<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Utilisation of Resin Materials for Making Souvenir Accessories in Training Activities in Samaan Village, Klojen District, Malang City</article-title>
        <subtitle>Pemanfaatan Bahan Resin Untuk Pembuatan Souvenir Aksesoris Pada Kegiatan Pelatihan Di Kelurahan Samaan Kecamatan Klojen Kota Malang</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-204f56ded02ced19b4549a5c53ebcf73" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Sharf</surname>
            <given-names>Oely Maqwa</given-names>
          </name>
          <email>oelymsharf@sttmarfachruddin.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-a3fe2e7d28dd851fb24c53b09adeeb00" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Sifa</surname>
            <given-names>Miftachus</given-names>
          </name>
          <email>oelymsharf@sttmarfachruddin.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-c9202e895e830ef55e013a60b4f631a3" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muhammad</surname>
            <given-names>Haitsam</given-names>
          </name>
          <email>oelymsharf@sttmarfachruddin.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-07-24">
          <day>24</day>
          <month>07</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-27d72eafbcd7ed39a901aca86829d60b">
      <title>
        <bold id="bold-a3ab03a9d26ff2f9b5674712d430e46d">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-11">Kesadaran lingkungan menjadi isu penting dalam pembangunan berkelanjutan, terutama di tingkat desa yang memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan[1]. Desa Pilanggede, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, merupakan contoh desa yang berhasil mengintegrasikan kesadaran lingkungan dalam kehidupan masyarakatnya[2]. Melalui berbagai program dan kampanye, desa ini berhasil meraih penghargaan Kampung Iklim Tingkat Nasional dari KLHK pada tahun 2019[3].</p>
      <p id="_paragraph-12">Salah satu strategi yang digunakan dalam kampanye kesadaran lingkungan di Pilanggede adalah melalui iklan sosial yang memanfaatkan media visual seperti poster, baliho, dan video layanan masyarakat[4]. Media ini dirancang untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan secara efektif kepada masyarakat dengan memanfaatkan elemen-elemen estetika visual[5]. Estetika visual dalam iklan sosial memainkan peran penting dalam menarik perhatian, membangun pemahaman, dan mempengaruhi sikap serta perilaku masyarakat terhadap isu lingkungan[6].</p>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana estetika visual diterapkan dalam iklan sosial pada kampanye kesadaran lingkungan di Desa Pilanggede[7]. Fokus utama adalah pada elemen-elemen desain seperti warna, tipografi, ilustrasi, dan komposisi, serta bagaimana elemen-elemen tersebut mempengaruhi efektivitas pesan kampanye. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan dan penyebaran media kampanye serta tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan estetika visual yang efektif[8].</p>
      <p id="_paragraph-14">Dengan memahami peran estetika visual dalam iklan sosial, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi komunikasi lingkungan yang lebih efektif di tingkat desa[9]. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi desa-desa lain dalam mengembangkan kampanye kesadaran lingkungan yang memanfaatkan media visual secara optimal[10].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-e65b46ef0d5275a3b51c976d1c6a5ef2">
      <title>
        <bold id="bold-8460a5518f6c27bd9683a910254d4714">Metode</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-16">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis estetika visual dalam iklan sosial pada kampanye kesadaran lingkungan di Desa Pilanggede. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam fenomena yang diteliti dalam konteks sosial dan budaya masyarakat setempat[11].</p>
      <p id="_paragraph-17">Lokasi penelitian adalah Desa Pilanggede, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Desa ini dipilih karena memiliki program kampanye kesadaran lingkungan yang aktif dan telah meraih penghargaan Kampung Iklim Tingkat Nasional. Subjek penelitian meliputi perangkat desa, tim kreatif kampanye, dan masyarakat yang terlibat dalam pembuatan dan penyebaran media kampanye[12].</p>
      <p id="_paragraph-18">Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap media kampanye yang digunakan, seperti poster, baliho, dan video layanan masyarakat, untuk mengidentifikasi elemen-elemen estetika visual yang digunakan. Wawancara dilakukan dengan perangkat desa, tim kreatif, dan masyarakat untuk memahami proses pembuatan media kampanye, pemilihan elemen desain, serta persepsi masyarakat terhadap media tersebut[13]. Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis materi kampanye yang tersedia.</p>
      <p id="_paragraph-19">Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes, yang membedakan antara denotasi (makna literal), konotasi (makna implisit), dan mitos (makna budaya)[14]. Analisis ini digunakan untuk memahami bagaimana elemen-elemen estetika visual dalam media kampanye menyampaikan pesan-pesan lingkungan kepada masyarakat. Selain itu, analisis juga dilakukan terhadap prinsip-prinsip desain grafis yang digunakan, seperti warna, tipografi, ilustrasi, dan komposisi, untuk mengevaluasi efektivitas estetika visual dalam menarik perhatian dan membangun pemahaman masyarakat[15][16].</p>
      <p id="_paragraph-20">Untuk memastikan validitas dan reliabilitas data, triangulasi dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan metode pengumpulan data. Selain itu, member checking dilakukan dengan meminta konfirmasi dari informan mengenai hasil wawancara dan interpretasi data yang dilakukan oleh peneliti[17].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-94340881dcef8e444427fdd85f45061f">
      <title>
        <bold id="bold-92c4c1413fa450aed525fedf6b39c2b6">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-22">Media kampanye yang digunakan di Desa Pilanggede meliputi poster, baliho, dan video layanan masyarakat. Poster dan baliho umumnya dipasang di tempat-tempat strategis seperti balai desa, sekolah, dan tempat ibadah, sementara video layanan masyarakat diputar dalam acara-acara desa dan dibagikan melalui media sosial. Media ini dirancang untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan seperti pengelolaan sampah, pelestarian alam, dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.</p>
      <p id="_paragraph-23">Analisis terhadap media kampanye menunjukkan bahwa penggunaan warna hijau dan biru yang dominan menciptakan asosiasi dengan alam dan kebersihan. Ilustrasi lokal seperti sungai, tanaman, dan hewan digunakan untuk memperkuat pesan lingkungan dan menciptakan kedekatan dengan masyarakat. Tipografi yang sederhana dan mudah dibaca memudahkan pemahaman pesan oleh masyarakat. Komposisi yang seimbang dan penggunaan ruang negatif yang efektif membantu menarik perhatian dan meningkatkan keterbacaan.</p>
      <p id="_paragraph-24">Analisis semiotika menunjukkan bahwa elemen-elemen visual dalam media kampanye memiliki makna denotatif yang jelas, seperti gambar sampah yang dibuang sembarangan, serta makna konotatif yang menggambarkan dampak negatif dari perilaku tersebut. Mitos yang dibangun melalui media kampanye adalah pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari budaya dan identitas masyarakat Desa Pilanggede.</p>
      <p id="_paragraph-25">Partisipasi masyarakat dalam pembuatan dan penyebaran media kampanye sangat tinggi. Masyarakat terlibat dalam proses perencanaan, desain, dan distribusi media kampanye, yang meningkatkan rasa memiliki dan keterlibatan mereka dalam program lingkungan. Partisipasi ini juga membantu memastikan bahwa pesan-pesan kampanye relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat setempat.</p>
      <p id="_paragraph-26">Media kampanye yang dirancang dengan estetika visual yang baik terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah dengan benar, dan melestarikan alam sekitar. Namun, terdapat tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan pemahaman desain yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas estetika visual.</p>
      <p id="_paragraph-27">Dampak, Kendala dan Tantangan</p>
      <p id="_paragraph-28">Kampanye kesadaran lingkungan yang dilakukan di Desa Pilanggede memberikan dampak yang signifikan terhadap perilaku masyarakat. Salah satu dampak positif yang paling terlihat adalah meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan kebersihan dan pelestarian lingkungan. Program-program seperti kerja bakti, pemilahan sampah, serta penanaman pohon semakin sering dilakukan dan diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat. Selain itu, kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan juga meningkat di kalangan anak-anak sekolah melalui edukasi visual.</p>
      <p id="_paragraph-29">Dampak lainnya adalah terciptanya budaya baru yang mendukung pelestarian lingkungan. Penggunaan media visual yang menarik dan relevan dengan konteks lokal membantu memperkuat nilai-nilai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Estetika visual dalam media kampanye berhasil membentuk identitas visual yang kuat terkait dengan kesadaran lingkungan di desa tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-30">Namun, terdapat beberapa kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan kampanye ini. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam bidang desain grafis. Meskipun masyarakat antusias terlibat, kurangnya pelatihan dan pemahaman tentang prinsip-prinsip desain menyebabkan hasil visual terkadang kurang optimal.</p>
      <p id="_paragraph-31">Selain itu, keterbatasan dana juga menjadi tantangan dalam memproduksi dan menyebarkan media kampanye secara luas. Beberapa media visual tidak dapat diperbaharui secara berkala karena keterbatasan anggaran. Tantangan lainnya adalah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok usia lanjut yang belum terbiasa dengan media digital.</p>
      <p id="_paragraph-32">Menghadapi tantangan tersebut, perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas melalui pelatihan desain grafis untuk masyarakat lokal dan kolaborasi dengan institusi pendidikan atau komunitas kreatif. Pemerintah desa juga dapat menjalin kerja sama dengan pihak swasta atau LSM untuk mendapatkan dukungan dalam penyelenggaraan kampanye lingkungan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f5db92d73eb2e376c62b9009cbd209ef">
      <title>
        <bold id="bold-d7a6c970e557004c2e2e19d49955c8fe">Simpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-34">Penelitian ini menunjukkan bahwa estetika visual dalam iklan sosial memainkan peran penting dalam keberhasilan kampanye kesadaran lingkungan di Desa Pilanggede. Elemen-elemen visual seperti warna, tipografi, ilustrasi, dan komposisi dirancang dengan mempertimbangkan konteks lokal dan pesan yang ingin disampaikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa media kampanye yang estetis mampu menarik perhatian, membangun pemahaman, serta mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat.</p>
      <p id="_paragraph-35">Keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan dan penyebaran media kampanye meningkatkan efektivitas pesan dan membangun rasa memiliki terhadap program lingkungan. Kampanye visual juga berhasil menciptakan identitas dan budaya baru yang mendukung pelestarian lingkungan. Namun, keterbatasan sumber daya manusia dan finansial menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk menjaga keberlanjutan kampanye.</p>
      <p id="_paragraph-36">Dengan demikian, penting bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan kampanye kesadaran lingkungan untuk mempertimbangkan aspek estetika visual dalam strategi komunikasinya. Dukungan pelatihan, kolaborasi lintas sektor, serta pendanaan yang memadai akan menjadi faktor kunci dalam menciptakan media kampanye yang efektif dan berkelanjutan.</p>
      <p id="paragraph-2c3255652927f81a64e0e80f4c403e69">
        <bold id="bold-169cd9e3f70380c8a605af10ee766278">Lampiran</bold>
      </p>
      <fig id="figure-panel-f5a194e26fbccafd2cfc823f0022eb74">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="bold-2">Foto Kegiatan Pelatihan di Laboratium Terpadu Mts. Al. Arqom </bold>
          </title>
          <p id="paragraph-886505140ab0e98ea099e1dec250b42c" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-fbe6f60d69ba3411ca28bb15fb4a47ba" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="lampiran 1.jpg" />
      </fig>
      <p id="paragraph-d2e7708df96a4b44a8d02f2ef5285cf7" />
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>