerja. Berdasarkan hasil riset Hartanti menyatakan bahwa kepribadian yang fit dengan tuntutan pekerjaan dan budaya organisasi akan dapat menaikkan <italic id="_italic-113">workplace well</italic><italic id="_italic-114">-</italic><italic id="_italic-115">being</italic> pekerja [3].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-2c2fbd156b6067b76b4ded91d554a1f5">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-22">Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan PT X Sidoarjo yang berjumlah 920 karyawan. sampel dalam penelitian ini berjumlah 255 karyawan, adapun teknik sampling yang digunakan <italic id="_italic-116">non probability sampling</italic> dengan teknik yang diambil yaitu <italic id="_italic-117">proportionate random sampling</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-23">Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala terpakai, yaitu uji coba yang hanya digunakan dalam satu kali penyebaran sesuai dengan hipotesa penelitian. Hasil pengujian reliabilitas skala<italic id="_italic-118">workplace well</italic><italic id="_italic-119">-</italic><italic id="_italic-120">being </italic>memperlihatkan koefisien reliabilitas senilai 0,938. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data skala <italic id="_italic-121">workplace well-being</italic><italic id="_italic-122">. </italic>Skala <italic id="_italic-123">workplace </italic><italic id="_italic-124">well-being</italic> didasarkan pada aspek-aspek <italic id="_italic-125">workplace well-being</italic> yaitu, aspek <italic id="_italic-126">workplace well</italic><italic id="_italic-127">-</italic><italic id="_italic-128">being </italic>dibagi menjadi dua yakni intrinsik serta ekstrinsik. Intrinsik mencakup tanggung jawab, arti pekerjaan, kemandirian, penggunaan kompetensi, perasaan berprestasi. Ekstrinsik mencakup, penggunaan waktu, kondisi kerja, pengawasan, kesempatan promosi, pengakuan, penghargaan, upah, keamanan [2].</p>
      <p id="_paragraph-24">Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistic deskriptif dengan bantuan program SPSS 16.0 <italic id="_italic-129">for windows.</italic> Dalam metode ini pengajiannya digambarkan melalui tabel, grafik, dan perhitungan persentase yang akan dijelaskan menggunakan kalimat deskriptif.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-ba2e19d176c4bb2267b6f0653ae6bb8b">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-d338ab5188c466e43276831919551001">
        <title>Gambaran <italic id="_italic-238">Workplace Well-bein</italic> g Karyawan PT X Sidoarjo</title>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title><bold id="bold-784d1f66bb8c3e8e907fe20c0f754479"/>Deskriptif Statistik</title>
            <p id="_paragraph-27">Hasil Olah Data SPSS, 2020</p>
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-b0365c46a603a683a269dc59b771b368">
                <td id="table-cell-2c4431976551e2a9ba3af9fd2bbf05d9" />
                <td id="table-cell-0df801a54f7d3ab6a57c20eec23d45f9">N</td>
                <td id="table-cell-89de90da2856888cf587f8dfa2be7bac">Minimum</td>
                <td id="table-cell-237e19d220b66135d74ac373c3d798f0">Maksimum</td>
                <td id="table-cell-6c6048131a7f918f2886a8cfffdd902a">Mean</td>
                <td id="table-cell-f213716c6f38c58ed53f866045f961b2">Std. Deviation</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b3453b9ded17c18bbee12ac45413e7d0">
                <td id="table-cell-354c560ffee3b8ee1ea80914754e936b">Rata-rata Intrinsik</td>
                <td id="table-cell-2c7b1376b145ee2b78426163da13bb5f">255</td>
                <td id="table-cell-3841bef5e6b80539351bbeebbe2c56cf">2,15</td>
                <td id="table-cell-bd185afef95a95061536c3e428dcb7b3">3,60</td>
                <td id="table-cell-daa5498740ce25d6aad46b2be15e6f75">30,394</td>
                <td id="table-cell-e43195d5c707186e0f07902bba81a631">,37674</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-80ef13ef17ee6a75232fe655070e3c67">
                <td id="table-cell-1c4520ff76091ca91bf86cdac899007b">Rata-rata Ekstrinsik</td>
                <td id="table-cell-f4dad16e9f5f10d1201043139db9d065">255</td>
                <td id="table-cell-91467879f41120c703546b6de8fa4396">2,52</td>
                <td id="table-cell-f962c44e6a8425a2009d108c9fa47c5b">3,70</td>
                <td id="table-cell-71357c4ce1f9c5a393e88230b5ebaa16">30,587</td>
                <td id="table-cell-4a5c786e2157f8cee78486d3195b89f0">,31958</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3ece4d102fb347cfe8001a8adeb8fdef">
                <td id="table-cell-cd7372f21cf0c26fcb95fbc5cfc30283">Rata-rata Workplace Well-being</td>
                <td id="table-cell-9f646eb74f1e9a29a05971f12abdf072">255</td>
                <td id="table-cell-735209be7b3f11dc9a7c1468db123ba0">2,42</td>
                <td id="table-cell-4908fa3d73d782b285f00e284c8746e2">3,64</td>
                <td id="table-cell-29e4ac9753c83c90688b8b1c5fcd6bb7">30,530</td>
                <td id="table-cell-f81ec203095d4be024316ac2c9035bb3">,33476</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-29">Berdasarkan rata-rata skor <italic id="_italic-131">workplace well</italic><italic id="_italic-132">-</italic><italic id="_italic-133">being </italic>memiliki nilai 3,05 sehingga secara keseluruhan <italic id="_italic-134">workplace well</italic><italic id="_italic-135">-</italic><italic id="_italic-136">being </italic>yang dimiliki oleh subjek berkategori tinggi yaitu berada di rentang 3,00-4,00 artinya secara keseluruhan karyawan PT X Sidoarjo memiliki <italic id="_italic-137">workplace well</italic><italic id="_italic-138">-</italic><italic id="_italic-139">being</italic> yang baik. Jika dilihat dari dimensi <italic id="_italic-140">workplace well</italic><italic id="_italic-141">-</italic><italic id="_italic-142">being </italic>maka dapat diketahui bahwa rata-rata skor dimensi intrinsik subjek dan dimensi ektrinsik subjek memiliki nilai yang hampir sama yaitu rata-rata skor dimensi intrinsik (3,04) sedangkan rata-rata skor dimensi ekstrinsik (3,06) artinya kedua dimensi tersebut dimiliki oleh karyawan PT X Sidoarjo dengan porsi yang hampir sama.</p>
        <p id="_paragraph-30">Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa <italic id="_italic-143">workplace well</italic><italic id="_italic-144">-</italic><italic id="_italic-145">being</italic>pada karyawan PT X Sidoarjo dalam kategori tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki <italic id="_italic-146">workplace well</italic><italic id="_italic-147">-</italic><italic id="_italic-148">being</italic>dalam kategoritinggi mendapat prosentase 58.4%, karyawan yang memiliki <italic id="_italic-149">workplace well</italic><italic id="_italic-150">-</italic><italic id="_italic-151">being</italic>dalam kategorisedang mendapat prosentase 41.6% dan karyawan yang memiliki <italic id="_italic-152">workplace well</italic><italic id="_italic-153">-</italic><italic id="_italic-154">being</italic> dalam kategori rendah mendapat prosentase 0%.</p>
        <p id="_paragraph-31">
          <bold id="_bold-22">Gambar 1</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-32">
          <bold id="_bold-23">Gambaran </bold>
          <italic id="_italic-155">
            <bold id="_bold-24">Workplace Well-being</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-24" />
        </p>
        <p id="_paragraph-33">Hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 255 subjek yang berkategori <italic id="_italic-156">Workplace Well</italic><italic id="_italic-157">-</italic><italic id="_italic-158">being</italic> tinggi sebanyak 149 orang (58,4%), yang berkategori <italic id="_italic-159">Workplace Well</italic><italic id="_italic-160">-</italic><italic id="_italic-161">being</italic> sedang sejumlah 106 orang (41,6 %). Dengan demikian, sebagian besar subjek penelitian ini memiliki <italic id="_italic-162">Workplace Well</italic><italic id="_italic-163">-</italic><italic id="_italic-164">being </italic>tinggi. Mengacu pada penelitian sebelumnya, <italic id="_italic-165">Well-being</italic> yang tinggi akan memiliki dampak bagi keinginan karyawan untuk keluar (<italic id="_italic-166">turnover intention</italic>). Restika dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan <italic id="_italic-167">workplace well-being </italic><italic id="_italic-168">dan</italic><italic id="_italic-169"> work locus of control</italic> pada karyawan perusahaan manufaktur. Hal ini menunjukkan bahwa semakin internal kecenderungan locus of control pada karyawan perusahaan manufaktur, maka semakin tinggi pula tingkat <italic id="_italic-170">workplace well-being</italic> nya. Sebaliknya, semakin eksternal kecenderungan <italic id="_italic-171">locus of control</italic> pada karyawan perusahaan manufaktur, maka semakin rendah pula tingkat <italic id="_italic-172">workplace well-being</italic>[3].</p>
        <p id="_paragraph-34">Bryson, Forth, dan Stokes menyatakan bahwa taraf <italic id="_italic-173">workplace well-being </italic>individukemungkinan akan mendapat pengaruh dari karakteristik pribadi yang dibawa [5]. Karakteristik pribadi yang dibawa terdiri atas jenis kelamin, usia, kepribadian, genetik dan kompetensi. Banyak dari karakteristik sesorang yang jelas berhubungan satu dengan yang lainnya.</p>
        <p id="_paragraph-35">
          <bold id="_bold-25">Gambar 2</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-36">
          <bold id="_bold-26">Tabulasi</bold>
          <bold id="_bold-27">Silang</bold>
          <bold id="_bold-28">Rata-rata </bold>
          <italic id="_italic-174">
            <bold id="_bold-29">Workplace Well-</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-29" />
          <italic id="_italic-175">
            <bold id="_bold-30">Being </bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-31">d</bold>
          <bold id="_bold-32">an</bold>
          <bold id="_bold-33">Jenis</bold>
          <bold id="_bold-34">Kelamin</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-37">Menurut Bryson, Forth, dan Stokes [5] <italic id="_italic-176">Workplace Well</italic><italic id="_italic-177">-</italic><italic id="_italic-178">being </italic>salah satunya dipengaruhi oleh jenis kelamin. Siti Fatimatuz Zahro [6] pada penelitiannya yang dilakukan di PT Gressboard Mojokerto menunjukkan bahwa <italic id="_italic-179">workplace well-being</italic> tinggi terdapat pada karyawan laki-laki. Hal ini berarti bahwa seorang karyawan laki-laki cenderung mengalami <italic id="_italic-180">Workplace Well</italic><italic id="_italic-181">-</italic><italic id="_italic-182">being </italic>lebih tinggi dibanding karyawan perempuan. Seorang laki-laki cenderung merasakan kebahagiaan (kenyamanan) dibanding karyawan perempuan. Hal ini dapat dipahami mengingat secara tanggung jawab laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menafkahi keluarga, sehingga dengan bekerja laki-laki merasa lebih berharga.</p>
        <p id="_paragraph-38">
          <bold id="_bold-35">Gambar 3</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-39">
          <bold id="_bold-36">Tabulasi Silang</bold>
          <bold id="_bold-37">Rata-rata</bold>
          <italic id="_italic-183">
            <bold id="_bold-38">Wor</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-38" />
          <italic id="_italic-184">
            <bold id="_bold-39">k</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-39" />
          <italic id="_italic-185">
            <bold id="_bold-40">place Well-being </bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-41">dan Usia</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-40">Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada subjek berdasarkan usia diketahui bahwa karyawan yang berusia 26-35 tahun cenderung memiliki <italic id="_italic-186">Workplace Well</italic><italic id="_italic-187">-</italic><italic id="_italic-188">being</italic>lebihtinggijika dibanding dengan usia yang lain. Rustanti menyatakan bahwa <italic id="_italic-189">Workplace Well</italic><italic id="_italic-190">-</italic><italic id="_italic-191">being </italic>salah satunya dipengaruhi oleh usia dimana diketahui semakin bertambahnya usia seseorang dapat mempengaruhi <italic id="_italic-192">workplace well-being </italic>karyawan [6]. Pada peneltiannya yang dilakukan di PT Gressboard Mojokerto <italic id="_italic-193">workplace well-being</italic> tinggi pada terdapat pada usia 29 tahun [6]. Keyes, Shmotkin, dan Ryff [7] bahwa semakin tua usia pekerja maka akan mempengaruhi <italic id="_italic-194">workplace</italic><italic id="_italic-195"> well-being </italic>yang mereka peroleh.</p>
        <p id="_paragraph-41">
          <bold id="_bold-42">Gambar 4</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-42">
          <bold id="_bold-43">Tabulasi Silang Rata-rata </bold>
          <italic id="_italic-196">
            <bold id="_bold-44">Wor</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-44" />
          <italic id="_italic-197">
            <bold id="_bold-45">k</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-45" />
          <italic id="_italic-198">
            <bold id="_bold-46">place Well-being </bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-47">dan </bold>
          <bold id="_bold-48">Jabatan</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-43">Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada subjek berdasarkan jabatan diketahui bahwa tingkat <italic id="_italic-199">workplace well-being</italic> paling banyak dialami oleh karyawan yang menjabat sebagai SPV dan Kepala Divisi. Bryson, Forth, dan Stokes [5] menjelaskan bahwa <italic id="_italic-200">Workplace Well</italic><italic id="_italic-201">-</italic><italic id="_italic-202">being </italic>dipengaruhi oleh karakteristik pekerjaan. Bakker, dan Demerouti [8] mengatakan bahwa beberapa penelitian menyatakan bahwa karakteristik pekerjaan (<italic id="_italic-203">job characteristic</italic>), yang terdiri atas <italic id="_italic-204">job demands</italic>, <italic id="_italic-205">job control</italic>, dan <italic id="_italic-206">job resources</italic>, dapat mempunyai akibat yang besar bagi kesejahteraan karyawan. Dengan demikian jabatan sesorang di suatu perusahaan akan mempengaruhi <italic id="_italic-207">Workplace</italic><italic id="_italic-208">Well</italic><italic id="_italic-209">-</italic><italic id="_italic-210">being</italic>. Secara jabatan-jabatan yang relatif tinggi yaitu supervisor dan kepala divisi lebih tinggi <italic id="_italic-211">Workplace Well</italic><italic id="_italic-212">-</italic><italic id="_italic-213">being </italic>dibanding karyawan dengan jabatan sebagai operator. Hal ini berarti jabatan yang tinggi akan memberikan kehormatan dan kompensasi yang lebih baik. Kompensasi yang baik dan kehormatan yang tinggi akan membantu karyawan memperoleh <italic id="_italic-214">Workplace Well</italic><italic id="_italic-215">-</italic><italic id="_italic-216">being.</italic> Hal ini mengandung makna bahwa karyawan dengan jabatan SPV dan Kepala Divisi merasakan telah melakukan tanggung jawab yang diberikan oleh perusahaan terhadap mereka dengan baik dimana hal ini sejalan dengan perasaan berprestasi dimana karyawan yang bekerja dengan baik akan diberikan penghargaan. Karyawan juga merasa bahwa kondisi lingkungan kerja di perusahaan tersebut memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berkembang secara professional [9].</p>
        <p id="_paragraph-44">
          <bold id="_bold-49">Gambar 5</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-45">
          <bold id="_bold-50">Tabulasi Silang Rata-rata </bold>
          <italic id="_italic-217">
            <bold id="_bold-51">Wor</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-51" />
          <italic id="_italic-218">
            <bold id="_bold-52">k</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-52" />
          <italic id="_italic-219">
            <bold id="_bold-53">place Well-being </bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-54">dan </bold>
          <bold id="_bold-55">Pendidikan</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-46">Jenjang pendidikan merupakan salah satu ukuran yang menentukan bagaimana karakteristik pekerjaan karyawan. Menurut Bakker, dan Demerouti [8] karakteristik pekerjaan (<italic id="_italic-220">job characteristic</italic>), berdampak besar bagi kesejahteraan karyawan. Menurut pengamatan peneliti, karyawan dengan pendidikan tinggi akan cenderung mendapatkan pekerjaan di bidang pengelolaan, sedangkan karyawan dengan pendidikan rendah akan mendapatkan pekerjaan kasar. Dengan demikian, dalam studi ini dapat dijelaskan bahwa berdasarkan pendidikan, karyawan yang memiliki jenjang pendidikan S1 cenderung mempunyai <italic id="_italic-221">Workplace Well</italic><italic id="_italic-222">-</italic><italic id="_italic-223">being </italic>yang lebih tinggi dibandingkan karyawan dengan jenjang pendidikan D3 atau SMA/SMK. Hal ini berarti bahwa dengan pendidikan yang memadai maka karyawan akan mememiliki bekal pengetahuan yang lebih baik sehingga akan mempermudah dalam menjalankan pekerjaan. Kondisi ini akan mendrong karyawan memperoleh <italic id="_italic-224">Workplace Well</italic><italic id="_italic-225">-</italic><italic id="_italic-226">being.</italic> Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ryff dan Singer bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka tingkat <italic id="_italic-227">well</italic><italic id="_italic-228">-</italic><italic id="_italic-229">being</italic> orang tersebut akan semakin tinggi [10].</p>
        <p id="_paragraph-47">
          <bold id="_bold-56">Gambar 6</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-48">
          <bold id="_bold-57">Tabulasi Silang Rata-rata </bold>
          <italic id="_italic-230">
            <bold id="_bold-58">Wor</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-58" />
          <italic id="_italic-231">
            <bold id="_bold-59">k</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-59" />
          <italic id="_italic-232">
            <bold id="_bold-60">place Well-being </bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-61">dan </bold>
          <bold id="_bold-62">Lama </bold>
          <bold id="_bold-63">Kerja</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-49">Demikian juga berdasarkan lama kerja, karyawan yang memiliki masa kerja lebih dari lima tahun cenderung mempunyai <italic id="_italic-233">Workplace Well</italic><italic id="_italic-234">-</italic><italic id="_italic-235">being </italic>lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan dengan masa kerja di bawahnya. Karyawan dengan lama kerja yang memadai akan memiliki pengalaman yang memudahkan dalam beradaptasi dan menjalankan pekerjaan. Sebagaimana hasil penelitian Rahayu dan Salendu [11] bahwa semakin lama karyawan bekerja, maka akan tinggi kesejahteraan psikologis di tempat kerja pada karyawan. Mengenai lama kerja Enders dan Smoak [12] mengungkapkan bahwa <italic id="_italic-236">workplace well-being</italic> dapat dirasakan setelah seseorang bekerja selama dua tahun diperusahaannya. Sejalan dengan pengertian diatas Harter, Schimit &amp; Hayes [1] menyimpulkan bahwa lama kerja dapat mempengaruhi keterikatan karyawan dan <italic id="_italic-237">workplace well-being</italic> yang dirasakan karyawan pada pekerjaannya sehingga akan meningkatkan keuntungan baik bagi perusahaan maupun karyawan.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-6b539e99d8fdbbfd4e6dab32f326145a">
        <title>Faktor-Faktor yang mempengaruhi <italic id="_italic-239">Workplace Well-being</italic> pada karyawan PT X di Sidoarjo</title>
        <p id="_paragraph-50">
          <bold id="_bold-78">Gambar</bold>
          <bold id="_bold-79">7</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-51">
          <bold id="_bold-80">Faktor-faktor</bold>
          <italic id="_italic-240">
            <bold id="_bold-81">Workplace Well-being</bold>
          </italic>
          <bold id="_bold-81" />
        </p>
        <p id="_paragraph-52">Dari hasil penelitian bisa dipaparkan bahwa secara berurutan faktor yang mempengaruhi <italic id="_italic-241">workplace well</italic><italic id="_italic-242">-</italic><italic id="_italic-243">being </italic>karyawan dalam penelitian ini dari yang tertinggi ke yang terendah adalah pencapaian prestasi (27,84%), mengevaluasi diri sendiri (23,5%), merasa senang ketika mendapatkan dukungan dari orang lain (21,18%), Mendapatkan pengakuan rang lain (16,47), dan yang terakhir yaitu puas dalam melakukan pekerjaan (11%).</p>
        <p id="_paragraph-53">Hasil penelitian ini menunjukkkan bahwa <italic id="_italic-244">workplace well</italic><italic id="_italic-245">-</italic><italic id="_italic-246">being </italic>lebih banyak dipengaruhi oleh pencapaian kerja. Menurut Pryce-Jones [13] <italic id="_italic-247">workplace well</italic><italic id="_italic-248">-</italic><italic id="_italic-249">being</italic> dapat membentuk pikiran seseorang ke arah memaksimumkan prestasi kerja dan mencapai potensi diri. Karyawan akan mengalami kepuasan ketika mampu mencapai target yang dibebankan oleh perusahaan. Karyawan akan merasakan kepuasan dalam bekerja saat mampu meraih prestasi yang tinggi.</p>
        <p id="_paragraph-54">Dengan demikian untuk meningkatkan tingkat <italic id="_italic-250">workplace well</italic><italic id="_italic-251">-</italic><italic id="_italic-252">being </italic>karyawan, perlu dilakukan dengan cara memberikan penghargaan dan apresiasi yang layak atas prestasi yang diraih agar semangat dan kepuasan kerjanya lebih tinggi. Sebagaimana dijelaskan oleh Page [2] bahwa peluang promosi, penghargaan, dan upah merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi <italic id="_italic-253">workplace well-being.</italic> Dengan demikian, salah satu cara untuk memberikan penghargaan yang layak kepada karyawan yang berprestasi adalah memberikan promosi jabatan atau bonus yang layak sesuai dengan prestasi dan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-e17ec50fe22dae30ec16afb6cade896a">
      <title>Simpulan dan Saran</title>
      <sec id="heading-18ad8be48dbc351b3575f22a6b3aba0a">
        <title>Simpulan</title>
        <p id="_paragraph-56">Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa <italic id="_italic-254">workplace well-being</italic> karyawan PT X Sidoarjo memiliki rata-rata tinggi yaitu 3,05. Sebagian besar subjek penelitian ini mempunyai <italic id="_italic-255">workplace well</italic><italic id="_italic-256">-</italic><italic id="_italic-257">being </italic>tinggi yaitu 59,2%, yang berkategori sedang 40,8%. Artinya <italic id="_italic-258">workplace well-being</italic> karyawan PT X Sidoarjo sudah baik. Faktor yang mempengaruhi <italic id="_italic-259">workplace well</italic><italic id="_italic-260">-</italic><italic id="_italic-261">being </italic>adalah pencapaian prestasi (27,84%), mengevaluasi diri sendiri (23,5%), merasa senang ketika mendapatkan dukungan dari orang lain (21,18%), Mendapatkan pengakuan orang lain (16,47), dan yang terakhir yaitu puas dalam melakukan pekerjaan (11%).</p>
      </sec>
      <sec id="heading-746c941fbdf8772c575c35cc33f73123">
        <title>Saran</title>
        <p id="_paragraph-57">Perusahaan perlu melakukan perbaikan pada <italic id="_italic-262">workplace well</italic><italic id="_italic-263">-</italic><italic id="_italic-264">being </italic>dalam rangka meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan. Perlu upaya untuk meningkatkan <italic id="_italic-265">workplace well</italic><italic id="_italic-266">-</italic><italic id="_italic-267">being </italic>dengan cara memperhatikan beban kerja agar kesehatan fisik dan psikis karyawan terjaga, membenahi lingkungan kerja baik fisik dan relasi sehingga karaywan akan nyaman, memperhatikan kesejahteraan karyawan, serta memberikan penghargaan yang layak kepada karyawan yang berprestasi.</p>
      </sec>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>