<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/archiving/1.1/JATS-archivearticle1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/ali.xsd">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Relation Between Leukocyte Count and CRP (C-Reactive Protein) Levels in Typhoid Fever Patients</article-title>
        <subtitle>Hubungan Jumlah Leukosit dan Kadar CRP (C-Reactive Protein) Pada Pasien Demam Tifoid</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Megawati</surname>
            <given-names>Alda </given-names>
          </name>
          <email>aldamegawati23@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Aliviameita</surname>
            <given-names>Andika</given-names>
          </name>
          <email>aliviameita@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-06-30">
          <day>30</day>
          <month>06</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
    </article-meta>
  </front>
  <body>
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan </title>
      <p>Demametifoidradalah penyakitlinfeksi yang bersifatqsistemiktdengan ciri penderitalmengalamildemam dan nyeritabdominalekarenarpenyebaranldarilbakterio<italic>Salmonella</italic><italic>q</italic>[1].pMenurutidataiDinaslKesehatanlProvinsilJawa Timur tahun 2013, penyakitrdemamitifoid merupakanr10 penyakitlterbanyakldi Provinsi Jawa1Timur [2].</p>
      <p>Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti sel, disebut juga sel darah putih. Sistem kekebalan yang menurun dapat mempengaruhi perubahan jumlah sel darah putih, salah satunya pada penderita demam tifoid [3]. Sistem imun tubuh yang turun dapat menyebabkan terganggunya mekanisme respon imun seluler dan humoral, sehingga untuk mengembalikan keseimbangan sistem imun dapat dilakukan dengan pemberian imunostimulator [4]. Pemeriksaan laboratorium pada pasien demam tifoid akan menunjukan adanya leukopenia, leukositosis atau leukosit normal [5].</p>
      <p>C-reactive protein merupakan salah satu protein fase akut non spesifik yang dihasilkan oleh hati dan kadar dalam darah meningkat pada inflamasi sebagai akibat respon imun non spesifik [6]. Bakteri umumnya menyebabkan penyakit yang lebih berat akibat inflamasi yang lebih luas sehingga lebih banyak melepaskan sitokin interleukin (IL) 6 yang merupakan sitokin penginduksi sintesis CRP [7]. Pada suatu infeksi, terjadi proses inflamasi yang menghasilkan sitokin yang merupakan stimulator inti dari produksi protein fase akut termasuk protein C-reaktif (C-reactive protein=CRP) [6].</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode</title>
      <p>
        <bold>A. Desain penelitian </bold>
      </p>
      <p>PenelitianyiniPmenggunakanuanalisisPkuantitatifPmetodePeksperimentalPlaboratorikPuntukPmengetahuiphubunganojumlahgleukositodan kadar CRP pada penderita demam tifoid. Dengancmenggunakantdesainopenelitian ini yaitu potong lintang atau <italic>Cross</italic><italic>y</italic><italic>sectional</italic>. </p>
      <p>
        <bold>B. Populasi dan sampel </bold>
      </p>
      <p>Populasi dalam penelitian ini adalah pasien demam tifoid. Sampel pada penelitian ini adalah darah vena pasien rawat inap dan rawat jalan yang terkena demam tifoid dengan hasil pemeriksaan widal titer 1/160-1/320. Sampel yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah 30 pasien yang berada  di RSUD. RA Basoeni, Gedeg Mojokerto.</p>
      <p>
        <bold>C. Tempat dan Waktu Penelitian </bold>
      </p>
      <p>Penelitian ini dilakukan di Laboratorium RSUD. RA Basoeni, Gedeg Mojokerto Penelitian ini dilakukan april 2021.</p>
      <p>
        <bold>D. Alat dan Bahan </bold>
      </p>
      <p>Alatpyang digunakan pada penelitian ini adalah <italic>Hematologi</italic><italic>x</italic><italic>Analyzer</italic>, mikroskop, platetCRP, batanghpengaduk, mikropipet, pipet tetes. Bahan yang digunakan adalah sampel darahtEDTA 10%, serum, spuid, yellow tip, antihuman CRP antibody, control positif, control negatif. </p>
      <p>
        <bold>E. Tahap Penelitian </bold>
      </p>
      <p>
        <bold>1. Tahap Persiapan</bold>
      </p>
      <p>Persiapanyyaitultahap dimanalpenelitilmelakukan persiapan alat, bahan dan pengambilan darah vena. pengambilan darah vena yang pertama yaitu tentukan lokasi penusukan. Pasangytourniquetipada lengan atas. Fiksasilvena dengan kapasialcohol 70%  Lakukanlpenusukan arah jarumisejajar arah vena, lubang jarum menghadap ke atas. Bila arah tepatiakan tampak darahtmemasuki pangkal jarum. Hisapapelan-pelan yang diperlukan. Lepas tourniquet, tekan tempat penusukan dengan kapas steril, cabut jarum pelan-pelan. Masukkan darahike botol EDTAldengan tabunglantikoagulan.</p>
      <p>
        <bold>2. Prosedur Pemeriksaan Widal </bold>
      </p>
      <p>Pengujian ini menggunakan metodeislide atau <italic>Slide</italic><italic>l</italic><italic>Aglutination. </italic>Pipet serumlmasing-masing, 20μl, 10μl, dan 5μl kedalam tiap lingkaran yang telah ditetesi serum, maka pengencerannya adalah 1:80, 1:160, 1:320. Campuryreagenlwidal dan serumihingga homogenldengan menggunakanlbatang pengaduk yang tersedia didalam kotak reagen. Kemudian baca hasil dalam waktu &gt;1 menit. Bila terjadilaglutinasi,ldikatakan reaksi widalipositif dan jikaitidak terjadilaglutinasildikatakantnegatif [8].</p>
      <p><bold>3.</bold> <bold>Prosedur Pemeriksaan</bold><bold> Leukosit</bold></p>
      <p>Tahapipengujian ini menggunakan alat <italic>hematologi</italic><italic>x</italic><italic>analyzer</italic>. Nama Alat Nihon Kohden tipe Alat MEK 6410K. Homogenkanltabung EDTA yangiberisi darah. Tekan OK pada alatylalu masukkan sampel padaijarum hingga hampirlmenyentuh dasar botol sampel. Kemudian tekanlcountiswitch dan biarkanihinggaljarum naik ke atas. Lalu Tarik tabung EDTA tersebut dan tunggu ± 1 menit hingga hasil sampel keluar pada layar. Isi identitas pada layariyang sesuaildengan identitasipada blanko permintaan. Tekan save, kemudian tekan preview dan print.</p>
      <p>
        <bold>4</bold>
        <bold>. Prosedur Pemeriksaan CRP (</bold>
        <bold>
          <italic>C-Reactive Protein</italic>
        </bold>
        <bold>)</bold>
      </p>
      <p>Pada pemeriksaanikadar CRP menggunakan metode kualitatif, jika hasil dari kualitatif menunjukkan CRP positif maka dilanjutkan metode semi kuantitatif. Dipipet keratasilingkarantslidetsampeliserumlsebanyake1ltetes (50μL), kontrolrpositifp(CP) danrkontrolinegatif (CN). Kemudianiditambahkan 1 tetes reagen lateks (antigen CRP) masing-masing ke atas lingkaran tersebut. Dihomogenkanidengan caralmemutaripada rotatorldengantkecepatani100irpm selamar2imenit.iSetelahlitu,phasiltdibacatdilbawahusinariterang.pAglutinasilyangpterjadilmenunjukkanrCRPipositif(CRP dalam spesimen ≥ 6 mg/L).</p>
      <list>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Pemeriksaan Kualitatif</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Pemeriksaan Kuantitatif</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Serum dengan metode kualitatif positif dilakukan pengencerantsampel secara seri, dengan cara:  dipipetosebanyak 50?μL NaCl 0,9% keratasi6ilingkaran slide.pSetelahlitu,ldipipeto50oμL serumikeoatasilingkarantI (pengencerany2 kali), dihomogenkan. Dipipetlsuspensi dari lingkaranlI sebanyakl50 μL keiatasilingkaran II (pengenceran 4 kali), sampailkeislide Vi(pengencerani32 kali). Dipipetlsebanyaki50 μL,ikeplingkaranoVI (untukostok), jikatmasih menunjukkan hasilypositif pada lingkaran V. Setelah itu,iditambahkan ke atas masing-masing lingkaran reagenilateks CRP sebanyak 1 tetes. Dihomogenkanidengan caratmemutarlpadalrotatoridengan kecepatant100irpm selamay2imenit. Setelahlitu, hasiltdibacaldilbawahlsinariterang. Pengenceranitertinggilyang masihypositift(tampaktaglutinasi)odikalikanidenganp6mg/LimenunjukkanltiteriCRPldalamispesimenlserumiyangidiperiksa.</p>
      <p>
        <bold>5. </bold>
        <bold>Teknik Analisa Data</bold>
      </p>
      <p>Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan software statistic SPSS versi 16.0. Untuk menentukan normalitas suatu kelompok data adalah dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk (untuk sampel &lt;50). Distribusi tidak normal maka dilakukan secara statistik dengan melakukan uji statistik non parametrik Spearman.</p>
      <p>
        <bold>6. </bold>
        <bold>Etika Penelitian</bold>
      </p>
      <p>Peneliti telah melakukan uji kelayakan etik dan mendapatkan sertifikat <italic>ethical clearance </italic>nomor 191/HRECC.FODM/IV/2021 dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <p>Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap hubungan jumlah leukosit dan kadar CRP (<italic>C-Reactive Protein</italic>) pada pasien demam tifoid, didapatkan hasil pada Tabel 4.1.</p>
      <p><bold>Tabel 4.1 </bold>Rerata ± Standar Deviasi (SD) Jumlah Leukosit dan kadar CRP (<italic>C-Reactive Protein</italic>) pada pasien demam  tifoid</p>
      <table-wrap>
        <table>
          <tr>
            <td>Variabel</td>
            <td>Rata-rata±SD</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Jumlah leukosit (10<sup>3</sup>/µL)                 </td>
            <td>12.997±7,276</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kadar CRP  (mg/l)   </td>
            <td>24,4±35,16</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Berdasarkan Tabel 4.1. menunjukkan bahwa rata-rata jumlah leukosit dari 30 pasien widal positif yang diteliti adalah 12.997 10<sup>3</sup>/µL jumlah leukosit terendah adalah 3.400 10<sup>3</sup>/µL dan jumlah leukosit tertinggi adalah 33.400 10<sup>3</sup>/µL sedangkan rata-rata kadar CRP sebesar 24,4 mg/l kadar CRP terendah adalah 0 dan kadar CRP tertinggi adalah 96.</p>
      <p>Uji normalitas menggunakan metode Shapiro-Wilk yang dilakukan pada jumlah leukosit dan kadar CRP pasien demam tifoid menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal dengan nilai signifikansi berturut-turut p= 0,000 dan 0,043.</p>
      <p><bold>Tabel 4.2</bold> Uji normalitas jumlah leukosit dan kadar CRP pasien demam tifoid</p>
      <table-wrap>
        <table>
          <tr>
            <td>Variabel</td>
            <td>p</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Jumlah Leukosit (10<sup>3</sup>/µL)</td>
            <td>0,043</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kadar CRP (mg/l)   </td>
            <td>0,000</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Hasil analisis menunjukkan bahwa data tersebut terdistribusi tidak normal maka uji korelasi menggunakan uji non parametrik yaitu Korelasi Spearman.</p>
      <p><bold>Tabel 4.3</bold> Uji korelasi spearman jumlah leukosit dan kadar CRP pasien demam tifoid</p>
      <table-wrap>
        <table>
          <tr>
            <td>Variabel</td>
            <td>Koefisien Korelasi</td>
            <td>Sig</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Jumlah Leukosit (10<sup>3</sup>/µL) dengan Kadar CRP (mg/l)</td>
            <td>0,140</td>
            <td>0,640</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Berdasarkan hasil korelasi Spearman didapatkan koefesien korelasi atau r = 0,140 yang menunjukkan adanya hubungan yang sangat lemah antara jumlah leukosit dengan kadar CRP (<italic>C-Reactive Protein</italic>), sedangkan nilai p= 0,640 yang menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara jumlah leukosit dengan kadar CRP.</p>
      <list>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Analisis Data</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Pembahasan</bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Penyakito<italic>Typhoid Fever</italic> (TF)oatau masyarakat awam mengenalnya dengan tifus ialah  demam yang disebabkan oleh infeksizbakteri <italic>Salmonella typ</italic>hi dan menyebarcke seluruh tubuh. <italic>Salmonella typhi</italic> (<italic>S. typhi</italic>) merupakan kumanspathogen penyebabldemamitifoid, yaitulpenyakit infeksilsistemikiyang disertai demam jangka panjang, adanya bacteremia disertailinflamasilyangidapat merusaklusus daniorgan-organlhati. Setelah penderita terinfeksi bakteri tersebut, gejalaopenyakitnya akan berlangsungzselama satu hinggapdua minggu. Gejalaqumum yang terjadiopada penyakitltifoid adalah demam naik secaratbertanggaipada minggulpertama lalu demamqmenetap (kontinyu)latauiremiten padaominggu kedua. Demamqterutama sore/malamohari, sakit kepala, nyeritotot, anoreksia,imual, muntah,zobstipasi atau diarei[9].</p>
      <p>Berdasarkan penelitianoyang dilakukan di Laboratorium RSUD diperoleh hasil yaitu: rata-rata jumlah leukosit 12,997 yang artinya normal pada orang sehat, sedangkan rata-rata nilai CRP sebesar 24,4 yang artinya lebih dari nilai rujukan CRP. Perhitungan menggunakan korelasi spearman didapatkan nilai koefisien korelasi atau r sebesar 0,140 yaitu adanya hubungan yang sangat lemah antara jumlah leukosit dengan kadar CRP, sedangkan nilai p= 0,640 yangimenunjukkan tidakqada hubungan yangzsignifikanqantaraijumlah leukosit dengan kadar CRP. </p>
      <p>Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Cita pada tahun 2011 yaitu pada gambaran abnormal pemeriksaan hematologi yang sering ditemukan pada penderita demam tifoid yaitu leukopeni, leukositosis, atau leukosit normal, aneosinofilia, limfopenia, limfositosis, monositosis, peningkatan laju endap darah, anemia ringan,dan trombositopenia. Selain itu, penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yolanda pada tahun 2017 [10] didapatkan hasil CRP rata-rata 18,40 mg/L.</p>
      <p>Penelitian terdahulu yang dilakukan Syamsul Arifin [11]jumlah leukosit pada penderita demam tifoid didapatkan hasil 20wpenderita (65%) demam tifoid dengan kadarqleukosit normal dan 11 penderita (35%) demam tifoid dengan kadar leukosit abnormal. Dari data tersebut diketahui bahwa penderitaodemam tifoid denganzkadar leukositenormal lebihlbanyakldaripadaipenderitaidemam tifoididengan kadarlleukosit abnormal.  <italic>Abro et al </italic>(2009) [12] telahsmelaporkan bahwa padaqpenderitaqdemamltifoid hanya 14,6% penderitalsajalyang kadarlleukositnyaqabnormal. Sedangkan penelitian pada penelitian  <italic>Choo et al</italic> tahun 2001 [13] menyatakan kadar CRP padalanakidengan kultur <italic>S.typi</italic> positif,quji Widal dan <italic>Typhidot</italic> positif sebesar 43 mg/L. Penelitian Adeputri tahun 2016 menyatakan kadar CRP pada pasien demam tifoid sebesar 53 mg/L. Hal ini dapat terjadi mungkin karena adanya perbedaanometode pemeriksaan kadar CRP dan subjek penelitian juga berbeda. Namun demikian, tetap saja terjadi peningkatan kadar CRP pada pasien demam tifoid yang melebihionilai rujukan pada orang sehat [13; 14]</p>
      <p>Selama terjadi infeksi, produk seperti lipopolisakaridao(LSP) mengaktifkan magrofag dan sel lain untuk melepaskan berbagaisitokin seperti Interleukin 1, Interleukin 6, Interleukin 8 dan TNF sebagai respon imun <italic>non-spesifik </italic>terhadap antigen bakteri. Sitokin-sitokin ini merangsanglhati untuk mensintesisqdan melepas sejumlahlprotein plasmalyang disebut proteinifase akut, sepertil<italic>C-Reactive Protein</italic>, <italic>Mannan</italic><italic>l</italic><italic>Binding Lectin</italic> (MLB), asamoglikoprotein A1, komponenqamiloid P serum seruloplastin, dan fibrinogen (Longo dan Fauci, 2013; [15]. Penelitian yang dilakukan Amal <italic>et al</italic> 2012 tentang efek demam tifoid terhadap sitokin (Interleukin 6 dan 8) dan <italic>C-Reactive Protein</italic>omenunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan dari rata-rata Il-6, Il-8 dan CRP yang berturut-turut sebesar 153 pg/ml, 131 pg/ml dan 37,2 mg/L [16].</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>VII. Kesimpulan</title>
      <p>Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah leukosit dengan kadar CRP (p= 0,460). </p>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Ucapan Terima Kasih </title>
      <p>Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Laboratorium RSUD R.A Basoeni Mojokerto serta pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back/>
</article>
