<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DENGAN KECEMASAN MENJELANG UJIAN TAHFIDZ PADA SANTRI PONDOK PESANTREN DARUL FIKRI SIDOARJO</article-title>
        <subtitle>RELATIONSHIP BETWEEN ADVERSITY QUOTIENT AND ANSWERING BETWEEN THE TAHFIDZ EXAM AT THE SANTRI PONDOK PESANTREN DARUL FIKRI SIDOARJO</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-508854ca865fa8fea6cd66e5a6232316" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Nurfitri</surname>
            <given-names>Esti Annisa</given-names>
          </name>
          <email>estiannisa27@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-91c42ede2f8a3053c2cfdd35e8c4a0f0" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Nastiti</surname>
            <given-names>Dwi</given-names>
          </name>
          <email>nastitidwi19@yahoo.co.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-04-15">
          <day>15</day>
          <month>04</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-a4b40209c2442f5c328bdd4adee032be">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Santri adalah sebutan untuk pelajar atau individu yang sedang menuntut ilmu pengetahuan agama di pondok pesantren. Sebutan santri senantiasa berkonotasi mempunyai kiai atau Ustadz [1], dididik dengan cara hidup Ulama dan dipersiapkan menjadi penerus perjuangan para Ulama Islam, sehingga santri digolongkan pada kelompok sosio religious. Sebagaimana pelajar, santri menghadapi ujian pada tiap periode pembelajaran untuk mengukur tingkat pemahamannya.Tujuan adanya ujian adalah sebagai bentuk evaluasi atau test yang dapat mengetahui capaian hasil pengetahuan belajar siswa yang diajarkan oleh guru, namun seringkali pelajar mengalami kecemasan saat akan menghadapi ujian.</p>
      <p id="_paragraph-13">Kecemasan didefinisikan sebagai emosi yang ditandai oleh perasaan akan bahaya diantisipasikan, termasuk juga ketegangan dan stress yang menghadang dan oleh bangkitnya sistem saraf simpatetik [2]. Kecemasan merupakan respon terhadap situasi yang tidak menyenangkan, menegangkan, mengancam yang ditandai dengan bentuk gejala fisik seperti gemetar, gejala kognitif seperti pesimis, gejala perilaku seperti terdiam [3].Pondok pesantren Darul Fikri Sidoarjo adalah salah satu sekolah dimana terdapat santri yang merasakan kecemasan dalam ujian, khususnya dalam ujian <italic id="_italic-26">tahfidz</italic> Al-Qur’an.Ujian <italic id="_italic-27">tahfidz Al-Qur’an </italic>ini dilakukan dengan cara lisan, sehingga rasa cemas dan takut yang dialami para siswa bisa jadi lebih tinggi dari pada ujian tulisan.Dari hasil wawancara peneliti terhadap lima orang santri yang bersekolah di pondok pesantren Darul Fikri Sidoarjo diketahui bahwa santri merasakan kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-28">tahfidz Al-Qur’an</italic> yang akan diselenggarakan.</p>
      <p id="_paragraph-14">Beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kecerdasan emosi [4], <italic id="_italic-29">adversity quotient </italic>[5], kebersyukuran [6], efikasi diri [7], dzikir [8].<italic id="_italic-30">Adversity quotient </italic>atau daya juang menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi santri dalam mengatasi dan mengurangi kecemasan saat ujian Tahfidz Al-Qur’an.<italic id="_italic-31">Adversity quotient </italic>mendorong santri untuk berpikir bahwa dirinya harus memiliki kemampuan untuk melewati setiap ujian yang akan dihadapinya, siap melawan setiap masalah atau rintangan, dan mampu mengendalikan kehawatiran fisiknya. Semakin tinggi <italic id="_italic-32">adversity quotient</italic> seseorang maka akan mampu mempengaruhi kinerjanya dalam menghadapi masalah-masalah yang ada, sebaliknya, seseorang yang mempunyai <italic id="_italic-33">adversity quotient</italic> rendah akan mudah putus asa dan memiliki rasa kecemasan cukup tinggi [9]. Maka dari itu peneliti menganggap penting untuk meneliti lebih lanjut hubungan antara <italic id="_italic-34">adversity quotient </italic>dengan kecamasan menjelang ujian <italic id="_italic-35">tahfidz</italic> pada santri di pondok pesantren Darul Fikri Sidoarjo.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f67a3d82a315a4ff225f4ede79ce168f">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-15">Pendekatan yang dipergunakan didalam penelitian kali ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan penelitian kuantitatif ialah pendekatan yang dipergunakan untuk melakukan penelitian terhadap populasi ataupun dalam sampel tertentu.Pengambilan dan pengumpulan data mempergunakan instrument penelitian, analisa data dalam penelitian ini bersifat statistic, dan bertujuan melakukan pengujian terhadap hipotesis yang telah ditetapkan [10].Tipe penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah korelasional, dimana peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui korelasi antara <italic id="_italic-36">Adversity quotient </italic>dengan kecemasan menjelang ujian <italic id="_italic-37">Tahfidz</italic> pada santri Pondok Pesantren Darul Fikri Sidaorjo.Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel, yakni variabel <italic id="_italic-38">independen </italic>(X) dan variabel <italic id="_italic-39">dependen </italic>(Y).Dimana yang menjadi variabel <italic id="_italic-40">independen </italic>ialah <italic id="_italic-41">Adversity quotient </italic>dan sebagai variabel <italic id="_italic-42">dependen </italic>ialah kecemasan. Subjek penelitian yang akan dijadikan sebagai populasi didalam penelitian kali ini ialah Santri Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo yang mengikuti Ujian <italic id="_italic-43">Tahfidz </italic>dengan jumlah 66 santri.Teknik sampel yang dipergunakan untuk pengmbilan sampel ialah <italic id="_italic-44">sampling jenuh.</italic></p>
      <p id="_paragraph-16">Pengambilan dan pengumpulan data peneliti mempergunakan skala psikologi atau bisa disebut sebgai skala <italic id="_italic-45">Likert</italic>. Kemudian pernyataan yang disusun dibagi menjadi dua kategori, yakni pernyataan <italic id="_italic-46">favourable </italic>dan <italic id="_italic-47">unfavourable </italic>yang disediakan dengan empat pilihan jawaban, yakni Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS) [11]. Skala <italic id="_italic-48">Adversity quotient</italic> adalah skala pertama yang disusun atas dasar aspek-aspek <italic id="_italic-49">Adversity quotient</italic>, mempunyai 4 aspek yang memunculkan 40 aitem sebelum dilakukannya <italic id="_italic-50">tryout </italic>kemudian memunculkan 17 aitem sesudah dilakukannya <italic id="_italic-51">tryout </italic>yang memiliki nilai reliabilitas 0,612. Skala kecemasan adalah skala kedua yang disusun atas dasar aspek kecemasan. Mempunyai 3 aspek yang memunculkan 40 aitem sebelum dilakukannya <italic id="_italic-52">tryout </italic>kemudian memunculkan 33 aitem sesudah dilakukannya <italic id="_italic-53">tryout </italic>yang memiliki nilai reliabilitas 0,919.</p>
      <p id="_paragraph-17">Data hasil penelitian yang telah diperoleh dianalisis mempergunakan teknik statistik yakni <italic id="_italic-54">Product Moment </italic>dengan tujuan untuk menegetahui hubungan antara variabel X/<italic id="_italic-55">independen </italic>(<italic id="_italic-56">Adversity quotient</italic>) dengan variabel Y/<italic id="_italic-57">dependen </italic>(kecemasan) mempergunakan bantuan program SPSS 2O <italic id="_italic-58">for windows.</italic>Mempergunakan teknik statistic <italic id="_italic-59">Product Moment</italic> dengan alasan karena peneliti ingin mengetahui korelasi antara variabel <italic id="_italic-60">Adversity quotient</italic> (<italic id="_italic-61">independen</italic>) dengan kecemasan (<italic id="_italic-62">dependen</italic>).</p>
      <p id="_paragraph-18">Sebelum dilakukannya uji hipotesis peneliti harus melaksanakan pengujian asumsi dimana hal tersebut adalah langkah yang harus dilakukan untuk mengetahui nilai korelasi antara <italic id="_italic-63">Adversity quotient</italic> dengan kecemasan. Dalam penelitian ini pengujian asumsi mempergunakan pengujian normalitas dan pengujian linieritas, dihitung mempergunakan program SPSS 2O <italic id="_italic-64">for windows. </italic>Pengujian data normalitas apabila nilai p&gt; 0,05 dapat diartikan bahwa data normal, apabila nilai p&lt; 0,05 dapat diartikan data tidak normal. [12]. Skala <italic id="_italic-65">Adversity quotient</italic> dan skala kecemasan pengujian normalitas data mempergunakan teknik <italic id="_italic-66">Kolmogorov-smirnov.</italic>Pengujian liniritas data mempergunkan taraf signifikansi F beda&gt; 0,05 sehingga dapat diartikan hubungan antar variabel tersebut linier. Perhitungan korelasi antara <italic id="_italic-67">Adversity quotient </italic>dengan kecemasan mempergunakan analisis korelasi <italic id="_italic-68">Product Moment </italic>dihitung mempergunakan SPSS 2O <italic id="_italic-69">For Windows.</italic></p>
    </sec>
    <sec id="heading-36b49753eb2c32d798bc6e8755222864">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-19">Atas dasar hasil anaIisa data di atas, hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa koefisien koreIasi rxy = -0,232 dengan taraf signifikansi 0,030 (&lt; 0,050). Hal tersebut memperlihatkan bahwa terdapat korelasi yang negatif antara <italic id="_italic-70">adversity quotient</italic> dengan kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-71">tahfidz.</italic>Dengan demikian hipotesis penelitian kali ini diterima. Tanda (-) menunjukkan terdapat korelasi negatif. Hal ini memiliki arti bahwa apabila ada kenaikan pada variabel <italic id="_italic-72">adversity quotient </italic>maka akan ada penurunan pada variabel kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-73">tahfidz</italic>, sebaliknya apabila ada penurunan pada <italic id="_italic-74">adversity quotient </italic>maka kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-75">tahfidz</italic> akan ada kenaikan pada pada santri.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Kategorisasi Skor Subjek</title>
          <p id="_paragraph-21" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-12b19a88157d5584fe68999466a1bce2">
              <td id="table-cell-1b4b7cf491d27376d0f1599b2fd29392" colspan="5">Skor SubyekKategori Adversity Quotient Kecemasan∑ Santri % ∑ Santri %</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-027357903c444411745b12b1161d2027">
              <td id="table-cell-1e728a006fd1b923518c9232cb082239">Sangat rendahRendahSedangTinggiSangat tinggiJumlah</td>
              <td id="table-cell-9ec3a53ac1844910d9c2b00a30e0a1fa">3252111666</td>
              <td id="table-cell-d48f1be936d96c056d15af55c0fcae19">4 %38 %32 %17 %9 %100 %</td>
              <td id="table-cell-4e3036a0db15f7476d29474bd39525f2">6122817366</td>
              <td id="table-cell-6bc4dc161180882abcddb8a12ed6d471">9 %18 %42 %25 %6 %100 %</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-22">Atas dasar dari tabel kategorisasi skor subjek di atas, skala <italic id="_italic-77">Adversity Quotient</italic>memiliki kesimpulan yakni terdapat 3santri mempunyai <italic id="_italic-78">Adversity Quotient</italic>yang sangat rendah, 25santri mempunyai <italic id="_italic-79">adversity quotient</italic> yang rendah, 21 santri mempunyai <italic id="_italic-80">adversity quotient </italic>yang sedang, 11 santri mempunyai <italic id="_italic-81">adversity quotient </italic>yang tinggi, dan 6 santri mempunyai <italic id="_italic-82">adversity quotient</italic> sangat tinggi. Selanjutnya skala kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-83">tahfidz</italic> memiliki kesimpulan kategorisasi skor subjek yakni, terdapat 6 santri mempunyai rasa kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-84">tahfidz</italic> yang sangat rendah, 12 santri mempunyai rasa kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-85">tahfidz</italic> yang rendah, 28 santri mempunyai rasa kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-86">tahfidz</italic> yang sedang, 17 santri mempunyai rasa kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-87">tahfidz </italic>yang tinggi, dan ada 3 santri yang mempunyai rasa kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-88">tahfidz </italic>sangat tinggi. Dari hasil pemaparan di atas mampu ditarik kesimpulan bahwa santri Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo memiliki kecemasan menghadapi ujian <italic id="_italic-89">tahfidz</italic> cenderung pada tingkat yang sedang. Berbeda dengan <italic id="_italic-90">adversity quotient</italic>, dimana santri Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo mempunyai <italic id="_italic-91">adversity quotient</italic> yang mengarah pada kecenderungan yang rendah, hasil tersebut dapat ditunjukkan dari tabel pengkategorisasian skor subjek yang menunjukkan bahwa jumlah santri dan persentase santri berada pada tingkat yang sedang mengarah ke rendah.</p>
      <p id="_paragraph-23">Perolehan analisis data menunjukkan bahwa “terdapat hubungan antara<italic id="_italic-92">Adversity Quotient </italic>dengan Kecemasan Menghadapi Ujian <italic id="_italic-93">Tahfidz.</italic>”. Selanjutnya pengujian hipetesis kedua variabel memiliki hasil nilai signifikansi 0,03, yang memiliki makna lain lebih kecil dari 0,05. Hal ini dapat diartikan bahwa hipotesis yang telah ditetapkan pada penelitian ini bisa diterima. Nilai korelasi yang negatif dapat memperlihatkan bahwa adanya hubungan tidak searah dari kedua variabel tersebut, yang memiliki arti bahwa apabila tingkat <italic id="_italic-94">adversity quotient </italic>pada santri tinggi maka tingkat kecemasan yang dimilikinya cenderung akan rendah dan begitupula sebaliknya. Penelitian yang telah dilakukan ini memperlihatkan bahwa <italic id="_italic-95">adversity quotient</italic> sebagai predictor kecemasan mampu memberi pengaruh sebesar 5,4 %. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa 94,6 % dapat dipengaruhi variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini.</p>
      <p id="_paragraph-24">Beberapa aspek <italic id="_italic-96">adversity quotient </italic>yang dapat berpengaruh pada tinggi rendahnya kecemasan pada santri. Aspek-aspek <italic id="_italic-97">adversity quotient</italic> terdiri dari empat aspek yaitu 1.Kendali/<italic id="_italic-98">Control</italic> yang berhubungan dengan seberapa besar seseorang bisa mengendalikan masalah-masalah yang dihadapinya dan sejauh mana dia merasakan bahwa kendali itu ikut berperan dalam peristiwa yang dimiliki semakin besar kemungkinan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan, 2. Kepemilikan/<italic id="_italic-99">Origin and Ownership</italic>, dimana Kepemilikan dapat dipertanyakan siapa atau apa yang membuat kesusahan dan sejauh mana seseorang berpendapat dirinya mempengaruhi dirinya sendiri sebagai pemicu asal-usul kesulitan. Seseorang yang skor origin rendah akan cenderung berfikir bahwa semua kesulitan yang datang itu karena kekeliruan, kelalaian, kecerobohan dirinya sendiri juga membuat perasaan dan pikiran merusak semangatnya, 3. Jangkauan/<italic id="_italic-100">Reach</italic>, ketika Jangkauan merupakan sebagian dari <italic id="_italic-101">adversity quotient </italic>yang mempertanyakan sejauh mana kesulitan akan menjangkau bagian lain dari seseorang. Semakin tinggi jangkauan seseorang, semakin besar kemungkinannya dalam merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas, 4.Daya Tahan/<italic id="_italic-102">Endurance</italic>Aspek ini lebih berkaitan dengan persepsi seseorang akan lama atau tidaknya kesulitan akan berlangsung. Daya tahan dapat menimbulkan penilaian tentang situasi yang baik atau buruk. [13].</p>
      <p id="_paragraph-25">Seorang santri yang memiliki <italic id="_italic-103">control</italic> yang tinggi akan mampu mengendalikan diri dalam mengatasi kesulitan yang setiap saat dihadapi dan selalu percaya kalau mereka menemukan jalan keluar dari masalah atau kesulitan yang ada. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-104">tahfidz</italic> kemampuan <italic id="_italic-105">control</italic> ini akan membuat santri tidak merasa tegang, gugup, yakin dengan jawaban yang akan diberikan, dan mampu memberikan jawaban saat ditanya, tidak ada ketakutan jawaban yang diberikan akan salah. Sebaliknya, santri yang memiliki <italic id="_italic-106">control</italic> yang rendah biasanya mengalami kesulitan didalam mengendalikan diri dan kurang paercaya kalau mereka mampu menemukan jalan keluar dari kesulitan atau masalah yang ada. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-107">tahfidz</italic> rendahnya kemampuan <italic id="_italic-108">control</italic> ini akan membuat santri akan merasa tegang, gugup, dan kurang yakin dengan jawaban yang akan diberikan, dan cenderung diam karena kurang mampu memberikan jawaban saat ditanya, dan ada ketakutan jawaban yang diberikan akan salah. Dengan kata lain, seorang santri menjadi tidak berdaya menghadapi kesulitan dan mudah putus asa.</p>
      <p id="_paragraph-26">Seorang santri yang memiliki <italic id="_italic-109">Origin &amp; Ownership</italic> yang tinggi akan memiliki kemampuan melakukan introspeksi diri mengenai sebab munculnya masalah dan mampu bertanggung jawab atas masalah atau kesulitan yang dihadapi. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-110">tahfidz</italic> kemampuan <italic id="_italic-111">Origin &amp; Ownership</italic> yang tinggi ini akan membuat santri tidak merasa tegang, gugup, yakin dengan jawaban yang akan diberikan, dan mampu memberikan jawaban saat ditanya, tidak ada ketakutan jawaban yang diberikan akan salah karena sejak awal ia sudah mengetahui dan memahami kewajibannya untuk hafal isi <italic id="_italic-112">Al-Qur’an</italic>. Sebaliknya, bila seorang santri memiliki <italic id="_italic-113">Origin &amp; Ownership</italic> yang rendah akan merasa bahwa semua kesulitan yang datang itu karena kekeliruan, kelalaian, kecerobohan dirinya sendiri juga membuat perasaan dan pikiran merusak semangatnya. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-114">tahfidz</italic> rendahnya <italic id="_italic-115">Origin &amp; Ownership </italic>ini akan membuat santri akan merasa tegang, gugup, dan kurang yakin dengan jawaban yang akan diberikan, dan cenderung diam karena kurang mampu memberikan jawaban saat ditanya, dan ada ketakutan jawaban yang diberikan akan salah karena sejak awal ia kurang menanamkan dalam diri bahwa dirinya memiliki kewajibannya untuk hafal isi <italic id="_italic-116">Al-Qur’an.</italic></p>
      <p id="_paragraph-27">Seorang santri yang memiliki kemampuan <italic id="_italic-117">r</italic><italic id="_italic-118">each</italic> yang tinggi akan mampu membatasi masalah atau kesulitan terhadap aspek kehidupannya yang lain, dan mampu mengambil keputusan dengan tepat. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-119">tahfidz,</italic> tingginya kemampuan <italic id="_italic-120">reach </italic>yang dimiliki santri memungkinkannya untuk merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas, mampu menahan kesulitan secara efektif, sehingga seorang santri akan lebih berdaya dan tidak menganggap satu kesulitan khusus berarti ia mengalami kesulitan di seluruh aspek kehidupannya. Hal ini membuatnya bisa tenang, tidak terlihat tegang dan gugup, mampu memberi jawaban dengan benar saat ditanya, dan tidak ada kehawatiran jawaban yang diberikan akan salah karena sejak awal ia sudah mengetahui dan memahami kewajibannya untuk hafal isi <italic id="_italic-121">Al-Qur’an</italic>. Sebaliknya, jika seorang santri kemampuan <italic id="_italic-122">r</italic><italic id="_italic-123">each</italic>nya rendah akan merasa merasa bahwa ia selalu menghadapimasalah atau selalu menganggap dirinya dihadapkan pada kesulitan di semua aspek kehidupannya, dan ini berdampak pada kesulitan didalam mengambil keputusan dengan tepat. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-124">tahfidz,</italic> santri terlihat kurang tenang, tegang dan merasa gugup, dan ada kehawatiran jawaban yang diberikan akan salah dan akhirnya sering memberi jawaban yang kurang tepat saat ditanya, karena sejak awal ia menyadari adanya kewajiban untuk hafal isi <italic id="_italic-125">Al-Qur’an</italic>, tetapi merasa ia akan selalu mengalami kesulitan dan kurang tahu harus berbuat apa untuk mengatasi kesulitan itu.</p>
      <p id="_paragraph-28">Seorang santri yang memiliki kemampuan <italic id="_italic-126">e</italic><italic id="_italic-127">ndurance</italic> yang tinggi akan yakin bahwa kesulitan yang dihadapi segera berlalu, dan mereka mampu menyesuaikan diri dengan kesulitan. Ia akan memiliki harapan dan sikap optimis dalam mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-128">tahfidz, </italic>seorang santriakan terlihat tenang, tidak terlihat tegang dan gugup, merasa yakin mampu memberi jawaban dengan benar saat ditanya, dan tidak ada kehawatiran jawaban yang diberikan akan salah karena sejak awal ia sudah mengetahui dan memahami bahwa kewajibannya untuk hafal isi <italic id="_italic-129">Al-Qur’an</italic>dan ia harus melewati ujian <italic id="_italic-130">tahfidz</italic>. Sebaliknya orang yang mempunyai <italic id="_italic-131">endurance </italic>yang rendah akan menganggap bahwa kesulitan yang sedang dihadapi adalah sesuatu yang bersifat abadi dan sulit untuk diperbaiki. Saat menghadapi ujian <italic id="_italic-132">tahfidz,</italic> santri terlihat kurang tenang, tegang dan merasa gugup, dan ada kehawatiran jawaban apapun yang diberikan akan salah dan akhirnya sering memberi jawaban yang kurang tepat saat ditanya, karena sejak awal ia menyadari adanya kewajiban untuk hafal isi <italic id="_italic-133">Al-Qur’an </italic>tetapi kurang mampu menghadapi situasi ujian yang menegangkan.</p>
      <p id="_paragraph-29">Santri yang memiliki <italic id="_italic-134">adversity quotient </italic>tinggi mampu mengelola gejala kecemasan yang dialaminya saat menghadapi ujian, sebab ujian dapat memicu kecemasan, ketakutan siswa terhadap ujian akan mengakibatkan terjadinya kecemasandan tekanan yang berlebihan [14]. Sebaliknya, Santri yang memiliki <italic id="_italic-135">adversity quotient </italic>rendah terlihat kurang mampu mengelola gejala kecemasan yang dialaminya saat menghadapi ujian, sebab ujian, terutama ujian lisan, dapat memicu kecemasan.</p>
      <p id="_paragraph-30">Limitas dari penelitian ini berupa penggunaan variabel <italic id="_italic-136">adversity quotient</italic> sajayang mempengaruhi kecemasan menghadapi ujian tahfidz, tanpa memperhitungkan variabel-variabel lain yang ikut mempengaruhi kecemasan menghadapi ujian. Subjek penelitian yang dijadikan populasi juga terbatas, yaitu hanya 66 santri.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-5ec1415bd28e3807821165c54430bbb5">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-31">Dari penelitian yang telah dilakukan dan hasil uji hipotesis dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ada hubungan negatif antara <italic id="_italic-137">Adversity Quotient </italic>dengan kecemasan menghadapi ujian tahfidz pada santri SMPIT Darul Fikri. Penelitian yang dilakukan kali ini menunjukkan hasil koefisien korelasinya adalah rxy = -0,232 dan signifikansinya 0,030&lt; 0,05 dimana yang memiliki arti bahwa hipotesis yang diajukan pada penelitian kali ini dapat di terima. Apabila <italic id="_italic-138">adversity quotient</italic> tinggi maka kecemasan menghadapi ujian tahfidz pada santri SMPIT Darul Fikri akan rendah. Sebaliknya, apabila <italic id="_italic-139">adversity quotient</italic> pada santri SMPIT Darul Fikri rendah maka kecemasan menghadapi ujian tahfidz pada santri SMPIT Darul Fikri akan tinggi.Temuan lain menjukkan bahwa besarnya pengaruh <italic id="_italic-140">Adversity Quotient </italic>terhadap kecemasan menghadapi ujian tahfidz adalah 5,4%. Sedangkan 94,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>