<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Determinants of Myopia Severity Based on Behavior and Genetic Factors</article-title>
        <subtitle>Determinanan Derajat Myopia Berdasarkan Perilaku dan Faktor Genetik</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-2f44d323b6aab1a1eaa870af5f05586d" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-4abc37912f093f64943bab11a54a0301" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-01a344d30a0e52dfaad8ce2a2dd30ec0">
      <title>PENDAHULUAN</title>
      <p id="_paragraph-4">Myopia atau rabun jauh merupakan salah satu gangguan penglihatan yang paling umum di dunia. Menurut American Optometric Association (AOA), myopia adalah kondisi ketika objek dekat terlihat jelas, tetapi objek jauh tampak buram akibat bayangan cahaya jatuh di depan retina. Gangguan ini terjadi karena bola mata yang terlalu panjang atau kornea yang terlalu melengkung sehingga cahaya tidak difokuskan secara tepat. Selain faktor anatomi, kebiasaan visual seperti penggunaan gawai dalam durasi panjang dan membaca dengan jarak terlalu dekat turut mempercepat progresivitas myopia (Chia &amp; Tay, 2020).</p>
      <p id="_paragraph-5">Secara global, prevalensi myopia meningkat signifikan. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa pada tahun 2020, sekitar 2,6 miliar orang mengalami myopia, termasuk 312 juta di antaranya berusia di bawah 19 tahun. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 52% populasi dunia pada 2050 (WHO, 2020). Di Indonesia, gangguan refraksi menyerang ±25% penduduk atau sekitar 55 juta orang. Khusus pada usia remaja dan dewasa muda (&gt;21 tahun), prevalensi myopia mencapai 48,1% (Kurniawan et al., 2024).</p>
      <p id="_paragraph-6">Sejumlah faktor telah dikaitkan dengan kejadian dan derajat myopia, baik faktor internal seperti genetik dan jenis kelamin, maupun faktor eksternal seperti durasi penggunaan gawai, jarak baca, kebiasaan belajar, serta tingkat paparan cahaya alami (Suryanta Wiguna et al., 2024; Mila Nursyiam et al., 2024). Meskipun demikian, hasil studi masih bervariasi dan belum menunjukkan konsensus mengenai faktor dominan yang berperan pada populasi mahasiswa, khususnya dari disiplin kesehatan masyarakat.</p>
      <p id="_paragraph-7">Survei pendahuluan di Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia tahun 2025 menemukan bahwa dari 492 mahasiswa, sebanyak 37 orang mengalami myopia, mayoritas perempuan (91,9%). Dari jumlah tersebut, 73% mengalami myopia ringan dan 27% mengalami myopia sedang. Temuan ini menarik perhatian karena mahasiswa kesehatan masyarakat merupakan calon promotor kesehatan di masyarakat. Namun, belum ada penelitian yang secara khusus memetakan faktor dominan yang memengaruhi derajat myopia pada mahasiswa kesehatan masyarakat, padahal pemahaman ini penting sebagai dasar untuk upaya promotif-preventif penglihatan yang berkelanjutan di tingkat institusi pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-8">Tujuan Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-9">Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan (Adjusted Odds Ratio/AOR) yang memengaruhi derajat myopia pada 74 mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia, dengan mempertimbangkan aspek genetik, perilaku visual, durasi screen time, kebiasaan membaca, serta paparan cahaya alami dan faktor lingkungan lainnya.</p>
      <p id="_paragraph-10">Kebaruan Penelitian (Novelty)</p>
      <p id="_paragraph-11">Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatannya yang menggunakan desain cross-sectional dengan kombinasi data primer dan sekunder serta analisis multivariat di populasi spesifik mahasiswa kesehatan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian ini akan dikaitkan dengan kerangka promosi kesehatan seperti Ottawa Charter dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG 3: Good Health and Well-Being), khususnya dalam konteks pencegahan gangguan penglihatan sejak dini melalui intervensi berbasis kampus.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-6772d4040ba278bc60531b13154cfc60">
      <title>
        <bold id="bold-e4535c46c89f3613fd2d5e55f88fb1d6">METODE PENELITIAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi derajat myopia pada mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2025 di lingkungan kampus Universitas Prima Indonesia.</p>
      <p id="_paragraph-14">Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia sebanyak 492 orang. Sampel diperoleh menggunakan teknik purposive sampling, yaitu mahasiswa yang telah didiagnosis mengalami myopia oleh tenaga kesehatan. Jumlah sampel sebanyak 74 responden.</p>
      <p id="_paragraph-15">Justifikasi ukuran sampel menggunakan rumus Lemeshow untuk proporsi populasi diketahui:</p>
      <fig id="figure-panel-8fde4ed00696577c122782da63ff7a5a">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-37c6239a64936a2b992a0440cba497c6" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-c11e66dc5157f92859d039a7edf421e0" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="rumus.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-17">Dengan asumsi:</p>
      <p id="_paragraph-18">Z = 1,96 (CI 95%)</p>
      <p id="_paragraph-19">p = 0,5 (prevalensi belum diketahui pasti)</p>
      <p id="_paragraph-20">d = 0,1 (presisi 10%)</p>
      <p id="_paragraph-21">Maka diperoleh n = 96. Namun, karena populasi terbatas (N = 492), dilakukan penyesuaian menggunakan rumus koreksi populasi terbatas:</p>
      <fig id="figure-panel-028819ced0ffc7d27abe335c95ee92f2">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-ce641ae557dcf6cda4bc4583b3ed602c" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-1fd8499143868e7860f3586a7bbeda46" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="rumus 1.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-22">Sehingga jumlah sampel 74 orang dianggap cukup merepresentasikan populasi.</p>
      <p id="_paragraph-23">
        <bold id="bold-1850eb96eaf037c2f9f646d72d091746">Variabel Penelitian</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-24">a. Variabel dependen: Derajat myopia (ringan, sedang, berat)</p>
      <p id="_paragraph-25">b. Variabel independen: Jenis kelamin, jarak baca, durasi penggunaan gawai, dan riwayat keluarga (faktor genetik)</p>
      <p id="_paragraph-26">
        <bold id="bold-814558d550997357cb126c6da3d87138">Definisi Operasional dan Sumber Klasifikasi</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Derajat myopia diklasifikasikan berdasarkan standar World Health Organization (WHO) dan American Academy of Ophthalmology (AAO), yaitu:</p>
      <p id="_paragraph-28">a. Ringan: ≤ -3,00 dioptri</p>
      <p id="_paragraph-29">b. Sedang: &gt; -3,00 hingga -6,00 dioptri</p>
      <p id="_paragraph-30">c. Berat: &gt; -6,00 dioptri</p>
      <p id="_paragraph-31">
        <bold id="bold-42e336b9f63525716d45b4c40388500b">Instrumen Penelitian</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-32">Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring (Google Form). Kuesioner mencakup:</p>
      <p id="_paragraph-33">a. Jenis kelamin</p>
      <p id="_paragraph-34">b. Jarak membaca: “Berapa rata-rata jarak Anda saat membaca buku atau layar?”</p>
      <p id="_paragraph-35">c. Durasi screen time: “Berapa lama Anda menggunakan gawai setiap harinya?”</p>
      <p id="_paragraph-36">d. Riwayat keluarga: “Apakah ada anggota keluarga Anda (ayah, ibu, saudara kandung) yang mengalami myopia?”</p>
      <p id="_paragraph-37">Instrumen diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji menunjukkan seluruh item valid (r-hitung &gt; r-tabel) dan reliabel dengan nilai Cronbach’s Alpha = 0,816.</p>
      <p id="_paragraph-38">
        <bold id="bold-4e2b975b2adbd1b6182930db1f5f3178">Pengukuran Derajat Myopia</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-39">Derajat myopia diperoleh dari hasil pemeriksaan refraksi yang dilakukan oleh tenaga profesional (dokter mata atau optometris) di klinik mata tempat responden memeriksa mata. Responden diminta menyertakan hasil pemeriksaan klinis dalam bentuk lampiran foto atau dokumen saat pengisian kuesioner. Peneliti juga mengklarifikasi data melalui wawancara singkat apabila diperlukan.</p>
      <p id="_paragraph-40">
        <bold id="bold-07ced1c23704b4e50aa7a707baf70cb8">Analisis Data</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-41">Data dianalisis menggunakan SPSS versi 23. Analisis terdiri dari:</p>
      <p id="_paragraph-42">a. : distribusi frekuensi masing-masing variabel</p>
      <p id="_paragraph-43">b. Bivariat: uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan derajat myopia</p>
      <p id="_paragraph-44">c. Multivariat: regresi logistik ordinal untuk menentukan faktor dominan (Adjusted Odds Ratio/AOR) yang memengaruhi derajat myopia</p>
      <p id="_paragraph-45">Uji goodness-of-fit model regresi logistik menggunakan uji Hosmer-Lemeshow, dengan kriteria p &gt; 0,05 sebagai indikasi bahwa model fit terhadap data. Untuk mengatasi kemungkinan confounding, variabel dengan p &lt; 0,25 pada analisis bivariat dimasukkan ke dalam model multivariat dan diuji menggunakan pendekatan stepwise backward.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-e4a9fca90f973e525cad0c1bd7edf9d6">
      <title>
        <bold id="bold-eb8a2cf57fc202ae6e234f2737b58e98">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-47">Pembahasan dari hasil penelitian ini mengolah data yang bersumber dari link google form pada mahasiswa kesehatan masyarakat universitas prima indonesia yang mengalami myopia Berikut tabel jenis kelamin, penggunaan gadget, faktor genetik, derajat myopia.</p>
      <sec id="heading-c823b0dff4d3e713202d16bd21368c6b">
        <title>Uji Univariat</title>
        <fig id="figure-panel-743b17c2b6b7e1c96daadd21522517af">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>Distribusi Frekuensi Variabel Jenis Kelamin, Penggunaan Gadget, Faktor Genetik, Derajat Myopia</title>
            <p id="paragraph-9a8b1d4b7b98de312d7e9a6759dfc82d" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-5fda3446523c5e5278e7a174dbdf05e3" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="tabel 2.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-50">Berdasarkan tabel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah wanita (87,7%). Sebagian besar responden (58,1%) memiliki kebiasaan membaca dengan jarak &lt;30 cm, dan 68,9% menggunakan gadget &gt;3 jam per hari. Faktor genetik juga berperan, dengan 60,8% responden memiliki riwayat keluarga dengan myopia. Derajat myopia terbagi menjadi miopia ringan (40,5%) dan sedang (59,5%), dengan miopia sedang lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebiasaan membaca dekat, durasi penggunaan gadget, dan faktor genetik berkontribusi terhadap kejadian myopia.</p>
        <fig id="figure-panel-d2966bf15ce4726d97e1fc227687fef7">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-0836af8925b74947eeac2218ef1b84c4" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-edb0a211602ed28f1b62525c667bf714" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="grafik.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-51">Grafik ini menampilkan distribusi persentase dari setiap variabel utama: jenis kelamin, jarak membaca, penggunaan gadget, faktor genetik, dan derajat myopia.</p>
        <sec id="heading-0662d0c69314250dc657c63971195bb2">
          <title>Uji Bivariat</title>
          <fig id="figure-panel-42f87b1f209de2258bfb1eb302bd7ecf">
            <label>Figure 5</label>
            <caption>
              <title>Hubungan Antara Penggunaan Gadget,Faktor Genetik dengan Derajat Myopia</title>
              <p id="paragraph-5c90c1788d66c7de480e7b34de03a131" />
            </caption>
            <graphic id="graphic-4a19467d5a83e1015f232da465b4de6f" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="tabel 3.png" />
          </fig>
          <p id="_paragraph-54">Berdasarkan Tabel 3. Uji Pearson Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05) menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin tidak memenuhi syarat uji, sehingga digunakan Fisher’s Exact Test dengan hasil p = 0,731 (p &gt; 0,05), yang mengindikasikan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dan derajat miopia. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara derajat miopia dengan jarak membaca (p = 0,028), penggunaan gadget (p = 0,000), dan faktor genetik (p = 0,000).</p>
        </sec>
        <sec id="heading-37a6f8d89dd3e0514c117be16216cb79">
          <title>Uji Multivariat</title>
          <fig id="figure-panel-350758d61f10ab2bc87b77f07b01d7cb">
            <label>Figure 6</label>
            <caption>
              <title>Hasil Seleksi Variabel yang Dapat Masuk dalam Model Analisis Regresi Berganda</title>
              <p id="paragraph-fbf72c3df29b6379070ef5ee0973a269" />
            </caption>
            <graphic id="graphic-0cb3a944db4d2437691a1472449f24d7" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="tabel 4.png" />
          </fig>
          <p id="_paragraph-57">Berdasarkan Tabel 4. Hasil uji statistik multivariat, diperoleh bahwa faktor genetik memiliki nilai OR paling tinggi yaitu sebesar 8.567 dengan nilai p-value 0.002. Artinya faktor genetik mempengaruhi derajat myopia pada mahasiswa Universitas Prima Indonesia.</p>
        </sec>
      </sec>
      <sec id="heading-bea1e8a6070bd6ca1c4b505c17808061">
        <title>Pembahasan</title>
        <sec id="heading-dd2a07e0fd8bc41485138e7e4781e2ec">
          <title>Temuan Utama</title>
          <p id="_paragraph-60">Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tiga variabel jarak membaca, penggunaan gadget, dan faktor genetik terhadap derajat myopia pada mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan derajat myopia. Hasil ini menggambarkan bahwa faktor perilaku visual dan predisposisi genetik memiliki kontribusi penting dalam perkembangan myopia, yang perlu menjadi perhatian dalam kebijakan promotif di lingkungan kampus.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-50e2f1ba988bab31b9fd4551a9310b29">
          <title>Mekanisme Biologis</title>
          <p id="_paragraph-62">Kebiasaan membaca dengan jarak dekat dan penggunaan gadget dalam waktu lama memicu kontraksi berulang otot siliaris, yang pada akhirnya menyebabkan elongasi bola mata dan peningkatan panjang aksial — karakteristik utama myopia. Ketika aktivitas visual dekat ini berlangsung lama tanpa jeda yang cukup, sistem akomodasi mata mengalami spasme yang dapat berkembang menjadi myopia progresif. Selain itu, faktor genetik berperan penting melalui pewarisan struktur morfologis mata yang rentan mengalami elongasi bola mata.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-12628504835430ab239437016a75640a">
          <title>Perbandingan dengan Penelitian Sebelumnya</title>
          <p id="_paragraph-64">Hasil ini sejalan dengan penelitian Pärssinen et al. (2022) dan Suhartiko et al. (2024), yang menunjukkan bahwa membaca dengan jarak &lt;30 cm dan penggunaan gadget &gt;3 jam/hari berhubungan signifikan dengan derajat keparahan myopia. Penelitian Salsabila et al. (2023) juga mendukung bahwa riwayat keluarga dengan myopia meningkatkan risiko hingga 4,3 kali. Sebaliknya, jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan bermakna, sesuai dengan penelitian Irnanda et al. (2023), yang menyebutkan prevalensi lebih tinggi pada perempuan tidak serta merta menunjukkan hubungan kausal.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-7f2ef98d6ed37248182e4eff35defa28">
          <title>Variabel Tidak Signifikan dan Interpretasi</title>
          <p id="_paragraph-66">Jenis kelamin tidak memiliki hubungan bermakna dengan derajat myopia dalam studi ini (p = 0,713). Salah satu kemungkinan adalah komposisi sampel yang timpang, yaitu 87,8% responden adalah perempuan. Ketimpangan ini dapat menyebabkan bias dalam analisis statistik. Di sisi lain, kemajuan teknologi dan tuntutan akademik dapat menyebabkan perilaku visual yang seragam antara laki-laki dan perempuan, sehingga mengaburkan perbedaan berdasarkan gender.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-1223391de8cb7280d96917e088f169e0">
          <title>Implikasi Promotif-Preventif Kesehatan Masyarakat</title>
          <p id="_paragraph-68">Temuan ini memperkuat pentingnya intervensi berbasis promosi kesehatan di lingkungan kampus. Kampanye seperti edukasi “20-20-20 rule” (setiap 20 menit melihat benda sejauh 20 kaki selama 20 detik), penyediaan pencahayaan kelas sesuai standar lux, dan penyuluhan tentang postur baca ideal, dapat diterapkan untuk mengurangi risiko visual strain. Selain itu, pemeriksaan refraksi rutin di kampus menjadi langkah preventif untuk mendeteksi dan mengelola myopia sejak dini.</p>
          <p id="_paragraph-69">Penelitian ini juga relevan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDG) 3: Good Health and Well-Being, khususnya pada indikator yang terkait dengan kualitas hidup dan pencegahan gangguan penglihatan.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-30691d1ce6a24c87859342d0715dd559">
          <title>Keterbatasan Penelitian dan Arah Riset Lanjutan</title>
          <p id="_paragraph-71">Penelitian ini memiliki keterbatasan, terutama karena menggunakan data self-reported melalui kuesioner, yang rentan terhadap bias persepsi dan ingatan. Selain itu, desain cross-sectional tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, disarankan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal untuk mengevaluasi progresivitas myopia secara lebih akurat serta integrasi faktor lingkungan dan psikososial.</p>
        </sec>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-a61c5428836d48ff49829a1bac170c8e">
      <title>
        <bold id="bold-803be167375a2771f0fbddf3e5e57ec7">KESIMPULAN DAN SARAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-73">Studi ini berhasil mengidentifikasi bahwa jarak membaca, durasi penggunaan gadget, dan faktor genetik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap derajat myopia pada mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia. Di antara ketiganya, faktor genetik muncul sebagai determinan paling dominan. Sementara itu, jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap derajat myopia.</p>
      <p id="_paragraph-74">Temuan ini menegaskan pentingnya upaya promotif dan preventif berbasis kampus untuk mencegah peningkatan prevalensi myopia. Pemeriksaan refraksi secara berkala, skrining dini bagi mahasiswa dengan riwayat keluarga penderita myopia, serta kampanye edukatif tentang menjaga jarak baca minimal 30 cm dan pembatasan waktu penggunaan gawai, perlu menjadi bagian dari kebijakan kesehatan kampus. Langkah-langkah ini sejalan dengan prinsip promosi kesehatan dan mendukung pencapaian tujuan SDG 3 (Good Health and Well-Being) di lingkungan pendidikan tinggi.</p>
      <p id="_paragraph-75">
        <bold id="bold-b8dbc5706f09f2d184bead975d825d2e">UCAPAN TERIMA KASIH</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-76">Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penyusunan jurnal ini, khususnya kepada dosen pembimbing, dosen pengulas, dan responden yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Serta Universitas Prima Indonesia yang telah memberikan fasilitas dan kesempatan untuk melakukan penelitian ini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>