<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>PENGEMBANGAN SOFTSKILL GURU AL-ISLAM DALAM PEMBELAJARAN ISMUBA DI SEKOLAH KREATIF SD MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN</article-title>
        <subtitle>SOFTSKILL DEVELOPMENT OF AL-ISLAM TEACHERS IN ISMUBA LEARNING IN CREATIVE SCHOOL OF SD MUHAMMADIYAH 2 TULANGAN</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-8ada8b8e9347b1d493a7de3d50121d5e" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Faris</surname>
            <given-names>Muhammad Faris</given-names>
          </name>
          <email>nashihclothes13@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-e4b3661919786541c09a2ccba8c806cc" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Faris</surname>
            <given-names>Muhammad Faris</given-names>
          </name>
          <email>anitapujiastutik@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-08-14">
          <day>14</day>
          <month>08</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6447ebb3d91efcdb3227c8d677ffa4f6">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-16">Pada era globalisasi atau yang biasa kita sebut dengan era industri 4.0 seperti sekarang mulai nampak berbagai persaingan di dalam berbagai bidang, salah satu bidang tersebut adalah bidang pendidikan. Bidang pendidikan pada era globalilasi menuntut lulusan siswa yang berkualitas dan siap bersaing. Tidak hanya siap bersaing di dalam negeri saja tapi siap juga bersaing diluar negeri. Dunia pendidikan di era sekarang tidak hanya membekali setiap anak didiknya dengan pembelajaran akademik saja melainkan dengan mengembangkan kemampuan non akademiknya atau pengembangan skill yang dimiliki setiap anak didik. Banyak pengaruh yang bisa menjadikan siswa mampu untuk mengembangkan setiap potensi yang dia miliki. Tidak hanya peran individu siswa tersebut, tetapi juga lingkingan sekolah yang mendukung untuk berkembangnya <italic id="_italic-42">skill</italic> atau potensi tersebut. Lulusan siswa yang berkualitas didapat dari suatu proses pembelajaran yang baik yakni pembelajaran yang sistematik, efisien, efektif, dan menarik. Pembelajaran yang baik hanya mereka dapatkan oleh seorang guru yang kompeten, berkualitas, dan mempunyai <italic id="_italic-43">soft skill</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-17">Pendidikan yang dibutuhkan generasi mendatang tidak cukup hanya melihat tingginya nilai akademik pada peserta didik, tetapi pendidikan masa depan membutuhkan generasi yang menguasai keterampilan-keterampilan dasar. Budaya positif yang dikembangkan di sekolah ternyata mampu menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dapat berkomunikasi dengan baik, dapat menganalisis, dapat berfikir kritis, peduli, percaya diri, disiplin, menghormati keberagaman, dan dapat menyelesaikan masalah secara objektif. Pendidikan di Indonesia harus memperhatikan soft skill dalam pembelajaran dan tidak hanya memperhatikan hard skill saja. Tetapi pada realitanya pendidikan di Indonesia cenderung berorientasi pada aspek akademik seperti pengetahuan dan teknologi (hard skill). Sedangkan pengembangan soft skill seperti keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. (kemampuan interpersonal) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (kemampuan intrapersonal) dalam proses pembelajaran maupun dalam pembinaan kesiswaan masih sangat kurang mendapat perhatian.[1]</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f31a4e1cf170668d47c709e0d1e0008a">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian kualitatif. Penelitian ini cenderung bersifat deskriptif yang di mana penelitian ini menggunakan konsep naturalistik adalah meneliti yang sedang terjadi penelitian ini menjadi ukuran data yang paling bisa diterima. Sedangkan penelitian kualitatif deskriptif yang di gunakan untuk melaksanakan penelitian kualitatif sehubungan dengan kondisi dan keadaan dilapangan pengembangan soft skill guru Al-Islam dalam meningkatkan kualitas pembelajaran ISMUBA di SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Tujuan penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif, dapat memamparkan secara rinci tentang pengembangan soft skill guru Al-Islam dalam meningkatkan kualitas pembelajaran ISMUBA di SD Muhammadiyah 2 Tulangan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-202427e7b099662adcc7a49a5f106da2">
      <title>Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-19">Hambatan seorang guru dalam meningkatkan <italic id="_italic-44">softskill</italic> adalah terletak pada dalam diri individu guru itu sendiri, yang mana terlihat dari kurangnya rasa empati dan kedisiplinan dari guru SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Galuh dalam penelitiannya yang menyebutkan bahwa faktor penghambat pengembangan <italic id="_italic-45">softskill</italic> diantaranya adalah kurangnya kompetensi guru dalam pengembangan pembelajaran serta kurangnya kerjasama antara semua warga sekolah, baik dari guru, siswa, hingga kepala sekolah.[2] Selain itu, pengasahan <italic id="_italic-46">softskill</italic> guru dapat juga dilaksanakan melalui: kegiatan- kegiatan seminar, MGMP/KKG, pelatihan-pelatihan khusus <italic id="_italic-47">softskill</italic>, bisa juga melalui <italic id="_italic-48">character building</italic> yaitu dengan cara pembentukan karakter sebagai langkah awal yang dapat digunakan untuk membentuk insan yang prima sehingga diharapkan dapat memiliki <italic id="_italic-49">softskill</italic> yang prima.[3] guru ISMUBA SD Muhammadiyah 2 Tulangan melakukan upaya untuk mengatasi hambatan diantaranya melalui pengasahan kompetensi yang dimiliki dan bermuhasabah diri. Muhasabah diri ini penting dilakukan sebagai upaya untuk bisa mengetahui kekurangan apa yang dimiliki dan bagaimana langkah perbaikan yang harus dilakukan. Dalam proses pengembangan <italic id="_italic-50">softskill</italic> diperlukan strategi supaya dapat mengajarkan secara efektif. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Daniah dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat sembilan kiat mengajarkan soft skill yang efektif antara lain: (1) guru menjadi pendengar yang baik ketika siswa menyampaikan usul, ide, gagasan, dan pertanyaan, (2) membiasakan siswa mendengarkan saat guru berbicara, atau teman dan orang lain berbicara, (3) menghargai perbedaan pendapat, (4) memaklumi kesalahan siswa dan mendorong untuk meningkatkan serta memperbaikinya, (5) lebih mengedepankan dan menonjolkan keunggulan dan kelebihan masing-masing siswa dari pada kekurangannya untuk menumbuhkan percaya diri, (6) tidak terlalu cepat membantu siswa dalam memecahkan kesulitan, (7) memberikan kesempatan siswa berusaha memecahkan sendiri, (8) tidak kikir dalam memberikan reward kepada siswa yang melakukan hal-hal yang baik, (9) tidak mentertawakan, memperolok, merendahkan, dan mengejek siswa yang melakukan kesalahan. Selain faktor penghambat, terdapat juga faktor pendukung dalam pengembangan <italic id="_italic-51">softskill</italic>. Galuh dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa faktor pendukung pengembangan <italic id="_italic-52">softskill</italic> yaitu (1) jumlah siswa per-kelas relatif sedikit sehingga lebih efektif dalam internalisasi nilai soft skill; dan (2) banyaknya dukungan yang diberikan kepada siswa oleh kepala sekolah, wali kelas, para guru mata pelajaran maupun karyawan.<bold id="_bold-13"> </bold></p>
    </sec>
    <sec id="heading-c7cba491dea274659c82d8796f6ef29c">
      <title>Kesimpulan </title>
      <p id="_paragraph-20">Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang tela dipaparkan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-21">Pengembangan <italic id="_italic-53">softskill</italic> guru ISMUBA di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 2 Tulangan sudah dapat dikatakan bagus karena sudah sesuai dengan indikator dan 4 kompetensi guru, namun pada <italic id="_italic-54">softskill</italic>lebih mengutamakan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Guru ISMUBA SD Muhammadiyah 2 Tulangan melakukan pengembangan kompetensi melalui etos kerja, kedisiplinan dan komunikasi. Kendati demikian pada aspek Pengembangan <italic id="_italic-55">softskill</italic> guru ISMUBA SD Muhammadiyah 2 Tulangan masih ada yang belum terpenuhi, yakni pada aspek penilaian. Hal ini dikarenakan masih terdapat yang enggan memberikan penilaian kepada rekannya.Faktor penghambat dalam meningkatkan <italic id="_italic-56">softskill</italic> adalah terletak pada dalam diri individu guru itu sendiri, yang mana terlihat dari kurangnya rasa empati dan kedisiplinan dari guru SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Upaya yang dilakukan guru ISMUBA SD Muhammadiyah 2 Tulangan dalam mengatasi hambatan diantaranya melalui pengasahan kompetensi yang dimiliki dan bermuhasabah diri. Sedangkan faktor pendukung dalam pengembangan <italic id="_italic-57">softskill</italic> guru tidak hanya dari faktor internal namun juga dari faktor external yakni dukungan dari lingkungan sekitar. Untuk itu, pembinaan <italic id="_italic-58">softskill</italic> pada guru sangat penting karena akan memberikan dampak positif pada kualitas kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>