<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Diversity of Santri Typology in Tahfidz House Education</article-title>
        <subtitle>Keberagaman Tipologi Santri dalam Pendidikan Rumah Tahfidz</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-9e25b7417e468198426e3dc89c57ddbd" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-bd28080c3afdc814d4d872d2b25559a1" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6f56ceb9e545e62859031ae7022a4d03">
      <title>
        <bold id="bold-3580d96e1fcafdcc6ad6d6e287783f41">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Pendidikan Islam di Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan, terutama dengan munculnya berbagai lembaga pendidikan berbasis Al-Qur'an, seperti rumah tahfidz. Rumah tahfidz saat ini semakin banyak diminati sebagai salah satu alternatif Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini didukung data bahwa pada tahun 2020 Rumah Tahfidz Center (RTC) telah mendirikan 1.200 unit [1]. Sedangkan pada tahun 2023 menurut PPPA Daarul Qur’an telah mencapai 1.659 unit. Hal ini menampilkan fenomena bahwa semakin tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan berbasis hafalan Al-Qur’an. Peningkatan jumlah unit Rumah Tahfidz mencerminkan kepercayaan masyarakat akan efektivitas metode ini dalam membentuk karakter anak yang religius dan disiplin. Selain itu, dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi keagamaan, turut berkontribusi dalam pengembangan dan penyebaran Rumah Tahfidz di berbagai wilayah. Dengan pertumbuhan yang pesat ini, diharapkan Rumah Tahfidz dapat terus berperan penting dalam mencetak anak didik untuk mengenali kitab suci Al-Qur’an dan memberikan dampak pada sistem pembelajaran Al-Qur’an [2]. Selain itu, dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi keagamaan, turut berkontribusi dalam pengembangan dan penyebaran Rumah Tahfidz di berbagai wilayah. Dengan pertumbuhan yang pesat ini, diharapkan Rumah Tahfidz dapat terus berperan penting dalam mencetak anak didik untuk mengenali kitab suci Al-Qur’an dan memberikan dampak pada sistem pembelajaran Al-Qur’an.</p>
      <p id="_paragraph-5">Dengan berkembangnya Rumah Tahfidz di Indonesia, terlihat adanya peningkatan minat masyarakat terhadap pendidikan agama yang lebih mendalam dan terstruktuk. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan kebutuhan untuk mendalami Al-Qur’an, tetapi juga mencerminkan keinginan otangtua untuk menanamkan nilai-nilai keagamnaan yang kuat pada anak-anak mereka sejak dini [3]. Pergeseran ini didukung oleh berbagai faktor seperti adanya berbagai kurikulum pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang semakin berubah. Di sisi lain, partisipasi masyarakat dalam mendirikan dan mengelola Rumah Tahfidz menunjukkan komitmen kolektif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran agama [4].</p>
      <p id="_paragraph-6">Di Kota Medan, pertumbuhan rumah tahfidz menunjukkan respons positif masyarakat terhadap kebutuhan pendidikan agama yang lebih mendalam. Lembaga-lembaga ini tidak hanya berfokus pada pengajaran hafalan Al-Qur'an, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter santri [5]. Santri yang berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan yang beragam. Ada santri yang berasal dari kalangan ekonomi lemah. Beberapa di antaranya merupakan santri mukim (tinggal di asrama). Dan sebagian lainnya merupakan santri non-mukim yang hanya datang pada jam tertentu [6]. Keberagaman ini menciptakan tantangan dan peluang tersendiri dalam proses pembinaan, penganjaran dan manajemen lembaga tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-7">Selain itu, motivasi santri untuk mengikuti program tahfidz juga bervariasi, mulai dari keinginan pribadi, dorongan orangtua, hingga cita-cita menjadi tahfidz profesional atau melanjutkan studi ke Timur Tengah. Pola interaksi santri dengan lingkungan sekitar, metode pengajaran yang digunakan, serta hubungan antara santri dan pengasuh turut memberikan warna dalam proses pendidikan di Rumah Tahfidz [7]. Berdasarkan ragam latar belakang tersebut, perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam untuk memahami bentuk-bentuk karakteristik dan klasifikasi santri di Rumah Tahfidz yang di kenal dengan istilah tipologi.</p>
      <p id="_paragraph-8">Tipologi santri di rumah tahfidz sangat beragam, dipengaruhi oleh latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya masing-masing individu. Pemahaman terhadap tipologi ini penting untuk merancang kurikulum dan metode pengajaran yang efektif. Penelitian mengenai tipologi santri di rumah tahfidz masih terbatas, terutama di wilayah Sumatera Utara, termasuk Kota Medan. Kebanyakan studi lebih berfokus pada metode pengajaran dan manajemen lembaga.</p>
      <p id="_paragraph-9">Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, pondok tahfidz juga mulai memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, adaptasi ini memerlukan pemahaman mendalam tentang karakteristik santri agar implementasinya efektif [8].</p>
      <p id="_paragraph-10">Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis tipologi santri di rumah tahfidz di Kota Medan. Penelitian mengenai tipologi santri di Kota Medan penting untuk dilakukan karena beberapa alasan yang mendasar. Kota Medan sebagai salah satu kota besar di Indonesia memiliki masyarakat yang sangat beragam, baik dari segi sosial, ekonomi, budaya, maupun pendidikan. Keberagaman ini tentunya berpengaruh terhadap latar belakang dan karakteristik para santri yang belajar di Rumah Tahfidz [9].</p>
      <p id="_paragraph-11">Dasar menghafal Al-Qur’an dalam ajaran agama Islam bersumber dari Al-Qur’an itu sendiri serta sunah Nabi Muhammad SAW. Mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban bagi umat Islam. Meskipun Al-Qur’an dapat dipelajari sebagai bidang studi, prosesnya tidak hanya terbatas pada pemberian pengetahuan semata. Yang lebih penting adalah bagaimana Al-Qur’an berperan dalam membentuk, membina, dan mengembangkan pribadi seorang Muslim yang taat dalam ibadah kepada Allah serta mampu mengamalkan semua ajaran yang terkandung di dalamnya. Budaya tahfidz di Pondok Pesantren merupakan cara berfikir dan cara bertindak warga Pesantren yang didasarkan atas nilai-nilai (keberagaman).</p>
      <p id="_paragraph-12">Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir jumlah Rumah Tahfidz di Medan terus bertambah, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan tahfidzul Qur’an. Namun, di balik pertumbuhan ini, masih sedikit kajian yang secara khusus meneliti tipe atau karakter santri yang menempuh pendidikan di lembaga tersebut. Padahal, mengetahui tipologi santri sangat penting untuk membantu para pengelola dan membina Rumah Tahfidz dalam menyusun strategi pembinaan yang lebih tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing santri. Penelitian ini juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam nonformal di lingkungan perkotaan, serta menambah referensi ilmiah yang selama ini masih terbatas di bidang ini. Dengan memahami tipologi santri, diharapkan proses pendidikan di Rumah Tahfidz menjadi lebih efektif dan mampu melahirkan generasi menghafal Al-Qur’an yang berkualitas. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pendidikan yang lebih sesuai dengan karakteristik santri, sehingga tujuan pembelajaran Al-Qur'an dapat tercapai secara optimal [10].</p>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian ini memiliki kebaruan dalam dua hal utama. Pertama, fokusnya yang spesifik pada tipologi santri Rumah Tahfidz di Kota Medan, wilayah dengan keberagaman sosial dan pendidikan yang belum banyak dikaji dari perspektif karakter santri. Kedua, penggunaan pendekatan tipologi untuk mengklasifikasikan santri berdasarkan latar belakang dan lingkungan belajar, memberikan analisis yang lebih mendalam terhadap pengalaman pendidikan mereka. Tujuan utama studi multisitus adalah mencari kesamaaan pola, atau menghasilkan proposisi dan teori baru dari situs-situs yang ada.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-fe3743310a6b72cc34406abe486ac593">
      <title>
        <bold id="bold-e1db87eed1071acee27bbe6b8f7b57be">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi multisitus, karena bertujuan untuk memahami fenomena sosial dan karakteristik santri secara mendalam dalam konteks alami mereka, yaitu di lingkungan Rumah Tahfidz. Menurut Moleong [11]. penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainya secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah [12]. Studi ini dilaksanakan di dua lokasi yang dipilih secara purposive, yaitu Rumah Tahfidz Daarul Uswah dan Rumah Tahfidz Al-Munif di Kota Medan. Kedua lembaga ini dipilih karena memiliki latar belakang santri yang beragam, metode pengajaran tahfidz yang aktif, serta aksesibilitas yang memadai untuk keperluan observasi lapangan. Studi multisitus ini mengacu pada pendapat Bogdan dan Biklen, bahwa studi multisitus digunakan ketika peneliti ingin melihat pola yang serupa atau berbeda dari dua atau lebih lokasi yang memiliki konteks sosial dan institusional yang relatif sama.</p>
      <p id="_paragraph-16">Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi langsung dari santri, pengelola, dan guru tahfidz di kedua rumah tahfidz. Sementara data sekunder meliputi dokumen-dokumen resmi lembaga, buku profil, serta arsip kegiatan yang mendukung deskripsi konteks penelitian [13].</p>
      <p id="_paragraph-17">Teknik analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman, yang terdiri dari tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan cara memilih dan menyederhanakan informasi penting yang berkaitan langsung dengan tipologi santri. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk narasi dan matriks untuk mempermudah peneliti dalam menemukan pola, hubungan, atau makna. Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan pemahaman terhadap keseluruhan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis secara induktif [14].</p>
      <p id="_paragraph-18">Untuk memastikan keabsahan data, digunakan teknik triangulasi, baik triangulasi sumber (membandingkan data dari informan yang berbeda) maupun triangulasi metode (menggabungkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi). Menurut Patton , triangulasi penting untuk memperkuat validitas temuan dalam penelitian kualitatif. Selain itu, peneliti juga melakukan member check, yakni mengonfirmasi kembali data dan interpretasi hasil kepada informan untuk memastikan keakuratan informasi [15].</p>
      <p id="_paragraph-19">Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang utuh mengenai tipologi santri di Rumah Tahfidz di Kota Medan, serta memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan strategi pembelajaran tahfidz berbasis karakteristik santri [16].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-374fe6a4fa0f11f30cfdc2762d91ae85">
      <title>
        <bold id="bold-e0d44767e16c6d0c6f2c2a1659d08d6c">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-21">Penelitian ini menunjukkan bahwa tipologi santri di Rumah Tahfidz di Kota Medan sangat beragam dan dipengaruhi oleh latar belakang sosial, ekonomi, motivasi, serta sistem pembelajaran yang diterapkan di masing-masing lembaga. Rumah Tahfidz Daarul Uswah dan Rumah Tahfidz Al-Munif memiliki karakteristik kelembagaan dan pendekatan pembinaan yang berbeda, namun keduanya menunjukkan upaya serius dalam membentuk lingkungan pembelajaran tahfidz yang kondusif.</p>
      <p id="_paragraph-22">Di Rumah Tahfidz Daarul Uswah, santri dibagi menjadi dua program utama yaitu reguler dan takhossus. Santri reguler biasanya adalah mahasiswa atau pekerja yang mengikuti kegiatan tahfidz di sela aktivitas formal mereka, sedangkan santri takhossus tinggal di asrama dan fokus penuh pada hafalan. Program takhossus memiliki kontrol yang lebih ketat, seperti larangan penggunaan HP dan aktivitas luar, serta sistem setoran dan murajaah yang terjadwal. Karakter santri di lembaga ini mencerminkan tipologi santri mahasantri dan santri mukim yang menunjukkan kecenderungan tinggi dalam kedisiplinan, pengelolaan waktu, dan motivasi intrinsik.</p>
      <p id="_paragraph-23">Sementara itu, Rumah Tahfidz Al-Munif lebih menonjolkan sistem pembelajaran yang sistematis dan menyeluruh, memadukan metode talaqqi, evaluasi rutin, serta pembinaan akhlak. Tipologi santri yang dominan di sini adalah santri kalong dan santri profesional, yang datang di waktu tertentu untuk mengikuti pembelajaran. Meskipun tidak mukim, mereka tetap menunjukkan komitmen dalam menjaga target hafalan yang telah ditetapkan.</p>
      <p id="_paragraph-24">Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipologi santri dan faktor yang membentuknya. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, ditemukan bahwa latar belakang keluarga, tingkat pendidikan orang tua, kondisi ekonomi, serta budaya keagamaan sangat memengaruhi pola belajar dan karakter santri. Santri yang berasal dari keluarga dengan tradisi keagamaan kuat cenderung lebih cepat beradaptasi dengan ritme tahfidz, sedangkan mereka yang datang dari lingkungan yang minim penguatan religius memerlukan pendampingan lebih intensif.</p>
      <p id="_paragraph-25">Secara teoritik, keberagaman tipologi ini sesuai dengan pendekatan sosiologi pendidikan, di mana karakter individu dibentuk oleh interaksi antara faktor internal dan eksternal. Santri mukim dan takhossus cenderung membentuk karakter melalui pembiasaan dan pembinaan totalitas, selaras dengan pendekatan ta’dib dalam pendidikan Islam, sedangkan santri non-mukim dan profesional lebih mengandalkan motivasi pribadi dan fleksibilitas waktu, yang sesuai dengan prinsip andragogi dalam pendidikan orang dewasa.</p>
      <p id="_paragraph-26">Temuan ini mengindikasikan bahwa tipologi santri tidak hanya dipengaruhi oleh program lembaga, tetapi juga oleh kesiapan internal dan dukungan lingkungan luar. Oleh karena itu, keberhasilan pembinaan tahfidz sangat erat kaitannya dengan kemampuan lembaga dalam membaca karakter santri dan menyusun pendekatan pembelajaran yang sesuai.</p>
      <p id="_paragraph-27">Dengan demikian, kedua rumah tahfidz di Kota Medan yang menjadi lokasi penelitian telah menunjukkan bahwa pemahaman terhadap tipologi santri merupakan kunci dalam menyusun strategi pembinaan yang efektif. Baik pendekatan berbasis kedisiplinan mukim maupun fleksibilitas non-mukim dapat berhasil asalkan dibarengi dengan pendampingan yang konsisten, program yang jelas, dan suasana belajar yang mendukung perkembangan spiritual dan intelektual santri.</p>
      <sec id="heading-4e1b1891ff244d26771b693b38cd95a7">
        <title>A. Tipologi Santri Rumah Tahfidz Di Kota Medan</title>
        <p id="_paragraph-29">Dalam konteks penelitian ini, tipologi santri Rumah Tahfidz di Kota Medan menunjukkan adanya keberagaman karakteristik yang mencerminkan latar belakang sosial, akademik, serta spiritual masing-masing individu. Tipologi ini merujuk pada klasifikasi atau pengelompokan santri berdasarkan ciri khas yang dimiliki, seperti latar belakang pendidikan, motivasi menghafal Al-Qur’an, metode belajar, dan capaian hafalan. Berdasarkan hasil penelitian lapangan di dua lembaga tahfidz, yakni Rumah Tahfidz Daarul Uswah dan Rumah Tahfidz Al-Munif, ditemukan bahwa santri dapat dikategorikan ke dalam lima tipologi utama.</p>
        <p id="_paragraph-30">Pertama, santri akademis, yaitu mereka yang menjalani pendidikan formal di perguruan tinggi atau sekolah umum dan menjadikan rumah tahfidz sebagai tempat belajar tahfidz secara fleksibel. Mereka umumnya memiliki tingkat kemandirian dan kedisiplinan yang tinggi, serta mampu menyeimbangkan antara studi formal dan target hafalan. Kedua, santri hafalan cepat, yaitu santri dengan daya hafal tinggi namun kurang kuat dalam menjaga konsistensinya. Tipologi ini menunjukkan pentingnya peran pembimbing dalam memberikan penguatan melalui program muroja’ah yang intensif. Ketiga, santri komitmen tinggi, yaitu santri yang tidak memiliki kemampuan hafalan yang luar biasa cepat, tetapi menunjukkan konsistensi, kedisiplinan, dan semangat yang kuat dalam menghafal dan menjaga hafalannya. Mereka biasanya memiliki motivasi religius yang dalam serta dorongan kuat dari keluarga. Keempat, santri pemula berprogres, yaitu kelompok santri dari usia anak-anak dan remaja awal yang baru mengenal dunia tahfidz. Meskipun kemampuan awalnya terbatas, kelompok ini menunjukkan semangat tinggi dan berkembang secara bertahap, khususnya ketika mendapat motivasi dan bimbingan yang tepat dari pembina. Tipologi ini banyak dijumpai pada santri kelas sore dan malam di Rumah Tahfidz Al-Munif yang masih duduk di bangku TK, SD, atau SMP.</p>
        <p id="_paragraph-31">Kelima, santri religius-bertujuan sosial, yaitu santri dewasa yang memiliki niat kuat untuk menjaga hafalan mereka sebagai bentuk tanggung jawab spiritual dan sosial. Mereka biasanya sudah menyelesaikan pendidikan atau bekerja, namun tetap menghidupkan aktivitas tahfidz dalam rutinitas harian mereka. Tipologi ini erat kaitannya dengan cita-cita santri untuk menjadi pendakwah, guru, atau pribadi Qur’ani yang berkontribusi di masyarakat.</p>
        <p id="_paragraph-32">Keragaman tipologi ini memperlihatkan bahwa lembaga tahfidz tidak hanya dihuni oleh satu jenis santri, tetapi oleh individu-individu dengan latar belakang dan potensi yang sangat beragam. Dalam kajian psikologi pendidikan, perbedaan ini selaras dengan teori gaya belajar Kolb dan teori kecerdasan majemuk Gardner, di mana tiap individu memiliki pendekatan belajar yang berbeda dan harus dipahami agar proses pembinaan berjalan efektif. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tipologi santri ini penting untuk dijadikan landasan dalam menyusun strategi pembinaan yang sesuai, mulai dari pemilihan metode tahfidz, pola evaluasi, pendekatan psikologis, hingga pengelolaan waktu belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Keberagaman ini juga mengindikasikan bahwa lembaga tahfidz di Kota Medan telah menjadi ruang inklusif yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar Al-Qur’an, terlepas dari status pendidikan, pekerjaan, maupun usia.</p>
        <p id="_paragraph-33">Tipologi santri di Rumah Tahfidz Kota Medan menunjukkan bahwa tidak ada satu pola tunggal dalam pembinaan. Perbedaan karakter, latar belakang, dan motivasi melahirkan keragaman tipologi yang unik. Dengan mengenali tipologi ini, pembinaan dapat menjadi lebih efektif, personal, dan berdampak jangka panjang.</p>
        <p id="_paragraph-34" />
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Tipologi Santri Rumah Tahfidz Daarul Uswah</title>
            <p id="_paragraph-35" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-9dc51eb2e4da3823287b69233293c5b4">
                <th id="table-cell-059dcd11923d4df667f312741fcc0e07">No</th>
                <th id="table-cell-c3b8e5fe640ea4ee6a9f7b09782b1e91">Tipe Santri</th>
                <th id="table-cell-339e4acbce3a28627fae26a04491db97">Ciri Utama</th>
                <th id="table-cell-a5bd8d71acaff4422137a3c3683e55bf">Motivasi</th>
                <th id="table-cell-4cd3e80feb229e9cc34bf5c09445e7ea">Capaian Hafalan</th>
                <th id="table-cell-332d213d8abfce09aea774b0352cf1b5">Contoh Santri</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-e1bdfe01d65095c1f8ee8463b938d1d6">
                <td id="table-cell-a6aa93f4078668099c000364ba01f776">1</td>
                <td id="table-cell-897d67b8606086116ae49ab682b212c7">Semangat Tinggi</td>
                <td id="table-cell-3756665e594c57b51fdc623c98f5ffef">Aktif setor hafalanMelebihi targetMandiri &amp; disiplin</td>
                <td id="table-cell-711b7ac98b87f6d2a4d6c073bcb6129a">Tinggi (intrinsik dan dukungan keluarga)</td>
                <td id="table-cell-00e896cd851866f89502382c27d64dfb">&gt;½ halaman per hari, cepat ujian</td>
                <td id="table-cell-5e8aa024772b46c376d3ae59f878d3ce">Pepwi Jogiana HarahapLuthfiah Amri Rambe</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-50f434d6477dda511de49013ec2571c9">
                <td id="table-cell-a2ec216f24e0e8eb55a8178904333b1d">2</td>
                <td id="table-cell-fca5f1a2043e79e260f6f850697865e7">Semangat Standar</td>
                <td id="table-cell-db2e40f604c5e34bdca057f6f923e1d6">Konsisten, tapi biasa sajaMasih perlu dukungan dari lingkungan</td>
                <td id="table-cell-b74ddb74396ae6d95eb7eb1da3697a6a">Cukup (umumnya dari keluarga)</td>
                <td id="table-cell-e853f3cf91bf3e09b070599bea8d1027">±½ halaman per hari, ujian agak lambat</td>
                <td id="table-cell-affdfe323477504e4d02f41f40d79531">Sulha Yani</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-abd0a1469b3b6991a623007947e53967">
                <td id="table-cell-dd86b68fbd7bec2492e74f9faa4f1d8e">3</td>
                <td id="table-cell-03f9eba7ec3de75cc3473b21bee926cf">Semangat Rendah</td>
                <td id="table-cell-0d4913a4d07e4823d468fd2a925d9ebe">Sering absen tasmi’Tidak mencapai targetButuh intervensi</td>
                <td id="table-cell-d001f19a22344ce0da925a813abc2df7">Lemah, sering terganggu aktivitas luar</td>
                <td id="table-cell-9fa4c4118489540ee59ddb818890e006">&lt;1 juz dalam waktu lama, jarang tasmi’</td>
                <td id="table-cell-77913f4d1e36f51ff1299b02d8cfe0aa">Tidak disebutkan secara spesifik</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-36" />
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>Tipologi Santri Rumah Tahfidz Al-Munif</title>
            <p id="_paragraph-37" />
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-7844e50c1310bf3d7c1787680f52ad22">
                <th id="table-cell-245498e2c061f9fb16c95f0e46e0bfa4">No</th>
                <th id="table-cell-a8e1f1fe18381dabf799a01cec573a8b">Tipe Santri</th>
                <th id="table-cell-3c9afd0d4aeeedd091ca613097d4b735">Ciri Utama</th>
                <th id="table-cell-4a538718cc536ddc238ef3d4eb1e4396">Motivasi</th>
                <th id="table-cell-46e9348dac70121b9fa1cb58cf69efdd">Capaian Hafalan</th>
                <th id="table-cell-31ba19ca0fc82247ab90d3bc3ae1642c">Contoh Santri</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-c87d3ed8eae98c269ebba8b35d091619">
                <td id="table-cell-c5e5f5a44126bda3ff5b9dad62499604">1</td>
                <td id="table-cell-6fed6eba881db7d46c5f725e1ba43bbf">Mandiri dan Berdaya Juang Tinggi</td>
                <td id="table-cell-280d2bb763c3ce5e5771669ab7178ced">Memiliki motivasi internal kuat, mandiri dalam belajar dan menjaga hafalan</td>
                <td id="table-cell-56c7151122579c5843ec22bd1792ebff">Ingin menjadi pribadi lebih baik, wanita sholehah</td>
                <td id="table-cell-780cea4328bedcbe76c8224fa6a80211">Target 5 juz, juz 29–30, dan hafalan dari pondok sebelumnya</td>
                <td id="table-cell-49d060483f3bc1fff6e044730dd2a963">Ahsani Madina, Siti Rahmi</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-63691ee2c5fa30c05f7e35bd74450255">
                <td id="table-cell-490e0dce07b28632520a0399172bb18f">2</td>
                <td id="table-cell-aa365e65ab544e9e854e06f5275e0529">Tumbuh dalam Lingkungan Positif dan Religius</td>
                <td id="table-cell-0c7701f33f8112afe0a7203e7aaae1c2">Merasa nyaman di lingkungan religius, ustadzah ramah, suasana kondusif</td>
                <td id="table-cell-2822fcd091cdce1fc48039812ffeea03">Merasa nyaman, ingin tetap terjaga dan berkembang</td>
                <td id="table-cell-1fbfc102e19dc7bdfc85f8395dc296db">Hafalan dari pondok sebelumnya dan tambahan juz 30</td>
                <td id="table-cell-f0d35ed0c27bf1ae149618030c81538b">Nisa Ulpina Lubis, Haniyatul Abrari</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-af2cf69ac6cad29fc11cf99e4771f456">
                <td id="table-cell-0d95db3bd28a896cb916dfef4106b3ca">3</td>
                <td id="table-cell-1c2ed741c4a4837620495613421c740c">Disiplin tapi Butuh Pendampingan Emosional</td>
                <td id="table-cell-c36c8a1b425437154b0c8ebdb8cdfd39">Teratur dalam muraja’ah, namun rentan jenuh dan mengalami penurunan semangat</td>
                <td id="table-cell-e082adcd25b3f8fc237664e78c589c09">Ingin menjaga hafalan, membahagiakan orang tua</td>
                <td id="table-cell-c48f074cb4cf2ed61847e578d513c4e6">Progres bertahap, fokus memperkuat dan mengulang hafalan</td>
                <td id="table-cell-d3f4d19c9e66f57e41204c060633a7ff">Haniyatul Abrari, Ahsani Madina</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-2835e769792d8c4567f15d128aa35c70">
                <td id="table-cell-a25fb31f5115b90a202187e287c586a8">4</td>
                <td id="table-cell-a9a48f3b83ea222e9ce00a2ed866486b">Didukung Kuat oleh Keluarga</td>
                <td id="table-cell-f37f3fb3cefeaea2ab1f6dd814079902">Orang tua aktif mendukung dan memantau hafalan anak melalui grup evaluasi</td>
                <td id="table-cell-68e7e7a9aba70c7bb4edafc3aa8f6004">Didorong keluarga dan ingin menjaga amanah hafalan</td>
                <td id="table-cell-165b272fb6d25ed8c4ee8f1d7616ecb4">Hafalan 1–5 juz, juz 30, atau target 30 juz</td>
                <td id="table-cell-3586553b310500ba3602155e41a81a6e">Nisa Ulpina, Haniyatul, Siti Rahmi</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-00043f9865f7c4ab8bf82aadc06134fa">
                <td id="table-cell-5de79f1a09a36b944dc6cb82e12ee52c">5</td>
                <td id="table-cell-34dec81c9d6afaaa2b780587c06246d7">Multitasking (Kuliah/Bekerja &amp; Tahfidz)</td>
                <td id="table-cell-af88f26ab2e8c42fdc6ea188695fde8b">Mampu mengatur waktu kuliah/kerja dengan tahfidz, menghindari bentrok jadwal</td>
                <td id="table-cell-be79b99aeb059989bc93f5d351be1cb0">Ingin tetap produktif secara akademik dan spiritual</td>
                <td id="table-cell-0f1ef5c85d640ab457e3f0cc43548862">Fokus muraja’ah, tidak terbebani target ketat</td>
                <td id="table-cell-4b6b4463b44e7b3f7c7b89fe127755c0">Siti Rahmi, Haniyatul Abrari</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
      </sec>
      <sec id="heading-1fb13023b4847649581eda62a65879e8">
        <title>B. Faktor Yang Memengaruhi Keberagaman Tipologi Santri</title>
        <p id="_paragraph-39">Keberagaman tipologi santri di Rumah Tahfidz di Kota Medan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi dan membentuk karakter serta kecenderungan belajar masing-masing individu. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Tahfidz Daarul Uswah dan Rumah Tahfidz Al-Munif, dapat disimpulkan bahwa terdapat sejumlah faktor dominan yang memengaruhi keberagaman tipologi santri, antara lain motivasi internal dan eksternal, latar belakang pendidikan, dukungan keluarga, lingkungan sosial, serta ketersediaan fasilitas dan metode pembinaan di masing-masing lembaga. Faktor motivasi internal, seperti keinginan menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi hafidzah, atau memperoleh syafa’at di akhirat, berperan penting dalam membentuk karakter santri yang tekun dan istiqamah. Sementara itu, motivasi eksternal, seperti dorongan dari orang tua, guru, teman sebaya, atau lingkungan pesantren sebelumnya, juga sangat berpengaruh terhadap semangat dan konsistensi mereka dalam menghafal.</p>
        <p id="_paragraph-40">Selain itu, latar belakang pendidikan juga berkontribusi terhadap perbedaan gaya belajar dan capaian hafalan. Santri yang berasal dari latar belakang pesantren umumnya memiliki kemampuan dasar tahsin dan hafalan yang lebih baik, serta lebih terbiasa dengan kedisiplinan waktu belajar, dibandingkan santri yang baru memulai dari nol. Dukungan keluarga, terutama peran orang tua, sangat menentukan keberhasilan santri. Santri yang mendapat dukungan penuh dari keluarga, seperti pemantauan hafalan, komunikasi rutin dengan pengelola tahfidz, atau pemberian fasilitas yang mendukung (seperti mushaf, tempat belajar yang kondusif), cenderung lebih termotivasi dan stabil secara emosional. Lingkungan sosial di rumah tahfidz juga menjadi faktor penting santri yang berada di lingkungan yang positif, kompetitif, saling memotivasi, dan jauh dari gangguan negatif seperti pacaran atau kebiasaan begadang tanpa tujuan, menunjukkan perkembangan hafalan yang signifikan.</p>
        <p id="_paragraph-41">Dalam perspektif pendidikan Islam, keberagaman ini sejalan dengan prinsip at-tafawut (perbedaan kemampuan) yang merupakan sunatullah dalam penciptaan manusia. Setiap individu memiliki kecenderungan dan potensi yang unik, sehingga dalam pembinaannya, diperlukan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakter santri. Hal ini juga didukung oleh teori diferensiasi pembelajaran (differentiated instruction) yang dikemukakan oleh Carol Ann Tomlinson, yang menyatakan bahwa guru atau pembina harus menyesuaikan pendekatan pengajaran berdasarkan kebutuhan, kesiapan, dan minat siswa agar hasil belajar optimal. Oleh karena itu, Rumah Tahfidz yang adaptif terhadap keberagaman faktor-faktor ini cenderung mampu melahirkan santri dengan tipologi yang positif dan kuat. Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi keberagaman tipologi santri, pengelola rumah tahfidz dapat mengembangkan sistem pembinaan yang lebih personal, manusiawi, dan berorientasi pada kemajuan setiap individu, bukan hanya sebatas target hafalan semata.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-db42ad18b542a3704a4c9f834a89c339">
        <title>C. Latar Belakang Sosial-Ekonomi Santri Rumah Tahfidz Di Kota Medan</title>
        <p id="_paragraph-43">Latar belakang sosial-ekonomi santri terbukti memainkan peran signifikan dalam membentuk karakteristik tipologi mereka di Rumah Tahfidz. Hasil penelitian yang dilakukan di dua lembaga, yakni Rumah Tahfidz Daarul Uswah dan Al-Munif, menunjukkan bahwa santri datang dari beragam kondisi ekonomi dan sosial keluarga—mulai dari kalangan menengah ke atas hingga yang sederhana, serta dari latar pendidikan formal yang berbeda seperti pesantren, sekolah umum, maupun perguruan tinggi. Santri dari keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, misalnya, cenderung memiliki motivasi yang tinggi untuk memanfaatkan keberadaan rumah tahfidz sebagai tempat tinggal sekaligus tempat pembinaan diri. Hal ini karena mereka melihat rumah tahfidz tidak hanya sebagai wadah spiritual, tetapi juga sebagai solusi ekonomi dan lingkungan sosial yang positif selama merantau atau kuliah. Mereka umumnya menunjukkan semangat belajar yang tinggi, kedisiplinan, serta ketahanan mental yang kuat karena terbiasa hidup sederhana dan bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri.</p>
        <p id="_paragraph-44">Di sisi lain, santri dari keluarga ekonomi lebih mapan sering kali memiliki fasilitas belajar yang lebih baik, seperti gawai, buku-buku tambahan, dan dukungan transportasi, namun tidak semua menunjukkan semangat yang sama kuat. Beberapa santri dari latar ini lebih banyak bergantung pada pengasuh atau sistem di rumah tahfidz, dan cenderung memiliki gaya belajar yang lebih individualistis. Sementara itu, santri yang berasal dari keluarga agamis dan berlatar belakang pesantren umumnya telah terbiasa dengan kultur disiplin dan pembiasaan ibadah, sehingga lebih cepat beradaptasi dengan ritme kegiatan tahfidz dan memperlihatkan kemampuan manajemen waktu yang baik antara pendidikan formal dan tahfidz.</p>
        <p id="_paragraph-45">Dalam kajian sosiologi pendidikan Islam, kondisi sosial-ekonomi peserta didik sangat mempengaruhi gaya belajar, nilai-nilai yang dibawa ke dalam lembaga pendidikan, serta tingkat partisipasi dalam kegiatan keagamaan. Teori cultural capital dari Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa latar belakang keluarga membawa “modal budaya” yang dapat memperkuat atau melemahkan proses pendidikan seseorang. Dalam konteks ini, santri dari keluarga dengan kebiasaan religius yang kuat dan pendidikan tinggi cenderung memiliki “modal budaya” yang mendukung proses tahfidz mereka. Namun demikian, keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghambat, melainkan bisa menjadi pemacu semangat, tergantung pada sejauh mana individu memaknai tantangan sebagai motivasi diri.</p>
        <p id="_paragraph-46">Oleh karena itu, tipologi santri di Rumah Tahfidz tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial-ekonomi yang mereka bawa. Santri yang tangguh, tekun, dan berprestasi sering kali bukan hanya karena cerdas atau memiliki latar pesantren, tetapi karena adanya kesadaran personal, motivasi religius, dan daya lenting (resilience) yang terbentuk dari realitas kehidupan sosial-ekonomi yang mereka hadapi. Dengan memahami faktor ini, pihak pengelola rumah tahfidz dapat menyusun strategi pembinaan yang lebih inklusif dan adaptif, sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang masing-masing santri.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-0390eabc9b42609b0ae1ff4620573970">
      <title>
        <bold id="bold-6e269cecb8059a98cd5cbdec3c35efcd">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-48">Latar belakang sosial-ekonomi santri terbukti memainkan peran signifikan dalam membentuk karakteristik tipologi mereka di Rumah Tahfidz. Hasil penelitian yang dilakukan di dua lembaga, yakni Rumah Tahfidz Daarul Uswah dan Al-Munif, menunjukkan bahwa santri datang dari beragam kondisi ekonomi dan sosial keluarga mulai dari kalangan menengah ke atas hingga yang sederhana, serta dari latar pendidikan formal yang berbeda seperti pesantren, sekolah umum, maupun perguruan tinggi. Santri dari keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, misalnya, cenderung memiliki motivasi yang tinggi untuk memanfaatkan keberadaan rumah tahfidz sebagai tempat tinggal sekaligus tempat pembinaan diri. Hal ini karena mereka melihat rumah tahfidz tidak hanya sebagai wadah spiritual, tetapi juga sebagai solusi ekonomi dan lingkungan sosial yang positif selama merantau atau kuliah. Mereka umumnya menunjukkan semangat belajar yang tinggi, kedisiplinan, serta ketahanan mental yang kuat karena terbiasa hidup sederhana dan bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri.</p>
      <p id="_paragraph-49">Di sisi lain, santri dari keluarga ekonomi lebih mapan sering kali memiliki fasilitas belajar yang lebih baik, seperti gawai, buku-buku tambahan, dan dukungan transportasi, namun tidak semua menunjukkan semangat yang sama kuat. Beberapa santri dari latar ini lebih banyak bergantung pada pengasuh atau sistem di rumah tahfidz, dan cenderung memiliki gaya belajar yang lebih individualistis. Sementara itu, santri yang berasal dari keluarga agamis dan berlatar belakang pesantren umumnya telah terbiasa dengan kultur disiplin dan pembiasaan ibadah, sehingga lebih cepat beradaptasi dengan ritme kegiatan tahfidz dan memperlihatkan kemampuan manajemen waktu yang baik antara pendidikan formal dan tahfidz.</p>
      <p id="_paragraph-50">Dalam kajian sosiologi pendidikan Islam, kondisi sosial-ekonomi peserta didik sangat mempengaruhi gaya belajar, nilai-nilai yang dibawa ke dalam lembaga pendidikan, serta tingkat partisipasi dalam kegiatan keagamaan. Teori cultural capital dari Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa latar belakang keluarga membawa “modal budaya” yang dapat memperkuat atau melemahkan proses pendidikan seseorang. Dalam konteks ini, santri dari keluarga dengan kebiasaan religius yang kuat dan pendidikan tinggi cenderung memiliki “modal budaya” yang mendukung proses tahfidz mereka. Namun demikian, keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghambat, melainkan bisa menjadi pemacu semangat, tergantung pada sejauh mana individu memaknai tantangan sebagai motivasi diri.</p>
      <p id="_paragraph-51">Oleh karena itu, tipologi santri di Rumah Tahfidz tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial-ekonomi yang mereka bawa. Santri yang tangguh, tekun, dan berprestasi sering kali bukan hanya karena cerdas atau memiliki latar pesantren, tetapi karena adanya kesadaran personal, motivasi religius, dan daya lenting (resilience) yang terbentuk dari realitas kehidupan sosial-ekonomi yang mereka hadapi. Dengan memahami faktor ini, pihak pengelola rumah tahfidz dapat menyusun strategi pembinaan yang lebih inklusif dan adaptif, sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang masing-masing santri.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>